INFODEWATANEWS.COM, DENPASAR, 30 Maret 2025 — Dalam momentum Hari Film Nasional, Searah Creative Hub hadir sebagai komunitas film di Bali yang mendorong sinema tidak hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai medium dialog, refleksi, dan ruang bertumbuh bersama. Nama Searah dimaknai secara sederhana: kesamaan tujuan dan pandangan. Dan penambahan kata Creative Hub karena ingin mempertemukan ruang kreatif dengan disiplin ilmunya.
Tentang Searah Creative Hub
Searah Creative Hub adalah komunitas film yang berbasis di Bali, berdiri sejak Tahun 2021, komunitas ini didedikasikan untuk menumbuhkan apresiasi sinema, memberdayakan sineas lokal, serta membangun jembatan antara dunia perfilman dan masyarakat. Dengan semangat kolaborasi dan kebersamaan, Searah percaya bahwa film adalah medium yang paling kuat untuk merawat cerita-cerita dari Bali.
Searah lahir dari sebuah keresahan nyata: belum mapannya industri perfilman di Bali membuat banyak lulusan Program Studi Produksi Film dan Televisi di salah satu kampus negeri di Bali akhirnya bekerja di luar bidang yang mereka tekuni. Komunitas ini kemudian menjadi wadah bagi para alumni untuk tetap terhubung, bertukar ilmu, saling mendukung produksi, dan memanfaatkan kompetensi masing-masing di tiap lini pembuatan film. Dari keresahan itulah Searah tumbuh menjadi ruang kreatif yang hidup. Dari alumni menjadi ruang bertemu yang lebih luas dan lebih hidup dengan pelaku-pelaku film Bali.
Bergerak di Tengah Tantangan Ekosistem
Perfilman Bali sesungguhnya memiliki ekosistem yang cukup lengkap, ada produksi, ekshibisi, distribusi, apresiasi, hingga pendidikan. Namun tantangan terbesarnya adalah konektivitas: banyak komunitas dan penggiat film yang bergerak secara sporadis dan belum saling terhubung dalam jaringan yang kuat. Akses terhadap literasi produksi film yang memadai pun masih menjadi hambatan nyata, terutama dibanding pusat perfilman di Jawa.
Di sinilah Searah Creative Hub menemukan perannya yang paling esensial: menjadi titik temu dan jaringan penghubung antar sineas, antar komunitas, dan antara dunia film dengan masyarakat luas. Bukan sekadar berkumpul, tetapi membangun fondasi ekosistem yang selama ini terserak.
Program-Program Unggulan Searah
Untuk menjawab tantangan ekosistem tersebut, Searah telah merancang dan menjalankan lima program utama yang masing-masing dirancang untuk menjangkau lapisan komunitas yang berbeda:
Nunas Layar — Nonton Bareng Film & Filmmaker
Nunas Layar adalah program pemutaran film yang menghadirkan film-film pilihan bersama filmmakernya langsung. Dilalukan rutin setiap dua minggu sekali, penonton tidak hanya menonton, tetapi juga berdialog langsung dengan pembuat film. Menciptakan ruang diskusi yang hidup dan bermakna. Program ini menjadi salah satu jantung dari aktivitas Searah dalam mendekatkan karya dan penciptanya kepada publik.
Seka Nutur — Podcast Perfilman
Melalui program podcast Seka Nutur, Searah menghadirkan percakapan mendalam tentang dunia film mulai dari proses kreatif, industri, hingga wacana sinema yang lebih luas. Program ini menjadi kanal suara bagi para pelaku film untuk berbagi perspektif dan pengalaman mereka kepada khalayak yang lebih luas. Untuk melihat tayangannya bisa ditonton pada channel Searah Creative Hub di Youtube.
Balih Screening — Pemutaran Film untuk Masyarakat
Balih Screening adalah program pemutaran film yang dirancang khusus untuk menjangkau masyarakat umum di berbagai wilayah Bali. Program ini membawa film langsung ke komunitas. Program ini menjadikan sinema sebagai pengalaman bersama yang melampaui batas ruang bioskop konvensional. Biasanya dilakukan satu tahun sekali
RAW — Live 12 Jam Non-Stop tentang Film
RAW adalah program pembahasan dunia film yang mentah, tanpa sensor. Di tahun 2026 ini dilakukan sesi live streaming selama 12 jam tanpa henti yang membicarakan segala hal tentang film. Dari teknik sinematografi, ulasan karya, obrolan santai antar sineas, hingga diskusi wacana perfilman, RAW menjadi maratonnya pikiran kreatif. Program ini merayakan kecintaan terhadap film tanpa batas waktu. Program Raw telah dilaksanakan dari tanggal 14 hingga 15 Maret 2026.
Paum — Pertemuan Reguler Komunitas
Paum adalah pertemuan rutin seluruh anggota dan pegiat komunitas Searah. Lebih dari sekadar rapat, Paum adalah ruang untuk saling berbagi, merencanakan program, dan memperkuat ikatan komunitas. Nama Paum diambil dari bahasa Bali yang berarti berkumpul bersama yang mencerminkan semangat kolektif yang menjadi fondasi Searah.
Program Distribusi Film: Langkah Berikutnya
Tidak berhenti pada apresiasi dan produksi, Searah Creative Hub tengah menyiapkan program distribusi film sebagai langkah strategis berikutnya. Program ini akan membuka jalur distribusi bagi film-film karya sineas lokal. Program ini didasari oleh keresahan tentang banyaknya film yang hanya tersimpan di ruang penyimpanan saja. Terlebih di Bali, setiap tahun melahirkan ratusan film yang seringkali tidak terdistribusi. Ini dilakukan agar memastikan karya-karya dapat menjangkau penonton yang lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri.
Inisiatif ini merupakan wujud nyata komitmen Searah dalam membangun ekosistem perfilman yang utuh dari produksi, apresiasi, hingga distribusi.
Searah dapat menjadi ruang untuk bertemu hingga berkarya bersama. Jika semeton ingin bergabung dengan searah, atau ingin submit karya filmnya dapat mengisi link berikut:
(https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSd8fLbbs-TjCJTDZTxfS4hXBtYpgm_1vvyWizEXaUvsPMF5aw/viewform)
Pandangan Semeton Searah
Dodek Sukahet (Ketua Searah)
Film bagi saya tidak berdiri sendiri. Ia bisa bersinggungan dengan banyak disiplin ilmu, bahkan dengan hampir semua ilmu. Karena film bukan hanya medium, tapi cara melihat dan menjalani kehidupan. Searah hadir untuk mengisi ruang-ruang kosong dalam ekosistem film di Bali. Belajar dari praktik, namun tetap reflektif berdasarkan disiplin ilmu. Kalau disederhanakan, karena kami orang film di Bali butuh ruang belajar untuk kepentingan bersama. Belajar memahami ekosistem film, melihat kondisi nyata di Bali, dan mencari solusi bersama. Itulah semangat menyama braya yang berusaha kami jaga secara konsisten.
Kenapa Searah harus ada? Karena banyak individu yang kuat, tapi sering berjalan sendiri dan Searah ingin terus menyuarakan kepentingan bersama. Guyub, sesuatu yang selama ini jarang terdengar. Keresahan di dunia film itu banyak. Perbedaan pendapat, pandangan, bahkan pertikaian, itu hal yang lumrah. Dan seharusnya, semua itu tidak mengganggu arus utama ekosistem yang sama-sama kita inginkan: pertumbuhan. Yang paling sering mengganggu pikiran saya justru satu hal: kesadaran kolektif. Saya sering mendengar keluhan seperti, “kenapa ya kita sulit sekali membuat film?” Tapi di saat yang sama, kita tidak sadar bahwa di Bali kita hampir tidak punya produser. Ada juga keresahan lain, takut merekomendasikan orang untuk shooting karena etika dan sikap kerjanya kurang baik. Tapi kita jarang mau duduk bersama membicarakan kualitas manusianya. Atau ada lembaga yang seharusnya administratif, namun diisi oleh praktisi semua. Akhirnya fungsi-fungsi menjadi kabur.
Masalahnya bukan semata-mata ada konflik. Masalahnya, kita sering lemah dalam mengidentifikasi masalah dan mengubahnya menjadi solusi bersama. Tanpa disadari, lingkungan yang kurang sehat akan membentuk individu-individu yang tidak bertumbuh. Dan itu berdampak secara personal pada saya, karena saya hidup dan bergerak di ruang-ruang film di Bali. Kalau disederhanakan, keresahan saya ada tiga. Pertama, ketidakguyuban. Kedua, tidak adanya produser. Ketiga, kualitas manusia. Menurut saya, kalau tiga hal ini bisa menjadi perhatian bersama, barulah kita bisa melangkah lebih jauh membicarakan sistem dan ekosistem film secara utuh.
Berkomunitas itu sangat penting. Bukan karena kita ingin kumpul ramai-ramai,tapi karena tidak semua hal bisa dipelajari sendirian. Dalam dunia film, kita bisa belajar teknis secara individu. Kamera, editing, lighting, semua bisa dipelajari sendiri. Tapi cara berpikir, cara melihat, dan cara bersikap terhadap karya dan proses, justru tumbuh lewat pertemuan dengan orang lain. Lewat diskusi, lewat perbedaan pandangan, bahkan lewat ketidakselarasan, komunitas memberi ruang yang aman. Ruang untuk belajar, ruang untuk salah, ruang untuk bertanya tanpa takut dianggap kurang pintar. Di situ, film tidak hanya diproduksi, tapi dibedah, bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk meningkatkan kualitas. Bagi saya, komunitas bukan soal siapa yang paling aktif atau siapa yang paling terlihat. Komunitas adalah soal siapa yang mau bertumbuh bersama, saling menjaga arah, dan saling menguatkan proses. Karena pada akhirnya, film yang sehat lahir dari ekosistem yang sehat. Dan ekosistem yang sehat tidak mungkin dibangun sendirian.
Herda Martin (Wakil Ketua Searah)
Hadirnya Searah Creative Hub adalah upaya kecil yang kami jaga dengan konsistensi. Melalui screening layar yang rutin kami lakukan dua kali dalam sebulan, kami berusaha mempertemukan film dengan penontonnya, penciptanya dengan penikmatnya. membuka ruang temu yang selama ini terasa jarang. Dari sana, percakapan tidak berhenti di layar, tapi berlanjut ke diskusi, hingga kini kami mulai merambah medium lain seperti podcast yang membahas dinamika perfilman di Bali.
Namun semakin jauh berjalan, kami menyadari satu hal penting: komunitas tidak seharusnya berdiri sendiri. Ia harus hadir di tengah menjadi jembatan antara penikmat, pencipta, pengkaji, peneliti, hingga pendana film. Sebab ekosistem film tidak hanya dibangun oleh mereka yang bekerja di balik layar, tetapi juga oleh mereka yang menonton, mengapresiasi, mengkritisi, dan mempercayai.
Hari ini, kita bisa melihat bahwa perfilman di Bali mulai menunjukkan kemajuan, khususnya dalam ekosistem kru. Banyak talenta teknis yang tumbuh dan berkembang. Namun di sisi lain, ruang bagi pencipta, ruang bagi penikmat, serta ruang layar untuk karya-karya itu sendiri, masih belum sepenuhnya terbentuk dengan kuat.
Di titik ini, kita perlu berhenti sejenak untuk mengevaluasi. Mungkin yang perlu kita eratkan bukan hanya jaringan, tetapi juga rasa, rasa untuk tumbuh bersama. Konsep guyub, kebersamaan yang saling menguatkan, menjadi hal yang semakin relevan. Karena hanya dengan tumbuh bersama, kita bisa benar-benar bergerak menuju apa yang ingin kita capai.
Harapannya sederhana: semoga tidak semakin banyak orang yang harus menguburkan mimpinya di industri perfilman. Semoga film tidak lagi dipandang sebelah mata, tetapi sebagai ruang yang hidup, tempat cerita, kegelisahan, harapan, dan masa depan dirajut bersama.
Sauca Putra (Koruka)
Peran Koruka dalam Searah yaitu kita menyiapkan ruang dalam bidang apapun yang masuk dalam agenda Searah. Contohnya seperti paum, koruka menyiapkan ruang untuk bertukar pikiran. Nunas Layar, Koruka menyiapkan ruang untuk Searah melakukan screening film yang sudah diseleksi serta menyiapkan properti untuk menjalankan screening dengan lancar. Podcast, koruka podcast menyiapkan studio untuk orang-orang yang mau atau baru memulai konten podcast. Jadi peran Koruka mensupport acara Searah dari segi ruang dan property yang ada. Ini sejalan dengan slogan Searah, yaitu #TumbuhBersama.
Bimo Prasetyo (Penggagas Nunas Layar)
Setidaknya, melalui Searah, kita mulai merayakan hari film di Bali. Meskipun kita tidak bisa mengadakan screening layaknya hari film lainnya, tapi kita cukup ngerasain hype hari film di tahun ini. Kita bisa datang dan support teman-teman lain yang ikut merayakan hari film. mungkin tidak harus dengan nonton film untuk merayakannya. Cukup datang dan bertenu dengan filmmaker lain, itu juga bagian dari merayakan hari film.
Restu K.N. (Penggagas Paum)
Di Hari Film ini, saya berharap Searah Creative Hub sebagai komunitas film, dapat menjadi wadah bagi para penikmat film, pekerja film, dan semua orang yang berkecimpung atau sekadar menikmati film sebagai hobi. Kami berupaya menyalurkan pemikiran dan pandangan mengenai industri film Bali yang masih perlu dikembangkan, sekaligus meneruskan segala perjuangan dari pendahulu kami untuk mensejahterakan para pekerja film Bali. Dengan misi utama, seperti yang selalu diingatkan oleh senior kami, Dodek Sukahet, tentang semangat “GUYUB”, kami berusaha membangun keguyuban yang kuat demi masa depan perfilman Bali.
Merayakan Hari Film Nasional
Hari Film Nasional yang diperingati setiap 30 Maret bukan hanya momen nostalgia, ia adalah panggilan untuk terus bergerak. Bagi Searah, peringatan ini menjadi refleksi atas perjalanan yang telah ditempuh sekaligus penegasan arah ke depan: membangun ekosistem perfilman Bali yang kuat, berkelanjutan, dan berakar pada komunitas.
"Di Hari Film Nasional ini, kami ingin mengajak semua pihak, sineas, penonton, media, dan pemangku kepentingan, untuk bersama-sama merawat dan menumbuhkan sinema Indonesia, khususnya dari Bali. Film adalah milik kita semua. Searah tidak menutup kemungkinan untuk berkolaborasi dengan siapa pun, dan kapan pun. Searah terbuka bagi seluruh pecinta film. Baik yang baru belajar, maupun yang sudah aktif berkarya.
Harapan kami sederhana. Menjadi ruang tumbuh, ruang belajar, ruang kolaborasi yang sehat. Agar para filmmaker bisa bangkit melalui proses yang saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Di sisi lain, Searah juga membuka diri untuk bekerja sama dengan penyandang dana atau lintas instansi dalam memproduksi film. Kami siap berperan sebagai jembatan. Menghubungkan pihak-pihak yang membutuhkan, dengan filmmaker yang kami nilai layak dan siap mengerjakan proyek. Harapan kami hanya satu. Bertumbuh bersama.” (RLS /IDN).

0Komentar