TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

LDR Remaja: Kuat Karena Rindu atau Cepat Kandas?

Redaksi InfoDewataNews |    🕒 Minggu, April 26, 2026
Gambar Utama

Ilustrasi hubungan jarak jauh (LDR) di kalangan remaja yang menghadapi tantangan komunikasi, rasa rindu, dan menjaga kepercayaan di tengah jarak. Ilustrasi : AI /InfoDewataNews 


INFODEWATANEWS - Hubungan jarak jauh alias LDR di kalangan remaja sekarang makin sering terjadi. Entah karena beda sekolah, pindah kota, atau bahkan kenal dari media sosial. Sekilas kelihatan gampang—tinggal chat, telepon, video call. Tapi realitanya, LDR nggak sesimpel itu, apalagi kalau dijalani di usia yang masih labil secara emosi. Banyak yang awalnya yakin “kita pasti bisa”, tapi di tengah jalan malah tumbang karena nggak kuat sama situasi.

Biar lebih relate dan nggak ngebosenin, ini dia 4 sisi LDR remaja yang sering banget kejadian:

1. Rindu Tiap Hari, Tapi Nggak Bisa Ketemu

Rindu jadi “makanan sehari-hari” buat pasangan LDR. Bangun tidur inget dia, mau tidur juga kepikiran. Masalahnya, rasa rindu ini nggak bisa langsung “diselesaikan” dengan ketemu. Nggak ada pelukan, nggak ada quality time langsung—semuanya serba lewat layar.

Awalnya mungkin terasa manis, tapi lama-lama bisa jadi capek sendiri. Apalagi kalau salah satu lagi butuh ditemenin, tapi pasangannya nggak selalu ada. Di sini banyak remaja mulai ngerasa, “ini hubungan atau cuma nungguin?”

2. Chat Terus, Tapi Tetap Salah Paham

Komunikasi memang jalan utama LDR, tapi justru di sinilah masalah sering muncul. Chat doang nggak bisa nunjukin ekspresi asli. Kadang cuma karena balasan singkat kayak “iya” atau “oke”, bisa langsung bikin overthinking.

Belum lagi kalau dibales lama—langsung kepikiran macam-macam. Padahal bisa aja dia lagi sibuk atau capek. Tapi karena nggak lihat langsung, semuanya jadi asumsi. Dari hal kecil kayak gini, ribut bisa muncul tanpa alasan yang jelas.

3. Trust Issue: Online Sama Siapa Tuh?

Media sosial sering jadi “musuh dalam selimut” buat hubungan LDR. Lihat pasangan aktif, tapi chat kita belum dibales? Langsung curiga. Lihat dia komen di postingan orang lain? Mulai kepikiran yang nggak-nggak.

Di usia remaja, rasa cemburu biasanya masih tinggi, tapi belum diimbangi kontrol emosi yang matang. Akhirnya jadi sering ngecek, nanya berlebihan, bahkan sampai over-possessive. Kalau nggak ada kepercayaan, LDR bisa berubah jadi hubungan yang bikin stres.

4. Sibuk Sendiri, Hubungan Jadi Nomor Dua

Remaja punya banyak hal yang harus dijalani—sekolah, tugas, teman, bahkan mulai mikirin masa depan. Di sinilah tantangannya. Ketika salah satu sibuk, yang lain bisa ngerasa diabaikan.

Padahal belum tentu nggak peduli, cuma lagi fokus sama hidupnya. Tapi kalau komunikasi soal ini nggak jelas, bisa timbul perasaan “aku nggak penting lagi ya?” dan akhirnya hubungan jadi renggang.

Jadi, LDR Layak Diperjuangkan?

Jawabannya: bisa iya, bisa nggak. LDR bakal terasa kuat kalau dua-duanya sama-sama mau usaha, jujur, dan ngerti batasan. Tapi kalau masih sering egois, gampang curiga, dan nggak siap secara mental, LDR bisa jadi beban.

Yang penting, jangan sampai hubungan malah bikin kamu kehilangan diri sendiri. Karena pada akhirnya, hubungan yang sehat itu bukan cuma soal bertahan, tapi juga tentang tumbuh bareng—meskipun terpisah jarak.


🖋️ Penulis: Ngurah Ambara | InfoDewataNews
Menulis tentang dinamika perasaan anak muda dan realita hubungan yang nggak selalu berjalan sesuai ekspektasi. Percaya bahwa jarak bukan cuma soal kilometer, tapi juga tentang seberapa kuat komunikasi dan kepercayaan dijaga di tengah banyaknya keraguan.

Tags
×

Artikel Terkait

Rekomendasi

0Komentar

Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami