![]() |
Seorang wanita Bali khusyuk dalam sembahyang saat pelaksanaan Sugihan Bali, simbol penyucian diri menjelang Hari Raya Galungan. (Visual AI Ambara/InfoDewataNews) |
INFODEWATANEWS.COM, DENPASAR – Menjelang datangnya Hari Raya Galungan dan Kuningan, umat Hindu di Bali memasuki suasana yang kental dengan nuansa penyucian. Alam seakan ikut bersiap, udara terasa lebih teduh, dan aroma dupa mulai semerbak di setiap pekarangan rumah. Dua hari penting yang menandai masa ini adalah Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, dua ritual sakral yang memiliki makna mendalam tentang keseimbangan antara alam dan diri.
Makna dan Akar Kata Sugihan Jawa
Dalam pemahaman masyarakat Bali, kata Sugihan berasal dari “sugi” yang berarti membersihkan. Sedangkan “Jawa” diartikan sebagai luar. Maka, Sugihan Jawa dimaknai sebagai pembersihan Bhuana Agung — alam semesta beserta isinya.
Berdasarkan lontar Sundarigama, Sugihan Jawa disebut pesucian dewa kalinggama pamrastista bhatara kabeh, yang berarti hari penyucian bagi para dewa. Di hari inilah, umat melaksanakan berbagai upacara untuk membersihkan tempat-tempat suci, lingkungan sekitar, hingga pelinggih yang menjadi stana Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Kegiatan seperti ngererata (membersihkan halaman pura) atau mabulung (merabas rumput liar di sekitar tempat suci) dilakukan dengan semangat ngayah. Namun pembersihan ini tak sekadar aktivitas fisik. Ia adalah simbol penyucian energi alam — membersihkan unsur niskala agar harmoni semesta tetap terjaga.
Melalui banten pengerebuan dan prayascita, umat memohon agar alam kembali seimbang, dan para Dewa yang berstana di kahyangan berkenan menurunkan sinar suci-Nya untuk menuntun kehidupan.
Sugihan Bali: Menyucikan Diri, Lahir dan Batin
Berbeda dari Sugihan Jawa, Sugihan Bali berfokus pada penyucian Bhuana Alit — yaitu diri manusia itu sendiri. Kata “Bali” berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti kekuatan atau kekuatan dalam diri. Maka, Sugihan Bali menjadi momentum penyucian lahir dan batin, mengembalikan kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Lontar Sundarigama menjelaskan, Sugihan Bali bermakna kalinggania amrestista raga tawulan — menyucikan raga jasmani dan rohani. Pada hari ini, umat melakukan penglukatan, yaitu ritual pembersihan diri menggunakan tirta (air suci) yang biasanya disertai bungkak nyuh gading sebagai sarana simbolik.
Air kelapa gading melambangkan kesucian dan kesejukan hati. Melalui prosesi penglukatan ini, umat diharapkan mampu menanggalkan segala kekotoran batin, melebur kesombongan, dan menumbuhkan kembali ketulusan dalam diri.
Rangkaian Menuju Galungan
Kedua upacara ini merupakan bagian dari rangkaian panjang menuju Hari Raya Galungan, yang dimulai sejak Tumpek Wariga (Saniscara Kliwon Wuku Wariga) — 25 hari sebelum Galungan.
Secara kalender Bali, Sugihan Jawa jatuh pada Wraspati (Kamis) Wage Wuku Sungsang, sedangkan Sugihan Bali dilaksanakan sehari setelahnya, yaitu Jumat Kliwon Wuku Sungsang.
Setiap keluarga biasanya sudah sibuk mempersiapkan sarana upakara, membersihkan lingkungan rumah, serta menghaturkan canang di pelinggih keluarga. Suasana desa menjadi hidup. Di udara terasa harmoni antara gotong royong, ketulusan, dan keheningan batin. Semua itu adalah bagian dari perjalanan spiritual untuk menyambut datangnya hari kemenangan dharma melawan adharma.
Harmoni Antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit
Secara filosofis, Sugihan Jawa dan Sugihan Bali adalah dua sisi dari satu kesatuan makna besar. Sugihan Jawa menata kesucian alam (makrokosmos), sementara Sugihan Bali menata kesucian diri manusia (mikrokosmos). Keduanya mengajarkan keseimbangan, sebab manusia dan alam tak pernah terpisahkan. Alam yang bersih akan memancarkan kesejukan, dan hati yang bersih akan menumbuhkan kedamaian.
Melalui dua hari suci ini, umat Hindu di Bali diajak untuk kembali menyadari hakikat keseimbangan hidup. Membersihkan bukan hanya sekadar menyapu halaman, tetapi juga menyapu hati dari amarah, iri, dan kebencian. Sebab hanya dalam kebersihan lahir dan batinlah, Galungan — hari kemenangan cahaya atas kegelapan — dapat benar-benar dirasakan.

0Komentar