![]() |
| Pengantin Bali dalam upacara nyentana, di mana pria menikah dengan masuk ke garis keturunan keluarga perempuan Ilustrasi Visual: AI Ambara / InfoDewataNews |
INFODEWATANEWS.COM - Dalam keragaman adat dan tradisi Bali, terdapat satu sistem perkawinan unik yang memperlihatkan fleksibilitas nilai sosial masyarakatnya, yakni nyentana. Berbeda dari sistem perkawinan pada umumnya, dalam tradisi ini pihak laki-laki justru masuk ke keluarga perempuan dan menjadi bagian dari garis keturunan istrinya.
Secara sederhana, nyentana adalah bentuk perkawinan adat Bali di mana seorang pria tinggal di rumah keluarga istrinya, melepaskan ikatan adat dari keluarga asal, serta melanjutkan marga dan keturunan keluarga perempuan. Sistem ini biasanya terjadi ketika satu keluarga tidak memiliki anak laki-laki dan membutuhkan penerus untuk menjaga garis keturunan, warisan, serta kewajiban adat.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya Bali mampu menghadirkan keseimbangantidak hanya menempatkan laki-laki sebagai pewaris, tetapi juga memberikan ruang kehormatan bagi perempuan sebagai penerus keluarga.
Pengertian Nyentana
Dalam adat Bali, perkawinan biasa disebut mapadik, di mana perempuan mengikuti keluarga suami. Namun dalam nyentana berlaku sebaliknya:
Dalam adat Bali, perkawinan biasa disebut mapadik, di mana perempuan mengikuti keluarga suami. Namun dalam nyentana berlaku sebaliknya:
- Suami masuk dan menjadi bagian keluarga istri. Ia dianggap seperti anak kandung dalam keluarga istrinya.
- Suami melepaskan status adat dari keluarga asal. Secara adat, ia tidak lagi memiliki kewajiban di rumah asalnya.
- Keturunan mengikuti garis perempuan. Anak-anak mengambil marga istri, bukan ayahnya.
- Istri berstatus sentana rajeg. Perempuan menjadi penerus resmi garis keluarga.
Sederhananya, nyentana adalah bentuk adopsi bagi menantu laki-laki demi menjaga keturunan keluarga perempuan.
Tujuan dari Tradisi Nyentana
Tradisi Nyentana memiliki beberapa tujuan utama dalam struktur adat Bali. Secara garis besar, pelaksanaannya bertujuan untuk menjaga keberlanjutan keluarga dan keseimbangan peran sosial di masyarakat. Berikut beberapa tujuan penting dari tradisi Nyentana:
- Menjaga garis keturunan Terutama bagi keluarga tanpa anak laki-laki, agar tetap memiliki penerus keluarga dan pewaris nama leluhur.
- Memastikan rumah, tanah, dan pura tetap terurus Agar aset keluarga, tempat suci, serta simbol leluhur tidak terbengkalai dan tetap terjaga keberlangsungannya.
- Melanjutkan tugas adat Mencakup kewajiban ngayah, upacara adat, serta tanggung jawab di banjar dan desa adat sesuai tradisi keluarga.
- Menjaga kehormatan keluarga Menjamin keluarga tetap memiliki penerus sah secara adat, sehingga nama keluarga tidak dianggap “putus.”
Dengan demikian, nyentana lebih dari sekadar perkawinan—ini adalah bentuk tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual.
Proses Pelaksanaan Perkawinan Nyentana
Sebagai tradisi yang berkaitan langsung dengan leluhur dan kehormatan keluarga, pelaksanaan perkawinan Nyentana dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan nilai sakralitas. Setiap tahap dijalankan dengan rasa hormat, kesepakatan, serta kesadaran akan tanggung jawab adat yang akan dijalani.
1. Pembicaraan keluarga
Pihak keluarga perempuan terlebih dahulu menyampaikan niat dan permohonan kepada pihak keluarga laki-laki untuk menjalankan tradisi Nyentana.
2. Kesepakatan kedua belah pihak
Keputusan dilakukan secara musyawarah tanpa unsur paksaan. Semua pihak perlu setuju, baik keluarga maupun pasangan, agar kehidupan rumah tangga harmonis ke depan.
3. Upacara Mabyakaon
Merupakan simbol diterimanya laki-laki sebagai bagian dari keluarga perempuan. Upacara ini menandai perubahan status dan tanggung jawab sosialnya.
4. Pelepasan adat dari keluarga asal laki-laki
Dilakukan secara simbolik untuk menunjukkan bahwa ia berpindah kewajiban adat dari keluarga asal ke keluarga perempuan.
5. Suami resmi tinggal di keluarga istri
Setelah seluruh prosesi selesai, suami resmi tinggal bersama keluarga istri dan melanjutkan tanggung jawab adat di rumah tangga barunya.
Sebagai rangkaian adat yang penuh makna, proses ini memastikan perpindahan kedudukan seorang laki-laki dilakukan secara terhormat, sakral, dan bermartabat, sekaligus menjaga keharmonisan antar keluarga dan nilai budaya Bali yang luhur.
Hak & Kewajiban dalam Perkawinan Nyentana
Hak Suami
- Diakui sebagai anak dalam keluarga istri
- Berhak menerima warisan keluarga istri
Hak Istri
- Menjadi penerus formal keluarga
- Mewariskan marga kepada anak-anak
Kewajiban Suami
- Melaksanakan kewajiban adat di lingkungan istri
- Menjadi kepala keluarga yang menjaga keharmonisan
Kewajiban Istri
- Menjalankan adat dan tanggung jawab keluarga
- Mengelola keluarga bersama suami
- Kedua pasangan tetap berbagi peran, dengan dasar kebersamaan dan bakti keluarga.
Faktor yang Mendorong Terjadinya Nyentana
1. Tidak memiliki anak laki-laki
Dilakukan untuk memastikan garis keturunan keluarga perempuan tidak terputus dan tetap ada penerus yang menjaga nama keluarga.
2. Menjaga rumah dan warisan leluhur
Mencakup pemeliharaan aset keluarga seperti rumah, tanah adat, serta pura keluarga agar tetap terurus dan tidak kehilangan identitas leluhur.
3. Tanggung jawab adat dan sosial
Diperlukan penerus yang siap menjalankan kewajiban adat, terlibat dalam kegiatan banjar, ngayah, serta mengikuti kegiatan adat dan keagamaan.
4. Keinginan orang tua
Beberapa keluarga memilih Nyentana agar anak perempuan tetap tinggal bersama orang tua dan mendampingi mereka di masa tua.
5. Kesepakatan pasangan
Di masa modern, keputusan Nyentana sering muncul karena kesepakatan dan komitmen pasangan untuk berbagi tanggung jawab, bukan hanya karena aturan adat semata.
Harmoni Tradisi di Era Modern
Di tengah arus modernisasi, tradisi nyentana tidak surut oleh zaman. Justru, dalam banyak kasus, tradisi ini mendapat makna baru yang membuatnya tetap relevan.
Nyentana adalah sistem perkawinan adat di Bali di mana pihak laki-laki pindah dan menjadi bagian dari keluarga perempuan (matrilineal) — berlawanan dengan sistem patrilineal Bali pada umumnya. Di era modern, praktik ini dipandang sebagai mekanisme untuk melanjutkan garis keluarga perempuan yang tidak memiliki anak laki-laki, sekaligus bentuk fleksibilitas adat yang mampu beradaptasi.
Peran Nyentana di Masa Kini
Di tengah dinamika kehidupan modern, tradisi nyentana di Bali tetap memiliki tempat penting dalam sistem sosial dan budaya masyarakat. Meski zaman terus berubah, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya masih relevan sebagai wujud tanggung jawab keluarga dan penghormatan terhadap leluhur. Kini, praktik nyentana tidak hanya dipandang dari sisi adat semata, tetapi juga sebagai bentuk adaptasi dan kesadaran baru dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas.
Menjaga Garis Keturunan & Warisan
Fungsinya mempertahankan penyungsung keluarga tetap penting. Melalui nyentana, rumah, tanah, dan pura keluarga tetap terurus dan tidak “hilang” dari garis keturunan.
Adaptasi Sosial dan Budaya
Tradisi ini dilihat sebagai bentuk evolusi adat Bali dalam menjawab perkembangan zaman, termasuk persoalan kesetaraan gender, pergeseran nilai keluarga, dan pilihan hidup generasi muda.
Pilihan yang Lebih Personal
Jika dulu keputusan lebih murni adat, sekarang sering lahir dari cinta, komitmen, dan kesepakatan keluarga. Banyak pasangan memilih nyentana bukan karena terpaksa, tetapi sebagai bukti bakti kepada orang tua.
Tantangan dalam Era Modern
Para tokoh adat menekankan pentingnya pemahaman yang benar agar tradisi ini tidak salah tafsir. Edukasi adat membantu generasi muda memahami esensinya: bukan membalikkan peran gender, tapi menjaga keluarga dan leluhur.
Secara keseluruhan, nyentana bukan tradisi kuno yang kaku. Ia hidup, menyesuaikan, dan terus menemukan tempatnya di hati masyarakat Bali, sebagai jembatan antara nilai leluhur dan dinamika zaman.
Nyentana adalah suatu tradisi perkawinan yang dilakukan masyarakat adat Bali di mana pihak mempelai perempuan mempersunting pihak mempelai laki-laki. Dalam sistem ini, suami masuk dan menjadi bagian keluarga istri, serta meneruskan garis keturunan dari pihak perempuan.
Demikianlah pembahasan mengenai pernikahan nyentana.Semoga artikel ini bermanfaat, menambah wawasan budaya, dan memperkuat kecintaan kita pada tradisi luhur Bali.
Editor: Redaksi InfoDewataNews

0Komentar