TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Nyentana,Tradisi Perkawinan Bali di Mana Pria Masuk ke Keluarga Istri

👤 Ngurah Ambara | InfoDewataNews    ðŸ•’ Selasa, November 04, 2025
Gambar Utama


Pengantin Bali dalam upacara nyentana, di mana pria menikah dengan masuk ke garis keturunan keluarga perempuan Ilustrasi Visual: AI Ambara / InfoDewataNews


INFODEWATANEWS.COM - Dalam keragaman adat dan tradisi Bali, terdapat satu sistem perkawinan unik yang memperlihatkan fleksibilitas nilai sosial masyarakatnya, yakni nyentana. Berbeda dari sistem perkawinan pada umumnya, dalam tradisi ini pihak laki-laki justru masuk ke keluarga perempuan dan menjadi bagian dari garis keturunan istrinya.

Secara sederhana, nyentana adalah bentuk perkawinan adat Bali di mana seorang pria tinggal di rumah keluarga istrinya, melepaskan ikatan adat dari keluarga asal, serta melanjutkan marga dan keturunan keluarga perempuan. Sistem ini biasanya terjadi ketika satu keluarga tidak memiliki anak laki-laki dan membutuhkan penerus untuk menjaga garis keturunan, warisan, serta kewajiban adat.

Tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya Bali mampu menghadirkan keseimbangantidak hanya menempatkan laki-laki sebagai pewaris, tetapi juga memberikan ruang kehormatan bagi perempuan sebagai penerus keluarga.

Pengertian Nyentana

Dalam adat Bali, perkawinan biasa disebut mapadik, di mana perempuan mengikuti keluarga suami. Namun dalam nyentana berlaku sebaliknya:

Dalam adat Bali, perkawinan biasa disebut mapadik, di mana perempuan mengikuti keluarga suami. Namun dalam nyentana berlaku sebaliknya:

  • Suami masuk dan menjadi bagian keluarga istriIa dianggap seperti anak kandung dalam keluarga istrinya.
  • Suami melepaskan status adat dari keluarga asal. Secara adat, ia tidak lagi memiliki kewajiban di rumah asalnya.
  • Keturunan mengikuti garis perempuan. Anak-anak mengambil marga istri, bukan ayahnya.
  • Istri berstatus sentana rajeg. Perempuan menjadi penerus resmi garis keluarga.

Sederhananya, nyentana adalah bentuk adopsi bagi menantu laki-laki demi menjaga keturunan keluarga perempuan.

Tujuan dari Tradisi Nyentana

Tradisi Nyentana memiliki beberapa tujuan utama dalam struktur adat Bali. Secara garis besar, pelaksanaannya bertujuan untuk menjaga keberlanjutan keluarga dan keseimbangan peran sosial di masyarakat. Berikut beberapa tujuan penting dari tradisi Nyentana:

  • Menjaga garis keturunan Terutama bagi keluarga tanpa anak laki-laki, agar tetap memiliki penerus keluarga dan pewaris nama leluhur.
  • Memastikan rumah, tanah, dan pura tetap terurus Agar aset keluarga, tempat suci, serta simbol leluhur tidak terbengkalai dan tetap terjaga keberlangsungannya.

Dengan demikian, nyentana lebih dari sekadar perkawinan—ini adalah bentuk tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual.

Proses Pelaksanaan Perkawinan Nyentana

Sebagai tradisi yang berkaitan langsung dengan leluhur dan kehormatan keluarga, pelaksanaan perkawinan Nyentana dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan nilai sakralitas. Setiap tahap dijalankan dengan rasa hormat, kesepakatan, serta kesadaran akan tanggung jawab adat yang akan dijalani.

1. Pembicaraan keluarga

Pihak keluarga perempuan terlebih dahulu menyampaikan niat dan permohonan kepada pihak keluarga laki-laki untuk menjalankan tradisi Nyentana.

2. Kesepakatan kedua belah pihak

Keputusan dilakukan secara musyawarah tanpa unsur paksaan. Semua pihak perlu setuju, baik keluarga maupun pasangan, agar kehidupan rumah tangga harmonis ke depan.

3. Upacara Mabyakaon

Merupakan simbol diterimanya laki-laki sebagai bagian dari keluarga perempuan. Upacara ini menandai perubahan status dan tanggung jawab sosialnya.

4. Pelepasan adat dari keluarga asal laki-laki

Dilakukan secara simbolik untuk menunjukkan bahwa ia berpindah kewajiban adat dari keluarga asal ke keluarga perempuan.

5. Suami resmi tinggal di keluarga istri

Setelah seluruh prosesi selesai, suami resmi tinggal bersama keluarga istri dan melanjutkan tanggung jawab adat di rumah tangga barunya.

Sebagai rangkaian adat yang penuh makna, proses ini memastikan perpindahan kedudukan seorang laki-laki dilakukan secara terhormat, sakral, dan bermartabat, sekaligus menjaga keharmonisan antar keluarga dan nilai budaya Bali yang luhur.

Hak & Kewajiban dalam Perkawinan Nyentana

Hak Suami

  • Diakui sebagai anak dalam keluarga istri
  • Berhak menerima warisan keluarga istri

Hak Istri

  • Menjadi penerus formal keluarga
  • Mewariskan marga kepada anak-anak

Kewajiban Suami

  • Melaksanakan kewajiban adat di lingkungan istri
  • Menjadi kepala keluarga yang menjaga keharmonisan

Kewajiban Istri

  • Menjalankan adat dan tanggung jawab keluarga
  • Mengelola keluarga bersama suami
  • Kedua pasangan tetap berbagi peran, dengan dasar kebersamaan dan bakti keluarga.

Faktor yang Mendorong Terjadinya Nyentana

Tradisi Nyentana tidak terjadi tanpa alasan. Dalam adat Bali, keputusan ini melalui pertimbangan yang matang, baik secara sosial, keluarga, maupun tradisi leluhur. Berikut beberapa faktor utama yang melatarbelakangi praktik Nyentana:

1. Tidak memiliki anak laki-laki

Dilakukan untuk memastikan garis keturunan keluarga perempuan tidak terputus dan tetap ada penerus yang menjaga nama keluarga.

2. Menjaga rumah dan warisan leluhur

Mencakup pemeliharaan aset keluarga seperti rumah, tanah adat, serta pura keluarga agar tetap terurus dan tidak kehilangan identitas leluhur.

3. Tanggung jawab adat dan sosial

Diperlukan penerus yang siap menjalankan kewajiban adat, terlibat dalam kegiatan banjar, ngayah, serta mengikuti kegiatan adat dan keagamaan.

4. Keinginan orang tua

Beberapa keluarga memilih Nyentana agar anak perempuan tetap tinggal bersama orang tua dan mendampingi mereka di masa tua.

5. Kesepakatan pasangan

Di masa modern, keputusan Nyentana sering muncul karena kesepakatan dan komitmen pasangan untuk berbagi tanggung jawab, bukan hanya karena aturan adat semata.

Dengan faktor-faktor tersebut, Nyentana bukan sekadar pilihan adat, tetapi juga wujud cinta, tanggung jawab keluarga, dan komitmen menjaga keharmonisan budaya Bali.

Harmoni Tradisi di Era Modern

Di tengah arus modernisasi, tradisi nyentana tidak surut oleh zaman. Justru, dalam banyak kasus, tradisi ini mendapat makna baru yang membuatnya tetap relevan.

Nyentana adalah sistem perkawinan adat di Bali di mana pihak laki-laki pindah dan menjadi bagian dari keluarga perempuan (matrilineal) — berlawanan dengan sistem patrilineal Bali pada umumnya. Di era modern, praktik ini dipandang sebagai mekanisme untuk melanjutkan garis keluarga perempuan yang tidak memiliki anak laki-laki, sekaligus bentuk fleksibilitas adat yang mampu beradaptasi.

Peran Nyentana di Masa Kini

Di tengah dinamika kehidupan modern, tradisi nyentana di Bali tetap memiliki tempat penting dalam sistem sosial dan budaya masyarakat. Meski zaman terus berubah, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya masih relevan sebagai wujud tanggung jawab keluarga dan penghormatan terhadap leluhur. Kini, praktik nyentana tidak hanya dipandang dari sisi adat semata, tetapi juga sebagai bentuk adaptasi dan kesadaran baru dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas.

Menjaga Garis Keturunan & Warisan

Fungsinya mempertahankan penyungsung keluarga tetap penting. Melalui nyentana, rumah, tanah, dan pura keluarga tetap terurus dan tidak “hilang” dari garis keturunan.

Adaptasi Sosial dan Budaya

Tradisi ini dilihat sebagai bentuk evolusi adat Bali dalam menjawab perkembangan zaman, termasuk persoalan kesetaraan gender, pergeseran nilai keluarga, dan pilihan hidup generasi muda.

Pilihan yang Lebih Personal

Jika dulu keputusan lebih murni adat, sekarang sering lahir dari cinta, komitmen, dan kesepakatan keluarga. Banyak pasangan memilih nyentana bukan karena terpaksa, tetapi sebagai bukti bakti kepada orang tua.

Tantangan dalam Era Modern

Meski lebih diterima, nyentana tetap menghadapi dinamika sosial:

Stigma Sosial
Sebagian masyarakat tradisional masih menganggap nyentana berbeda dari “pakem” patriarki Bali. Ini membuat sebagian laki-laki ragu menjalani nyentana.

Isu Kesetaraan Gender
Di sisi lain, nyentana juga dianggap sebagai peluang bagi perempuan Bali untuk berdiri sejajar — memiliki garis keturunan, warisan, dan posisi adat setara dengan laki-laki.

Pentingnya Edukasi Adat

Para tokoh adat menekankan pentingnya pemahaman yang benar agar tradisi ini tidak salah tafsir. Edukasi adat membantu generasi muda memahami esensinya: bukan membalikkan peran gender, tapi menjaga keluarga dan leluhur.

Secara keseluruhan, nyentana bukan tradisi kuno yang kaku. Ia hidup, menyesuaikan, dan terus menemukan tempatnya di hati masyarakat Bali, sebagai jembatan antara nilai leluhur dan dinamika zaman.

Nyentana adalah suatu tradisi perkawinan yang dilakukan masyarakat adat Bali di mana pihak mempelai perempuan mempersunting pihak mempelai laki-laki. Dalam sistem ini, suami masuk dan menjadi bagian keluarga istri, serta meneruskan garis keturunan dari pihak perempuan.

Demikianlah pembahasan mengenai pernikahan nyentana.Semoga artikel ini bermanfaat, menambah wawasan budaya, dan memperkuat kecintaan kita pada tradisi luhur Bali.

Penulis: Ngurah Ambara
Editor: Redaksi InfoDewataNews

0Komentar

Copyright© - INFODEWATANEWS.COM . Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami