TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Pagerwesi, Momentum Memagari Diri dengan Ilmu dan Dharma

Redaksi InfoDewataNews |    ðŸ•’ Rabu, April 08, 2026
Gambar Utama

Umat Hindu melaksanakan persembahyangan dalam rangka Hari Raya Pagerwesi di pura, dengan membawa sarana persembahan sebagai simbol bhakti dan upaya memagari diri dengan ilmu serta ajaran dharma. Foto : ilustrasi Ambara /InfoDewataNews. 


INFODEWATANEWS.COM — Umat Hindu di Bali kembali merayakan Hari Raya Pagerwesi, sebuah hari suci yang sarat makna spiritual dan filosofis, yang jatuh setiap 210 hari sekali pada Rabu Kliwon Wuku Sinta. Perayaan ini hadir empat hari setelah Hari Raya Saraswati, sehingga menjadi bagian penting dalam rangkaian hari suci yang berkaitan dengan turunnya ilmu pengetahuan.

Makna Filosofis Pagerwesi

Secara etimologis, Pagerwesi berasal dari kata pager yang berarti pagar atau pelindung, serta wesi yang berarti besi. Gabungan kedua kata ini melambangkan sebuah perlindungan diri yang kuat dan kokoh, layaknya pagar besi yang tidak mudah ditembus. Makna ini menjadi pengingat bagi umat Hindu untuk senantiasa memagari diri dengan ilmu pengetahuan dan ajaran dharma agar terhindar dari pengaruh negatif dalam kehidupan sehari-hari.

Hari Raya Pagerwesi juga dimaknai sebagai momentum untuk memuliakan Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru, yaitu guru agung alam semesta yang menjadi sumber segala ilmu dan kebijaksanaan. Dalam ajaran Hindu, guru memiliki peran yang sangat penting sebagai penuntun hidup manusia menuju kebenaran dan keseimbangan.

Rangkaian Saraswati dan Tujuan Spiritual

Dalam konteks spiritual, Pagerwesi mengandung pesan mendalam tentang pentingnya menjaga dan mengendalikan diri. Setelah umat Hindu menerima anugerah ilmu pengetahuan pada Hari Raya Saraswati, maka pada Pagerwesi, ilmu tersebut harus “dipagari” agar tidak disalahgunakan. Ilmu yang dimiliki tidak hanya sekadar untuk kepentingan pribadi, tetapi juga harus digunakan untuk kebaikan bersama dan sesuai dengan nilai-nilai dharma.

Selain itu, Pagerwesi juga mengajarkan nilai introspeksi diri atau mulat sarira. Umat diajak untuk merenungkan sejauh mana ilmu dan pengetahuan yang dimiliki telah digunakan dengan benar. Apakah telah membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, atau justru sebaliknya. Dengan refleksi ini, diharapkan setiap individu mampu memperbaiki diri dan melangkah ke arah yang lebih baik.

Tradisi dan Relevansi di Era Modern

Perayaan Pagerwesi di Bali umumnya diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan. Sejak pagi hari, umat Hindu melaksanakan persembahyangan di merajan atau sanggah (tempat suci keluarga), serta di pura. Mereka menghaturkan banten sebagai wujud rasa bhakti dan syukur, sekaligus memohon kekuatan lahir dan batin agar mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Suasana religius terasa begitu kental di berbagai penjuru Bali saat Pagerwesi. Umat mengenakan pakaian adat sembahyang, membawa sesajen, dan bersama keluarga menjalankan ritual dengan penuh khidmat. Tidak hanya sebagai kewajiban keagamaan, momen ini juga menjadi sarana mempererat hubungan keluarga dan meningkatkan kesadaran spiritual.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern dan penuh tantangan, nilai-nilai yang terkandung dalam Pagerwesi menjadi semakin relevan. Arus informasi yang begitu cepat menuntut manusia untuk bijak dalam menyaring dan menggunakan ilmu pengetahuan. Tanpa “pagar” yang kuat berupa dharma dan etika, ilmu justru dapat menjadi bumerang.

Oleh karena itu, Hari Raya Pagerwesi tidak hanya menjadi ritual keagamaan semata, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat karakter dan spiritualitas. Dengan memagari diri menggunakan ajaran kebenaran, umat Hindu diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan lebih seimbang, harmonis, dan penuh kebijaksanaan.

Melalui perayaan ini, diharapkan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur tetap terjaga dan menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Pagerwesi pun menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati tidak hanya berasal dari fisik, tetapi juga dari keteguhan iman, pengetahuan, dan kemampuan menjaga diri dari hal-hal negatif. (Abr /IDN). 

0Komentar

Copyright © 2025 - INFODEWATANEWS.COM . All Rights Reserved. Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami