![]() |
| Ilustrasi remaja perempuan yang sedang merenungkan makna perhatian dan batasan dalam hubungan. Ilustrasi : Ambara /InfoDewataNews |
INFODEWATANEWS.COM - Dalam sebuah hubungan, perhatian sering kali dianggap sebagai bukti cinta. Semakin sering menghubungi, semakin ingin tahu keberadaan pasangan, bahkan ingin selalu bersama setiap waktu—semua itu kerap dilihat sebagai tanda sayang. Tapi, pernahkah kamu bertanya: ini benar perhatian, atau justru sudah terlalu mengikat?
Di usia remaja, batas antara perhatian dan posesif memang kadang terasa tipis. Banyak yang mengira dikontrol berarti diperhatikan. Padahal, hubungan yang sehat bukan tentang memiliki, melainkan tentang saling menghargai.
Perhatian Itu Menenangkan, Bukan Menekan
![]() |
| Hubungan yang sehat ditandai dengan rasa aman dan komunikasi yang tidak menekan. Ilustrasi : Ambara /InfoDewataNews. |
Perhatian yang sehat membuatmu merasa aman dan dihargai. Misalnya, pasangan mengingatkan untuk makan, memberi semangat saat ujian, atau menanyakan kabar tanpa nada menuntut. Ada rasa hangat dan dukungan, bukan tekanan.
Sebaliknya, posesif sering dibungkus dengan kalimat manis. “Aku cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa.” “Aku cemburu karena aku sayang.” Kalimat seperti ini terdengar romantis, tapi jika disertai larangan berteman, harus selalu memberi kabar setiap menit, atau marah saat kamu sibuk, itu bukan lagi perhatian—itu kontrol.
Tanda Perhatian yang Sehat
![]() |
| Perhatian yang sehat memberi ruang untuk tetap bertumbuh dan menjalani aktivitas pribadi. Ilustrasi : Ambara /InfoDewataNews |
Tidak semua perhatian itu mengekang. Dalam hubungan yang sehat, perhatian justru terasa ringan dan menenangkan. Ia tidak datang dengan tuntutan, melainkan dengan rasa saling percaya. Kamu tidak merasa diawasi, tidak merasa dikontrol, dan tetap bebas menjadi diri sendiri.
Perhatian yang sehat biasanya terlihat dari hal-hal sederhana berikut:
- Memberi ruang untuk tetap punya teman dan aktivitas sendiri
Pasangan memahami bahwa kamu tetap membutuhkan waktu bersama sahabat, keluarga, atau untuk mengejar hobi dan kegiatan pribadi.
- Percaya tanpa harus memeriksa ponsel
Kepercayaan menjadi dasar hubungan. Tidak ada kebutuhan untuk mengintip pesan atau media sosial demi memastikan kesetiaan.
- Mendukung impian dan kegiatan positifmu
Ia bangga melihatmu berkembang, bukan merasa terancam oleh pencapaianmu.
- Mau mendengarkan tanpa menghakimi
Setiap cerita dan perasaanmu dihargai, tanpa langsung disalahkan atau diremehkan.
Ketika perhatian terasa seperti ini, hubungan menjadi tempat yang aman—bukan ruang yang membatasi. Hubungan sehat memberi ruang untuk tumbuh. Kamu tetap bisa menjadi diri sendiri tanpa rasa takut.
Tanda Sudah Terlalu Mengikat
![]() |
| Sikap yang terlalu mengontrol dapat membuat seseorang merasa tertekan dalam hubungan. Ilustrasi : Ambara /InfoDewataNews |
Berbeda dengan perhatian yang sehat, sikap yang terlalu mengikat sering kali hadir secara halus. Awalnya mungkin terlihat seperti bentuk kepedulian, tetapi lama-kelamaan terasa melelahkan dan membuat tidak nyaman. Kamu mulai merasa diawasi, ditekan, bahkan kehilangan ruang untuk menjadi diri sendiri.
Beberapa tanda yang perlu kamu waspadai antara lain:
- Harus selalu melapor di mana dan dengan siapa
Bukan sekadar memberi kabar, tetapi seperti kewajiban yang jika terlewat akan memicu pertengkaran.
- Marah jika kamu tidak cepat membalas pesan
Kesibukan atau waktu istirahatmu tidak dihargai, seolah-olah kamu harus selalu siaga 24 jam.
- Membatasi pergaulan
Kamu diminta menjauh dari teman tertentu, bahkan keluarga, dengan alasan cemburu atau “demi kebaikan hubungan”.
- Membuatmu merasa bersalah saat ingin punya waktu sendiri
Setiap kali kamu butuh me-time, kamu justru dituduh berubah, tidak peduli, atau tidak sayang lagi.
Kenapa Posesif Sering Disalahartikan sebagai Cinta?
![]() |
| Cemburu sering dianggap romantis, padahal bisa menjadi tanda ketidakseimbangan dalam hubungan. Ilustrasi : Ambara /InfoDewataNews |
Media sosial sering menampilkan gambaran hubungan yang intens dan dramatis. Cemburu dianggap romantis. “Overprotective” dianggap bukti cinta. Padahal, cinta yang dewasa dibangun atas kepercayaan, bukan pengawasan.
Cemburu dalam kadar wajar itu manusiawi. Tapi jika berubah menjadi kecurigaan tanpa alasan dan membatasi kebebasan, itu bukan lagi bentuk sayang.
Cara Menjaga Keseimbangan dalam Hubungan
![]() |
| Komunikasi terbuka dan batas yang jelas menjadi kunci hubungan yang sehat. Ilustrasi : Ambara /InfoDewataNews |
Sampaikan dengan jujur jika kamu merasa terlalu dikontrol. Gunakan kalimat yang tidak menyalahkan, seperti “Aku merasa kurang nyaman ketika harus selalu melapor setiap waktu.”
Setiap orang berhak punya ruang pribadi. Waktu bersama teman, keluarga, atau untuk diri sendiri tetap penting.
Tanpa kepercayaan, hubungan hanya akan dipenuhi kecurigaan. Kepercayaan adalah fondasi utama hubungan sehat.
Tanyakan pada diri sendiri: Apakah aku merasa aman? Apakah aku tetap bisa menjadi diri sendiri? Jika jawabannya tidak, mungkin ada batas yang perlu ditegaskan.
Hubungan Sehat Bukan Tentang Mengikat
![]() |
| Hubungan yang baik memberi kebebasan dan rasa nyaman untuk menjadi diri sendiri. Ilustrasi : Ambara /InfoDewataNews |
Cinta yang sehat tidak membuatmu kehilangan kebebasan. Ia tidak memaksamu berubah demi memenuhi rasa takut pasangan. Hubungan yang baik justru membuat dua orang tumbuh bersama, bukan saling membatasi.
Perhatian seharusnya menenangkan, bukan mengekang. Sayang seharusnya membebaskan, bukan mengikat.
Karena pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan yang paling intens terlihat di luar, tetapi yang paling nyaman dirasakan di dalam.
🖋️ Penulis: Ngurah Ambara | InfoDewataNews
☕ Pecinta kopi dan senja, yang percaya bahwa hubungan remaja bukan soal seberapa terlihat romantis di media sosial, tetapi tentang keberanian menjaga batas, membangun kepercayaan, dan tetap menghargai diri sendiri dalam setiap hubungan.







0Komentar