TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

ST Tunas Remaja Sajikan Ogoh-Ogoh “Meguru Satua” dengan Pesan Moral Mendalam

Redaksi InfoDewataNews |    🕒 Kamis, Februari 26, 2026
Gambar Utama

ogoh-ogoh “Meguru Satua” – Menampilkan harmoni visual antara Tantri, raja Eswaryadala, dan karakter binatang, sekaligus menyampaikan kisah kebijaksanaan dan perdamaian. Foto : Ambara /InfoDewataNews 


INFODEWATANEWS.COM, Badung - Banjar Umahanyar, Mengwi, Badung – Kreativitas dan kearifan lokal kembali ditampilkan oleh ST Tunas Remaja melalui karya ogoh-ogoh bertajuk “Meguru Satua”. Karya ini tidak hanya memamerkan keindahan visual, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang kuat melalui kisah Ni Diah Tantri, perempuan cerdas, berani, dan berbudi luhur.

Ogoh-ogoh ini menampilkan dua karakter manusia yang dominan. Pertama, sosok Ni Diah Tantri divisualisasikan sebagai gadis cantik yang mengenakan busana Bali yang indah dan mewah, dipenuhi motif khas dan detail yang memukau. Penampilan Tantri menegaskan kebijaksanaan dan kelembutannya, sekaligus menjadi simbol kecerdasan dan keberanian perempuan yang mampu menghadapi situasi sulit dengan ketenangan dan strategi. Di atas Tantri berdiri sosok raksasa yang mewakili raja kejam, Prabu Eswaryadala, yang dikenal menakutkan dan sering membunuh istri barunya, menebar ketakutan di seluruh kerajaan. Visual raja digambarkan dengan wujud besar, menakutkan, dan ekspresi yang menunjukkan kekejamannya, memberikan kontras dramatis dengan sosok Tantri yang anggun dan tenang.

Selain dua karakter manusia tersebut, ogoh-ogoh Meguru Satua juga dihiasi dengan berbagai karakter binatang yang hadir dalam kisah-kisah yang dibawakan Tantri. Hewan-hewan ini bukan sekadar hiasan, tetapi menjadi bagian dari Amuter Tutur Pinehayu, teknik bercerita yang digunakan Tantri untuk menyampaikan kebenaran dengan halus. Melalui kisah binatang, ia menyisipkan kritik terhadap keserakahan, kesombongan, dan ketidakadilan, sekaligus mengajarkan pentingnya keadilan, kepemimpinan bijaksana, dan empati terhadap sesama. Kehadiran karakter binatang membuat kisah ogoh-ogoh ini terasa hidup dan dinamis, seakan pengunjung dapat menyaksikan narasi moral berjalan di depan mata mereka.

Kisah yang diangkat dalam ogoh-ogoh ini menceritakan perjuangan Tantri menghadapi raja yang kejam. Dengan kecerdikan dan kelembutan, ia mengubah hati Prabu Eswaryadala melalui cerita-cerita yang penuh pesan moral setiap malam. Setiap kisah yang dibawakan Tantri selalu dihentikan di bagian paling menegangkan sehingga raja penasaran dan menunda niat kejamnya. Strategi ini perlahan berhasil meredakan kekejaman raja dan mengembalikan perdamaian di kerajaan.

Pameran ogoh-ogoh Meguru Satua mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat dan wisatawan. Penonton tidak hanya disuguhi visual yang menakjubkan, tetapi juga diajak merenungkan nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya. Karya ini menegaskan bahwa ogoh-ogoh bukan hanya seni visual atau hiburan semata, tetapi juga sarana pendidikan moral yang menginspirasi generasi muda untuk memahami keberanian, kebijaksanaan, dan cinta kasih.

Dengan Meguru Satua, ST Tunas Remaja berhasil menghadirkan ogoh-ogoh yang memadukan keindahan seni, kekayaan budaya Bali, dan pesan moral yang mendalam. Kisah Ni Diah Tantri dan raja Eswaryadala menjadi pengingat bahwa seni tradisi Bali dapat menjadi medium untuk menyampaikan nilai-nilai luhur dan membentuk karakter positif di masyarakat, sekaligus menghidupkan legenda lokal dengan cara yang menarik dan interaktif.(Abr /IDN). 

0Komentar

Copyright © 2025 - INFODEWATANEWS.COM . All Rights Reserved. Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami