TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Rahina Buda Cemeng Klawu, Makna, Tradisi, dan Pemujaan Ida Bhatara Rambut Sedana

👤 Ngurah Ambara | InfoDewataNews    ðŸ•’ Rabu, Agustus 20, 2025
Gambar Utama


Seorang wanita Bali mengenakan kebaya putih duduk khusyuk bersembahyang di depan pura, saat peringatan Rahina Buda Cemeng Klawu.
(Visual Ambara/InfoDewataNews)


INFODEWATANEWS.COM – Umat Hindu di Bali kembali memperingati hari suci Rahina Buda Cemeng Klawu atau dikenal juga dengan sebutan Buda Wage Klawu, Rabu (20/8/2025). Hari ini merupakan momen khusus bagi umat Hindu untuk memuja Ida Bhatara Rambut Sedana, yang dalam tradisi keagamaan diyakini sebagai manifestasi Tuhan dalam wujud Dewi Laksmi, pemberi kemakmuran dan kesejahteraan hidup.

Rahina Buda Cemeng Klawu jatuh pada hari Rabu Wage wuku Klawu dalam kalender Saka-Bali. Perayaan ini berlangsung setiap 210 hari atau enam bulan sekali. Sejak lama, umat Hindu Bali menempatkan peringatan ini sebagai hari penting, terutama bagi mereka yang berkaitan dengan kegiatan perdagangan dan perekonomian.

Makna Spiritual dan Pemujaan kepada Dewi Laksmi

Dalam kepercayaan Umat Hindu Bali meyakini Ida Bhatari Rambut Sedana atau Dewi Laksmi sedang melakukan yoga Semadi. Umat Hindu Bali mempercayai juga pada hari ini tidak diperbolehkan menggunakan uang untuk hal-hal yang sifatnya tidak kembali berupa wujud barang, misalnya membayar hutang, menagih hutang atau menabung. karena dipercaya uang atau kekayaan tersebut nantinya tidak dapat kembali selamanya dan menghilang oleh sifat tamak atau serakah kita sebagai manusia. 

Dikalangan masyarakat bali hingga kini masih dipegang kuat tradisi pantangan bertransaksi menggunakan uang saat hari buda wage klawu. puasa uang dalam sehari dimagsudkan untuk mengingatkan kita hakekat uang sebetulnya sebagai  alat tukar dalam memudahkan menjalani  hidup dalam kehidupan.

sebagai manusia kita harus mampu untuk mengendalikan diri dan mengekang hawa nafsu. selain itu menjadi paham bahwa uang bukan segalanya karena diatas segala galanya masih ada kuasa tuhan yang mengatur semua itu.

Pesan dari Kakawin Nitisastra

Salah satu sumber susastra Hindu yang kerap dikutip pada peringatan ini adalah Kakawin Nitisastra IV.7. Dalam teks kuno itu disebutkan:

Singgih yan menekan yuganta kali tan hana lewiha sakeng mahadhana. Tan waktan guna sura pandita widagdha pada mengayap ring dhaneswara.

Artinya: “Apabila zaman Kali sudah datang, tidak ada yang lebih bernilai selain uang. Bahkan ilmuwan, orang suci, dan penguasa pun menjadi pelayan orang kaya.”

Makna yang terkandung di dalamnya menegaskan bahwa uang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan, namun nilainya akan bergantung pada bagaimana manusia memanfaatkannya. Bila harta diposisikan sebagai tujuan utama, ia bisa menjerumuskan. Tetapi bila dipandang sebagai sarana, ia dapat menjadi jalan menuju kebajikan.

Tradisi di Lingkungan Usaha

Perayaan Buda Cemeng Klawu tidak hanya dilakukan di rumah tangga umat Hindu, melainkan juga di berbagai tempat usaha. Mulai dari pedagang di pasar tradisional, pemilik warung dan restoran, pelaku jasa keuangan, bengkel, hingga perusahaan besar, semua melaksanakan persembahan khusus pada hari ini.

Di setiap tempat yang menjadi pusat penyimpanan uang atau harta, seperti laci kasir, brankas, hingga meja kerja, umat menyiapkan banten atau sesajen khusus. Tujuannya adalah menghaturkan sembah bhakti kepada Ida Bhatara Rambut Sedana sekaligus sebagai bentuk rasa syukur atas rejeki yang diberikan.

Tradisi ini juga diyakini dapat menjaga kelancaran usaha, sekaligus sebagai pengingat agar setiap pelaku ekonomi tidak terjebak dalam sifat tamak atau serakah.

Pesan Moral dan Relevansi di Era Modern

Perayaan Buda Cemeng Klawu mengajarkan umat Hindu Bali untuk senantiasa menempatkan harta pada posisi yang tepat. Uang hanyalah sarana untuk hidup yang sejahtera, bukan tujuan utama yang harus dikejar tanpa batas.

Di tengah perkembangan zaman, ajaran ini menjadi semakin relevan. Modernisasi dan globalisasi seringkali membuat manusia terjebak dalam materialisme. Buda Cemeng Klawu hadir untuk meneguhkan kembali nilai-nilai spiritual bahwa kesejahteraan sejati tidak hanya diukur dari banyaknya harta, melainkan juga dari kemampuan menggunakannya untuk kebaikan.

Dengan spirit itu, perayaan Buda Cemeng Klawu bukan sekadar ritual, melainkan momentum reflektif. Umat Hindu Bali diajak untuk mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa, menjaga keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani, serta mengelola kekayaan sebagai jalan menuju dharma.

Melalui persembahan dan doa yang dilakukan di rumah, pura, hingga tempat usaha, umat Hindu Bali berharap mendapat anugerah kemakmuran yang berkesinambungan, serta kekuatan untuk menggunakan rejeki dengan penuh kebijaksanaan.

Dengan demikian, Buda Cemeng Klawu bukan hanya hari pemujaan, tetapi juga pengingat penting bahwa kesejahteraan sejati terletak pada keseimbangan antara harta dan dharma, antara duniawi dan spiritual.

0Komentar

Copyright© - INFODEWATANEWS.COM . Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami