INFODEWATANEWS.COM – Dalam ajaran Hindu, kematian bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan pintu menuju kelahiran baru. Di balik keseimbangan hidup dan mati itu, dikenal sosok agung penjaga hukum karma dan keadilan semesta — Dewa Yama, sang penguasa alam kematian. Namun, perjalanan Yama hingga mencapai kedudukan itu tidak terjadi begitu saja. Ia harus melewati ujian berat, penderitaan, dan tapa brata panjang yang mengubah takdirnya.
Menurut kitab Purana, Yama adalah putra Dewa Surya, sang dewa matahari, dan Dewi Saranya, putri dari Wiswakarma, arsitek para dewa. Ia memiliki saudara kembar bernama Dewi Yamuna, dewi sungai suci Yamuna, serta kakak bernama Waiwaswata Manu, yang dikenal sebagai leluhur manusia pertama.
Namun kisah hidup Yama muda tidak selalu berjalan mulus. Setelah ibunya meninggalkan kahyangan, Dewa Surya menikah lagi dengan Dewi Caya. Karena kasih sayangnya lebih condong kepada anak kandungnya sendiri, Yama yang merasa disisihkan sempat menendang kaki ibu tirinya. Akibat tindakan itu, ia dikutuk agar kakinya digerogoti oleh cacing hingga bernanah dan berdarah — kutukan yang menimbulkan penderitaan panjang.
Melihat derita putranya, Dewa Surya memberikan seekor burung suci untuk memakan cacing-cacing tersebut, agar rasa sakitnya berkurang. Namun Yama menyadari bahwa kutukan itu bukan sekadar hukuman, melainkan ujian bagi jiwanya. Dalam penyesalan dan kerendahan hati, ia memutuskan untuk melakukan pertapaan dan memohon pengampunan kepada para dewa.
Perjalanannya membawanya ke Gokarna, tempat suci yang dikenal sebagai pusat tapa dan pemujaan. Di sana, Yama melakukan tapa brata yoga semadi selama ribuan tahun, menahan lapar, dahaga, dan penderitaan fisik. Kesungguhan dan kesucian niatnya akhirnya membuahkan hasil: Yama mencapai tingkat kesadaran tinggi dan dianugerahi kedudukan agung sebagai penguasa alam kematian dan penjaga hukum semesta.
Sejak saat itu, Yama memegang tanggung jawab besar untuk mengadili roh manusia setelah meninggal dunia. Ia dikenal dengan sebutan lain Dharmaraja, “raja kebenaran,” karena menegakkan keadilan berdasarkan catatan karma setiap makhluk. Setiap amal baik dan perbuatan buruk akan ditimbang secara seimbang di hadapannya.
Dalam ikonografi Hindu, Yama digambarkan sebagai sosok berkulit kebiruan, gagah, dan berwibawa. Ia menunggangi kerbau hitam besar, membawa gada dan tali jerat sebagai lambang kekuasaan atas kehidupan dan kematian. Dua ekor anjing bermata empat menjadi pengawalnya yang setia, menuntun setiap roh yang baru meninggal menuju pengadilan karma di alam Yama.
Bagi roh yang semasa hidupnya penuh kebajikan, Yama menampakkan diri dengan wajah lembut, memancarkan cahaya kebajikan dan ketenangan. Namun bagi mereka yang tenggelam dalam dosa dan keangkaramurkaan, Yama hadir dengan wujud menakutkan — bermata menyala, bersuara menggetarkan, dan rambut seperti kobaran api. Semua itu menggambarkan sifat dualitasnya sebagai pelindung sekaligus pengadil jagat raya.
Kisah Dewa Yama mengajarkan manusia tentang keadilan kosmis dan tanggung jawab moral. Setiap perbuatan akan berbuah, dan tidak ada satu pun yang luput dari catatan semesta. Ia mengingatkan umat untuk hidup dalam kebajikan, sebab kematian hanyalah transisi menuju kehidupan berikutnya.
Dari seorang putra dewa yang dikutuk, Yama berubah menjadi penjaga keseimbangan jagat raya. Dari penderitaan, ia menemukan kebijaksanaan. Dari kutukan, lahirlah tugas suci yang membuatnya abadi dalam peran sebagai penjaga gerbang antara dunia dan keabadian.
Penulis: Ngurah Ambara
Editor: Redaksi

0Komentar