![]() |
| Penjor Galungan ditancapkan di depan pekarangan rumah umat Hindu Bali sebagai simbol kemenangan dharma dan ungkapan bhakti kepada Hyang Widhi Wasa. (Ist/InfoDewataNews) |
INFODEWATANEWS.COM - Umat Hindu Bali akan merayakan Hari Raya Suci Galungan pada Rabu. Hari raya yang datang setiap 210 hari berdasarkan perhitungan kalender Bali, yaitu pada Budha Kliwon Dungulan, selalu identik dengan tradisi memenjor. Tiang bambu melengkung yang berdiri tegak di depan pekarangan rumah ini menjadi simbol yang tak pernah terpisahkan dari suasana Galungan.
Tujuan pemasangan penjor sebagai swadharma umat Hindu adalah wujud bhakti dan rasa terima kasih kehadapan Hyang Widhi Wasa dalam prabawa-Nya sebagai Hyang Giripati. Melalui penjor, umat mempersembahkan rasa syukur atas kemakmuran, keberkahan, dan kesejahteraan hidup. Menurut penjelasan Pemkab Buleleng, penjor idealnya dipasang pada hari Anggara Wage Wara Dungulan—sehari sebelum Galungan—setelah umat menghaturkan banten Penampahan Galungan.
Hari Penampahan memiliki makna sakral karena menjadi momen penyucian diri sekaligus pengendalian unsur bhuta kala yang melekat pada diri manusia. Ketika umat selesai melaksanakan upacara Penampahan, pikiran dan batin diharapkan telah melalui proses penyelarasan. Pada saat inilah penjor boleh ditegakkan, bukan sekadar sebagai hiasan, tetapi sebagai lambang bahwa penyucian diri telah dilakukan secara niskala.
Penjor yang dipasang pada Penampahan juga menjadi tanda kesiapan umat menyambut kehadiran para leluhur pada hari Galungan. Karena itu, unsur-unsur penjor—janur, ambu, plawa, dan hiasan putih-kuning—harus masih segar, harum, dan suci. Bila dipasang terlalu jauh sebelum Penampahan, kesegaran unsur persembahan ini berkurang dan maknanya menjadi tidak sempurna. Penjor adalah bagian dari Dewa Yadnya; ia bukan dekorasi, melainkan persembahan suci yang memiliki struktur dan makna filosofi yang telah diwariskan sejak lama.
Secara tradisi, penjor juga memuat hasil bumi sebagai simbol kesejahteraan dan hubungan manusia dengan alam. Setiap elemen, seperti kelapa, pala bungkah, pala gantung, tebu, jaja, serta janur, menandai keharmonisan unsur dewa dan alam semesta. Penjor bukan semata bambu yang dibengkokkan, namun gambaran kosmologi Bali tentang gunung, kemakmuran, dan sumber kehidupan.
Di era modern, sebagian masyarakat memilih memasang penjor lebih awal karena alasan teknis atau kesibukan. Namun secara tattwa, pemasangan pada hari Penampahan tetap menjadi yang paling utama. Waktu ini menyimbolkan kesiapan batin manusia. Penjor yang berdiri setelah upacara Penampahan adalah pertanda bahwa manusia telah menaklukkan sifat-sifat negatif—keserakahan, kemarahan, kegelapan hati, dan ego.
Dalam perspektif yang lebih luas, penjor juga dipandang sebagai simbol Naga Basuki, lambang kesejahteraan, kemakmuran, dan penjaga keseimbangan alam. Bagi umat Hindu Bali, penjor menggambarkan gunung yang suci dan menjadi sumber segala kehidupan. Karena itu, penjor seyogianya dipasang tepat pada hari Penampahan Galungan setelah lewat tengah hari.
Waktu ini dipilih bukan tanpa alasan, melainkan sebagai penegasan bahwa proses “perang batin”—perjuangan melawan pikiran kotor, kecenderungan negatif, dan ego—telah dilalui. Ketika manusia berhasil mengalahkan sifat-sifat tersebut, penjor ditegakkan sebagai simbol nyata dari kemenangan dharma dalam diri.
Makna kemenangan inilah yang menjadi inti dari pemasangan penjor pada Penampahan. Penjor tidak hanya memperindah suasana desa atau kota, tetapi berdiri sebagai tanda bahwa manusia telah menata kembali pikirannya, membersihkan hatinya, dan siap menyambut energi suci Hari Raya Galungan dengan penuh kesadaran dan ketulusan.
Penulis: Ngurah Ambara | Editor: Redaksi InfoDewataNews

0Komentar