INFODEWATANEWS.COM, Denpasar – Panggung Terbuka Ardha Candra Denpasar kembali menjadi saksi kemegahan karya seni klasik Bali saat Sekaa Gong Legendaris Kebyar Giri Kusuma dari Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng tampil dalam Utsawa Gong Legendaris Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII Tahun 2025, Sabtu (28/6). Dalam usianya yang hampir delapan dekade, sekaa yang berdiri sejak tahun 1947 ini menunjukkan bahwa semangat pelestarian seni karawitan dan tari klasik Bali tetap menyala dan tidak lekang oleh waktu.
Dipimpin oleh I Putu Sudiarsa selaku koordinator, Sekaa Giri Kusuma membawakan empat garapan unggulan, dua di antaranya merupakan tabuh klasik dan dua lainnya tarian yang menggambarkan nilai spiritualitas dan filosofi kehidupan masyarakat Bali. Latihan intensif telah dilakukan sejak Desember 2024, sebagai wujud totalitas mereka dalam menjaga mutu pertunjukan dan keaslian karya maestro terdahulu.
Pertunjukan dibuka dengan Tabuh Kreasi “Pudak Sumekar”, karya maestro I Made Keranca. Garapan ini menggambarkan keindahan bunga pudak yang tumbuh di sekitar Pura Beji dan sumber air Kayoan — tempat suci yang menjadi pusat spiritual warga Bontihing. Melalui denting gamelan yang lembut berpadu dengan irama alam, komposisi ini menghadirkan nuansa sakral yang menyentuh batin penonton. “Karya ini adalah doa alam yang kami wujudkan dalam suara,” ujar Sudiarsa usai penampilan.
Tabuh kedua yang dibawakan, Tabuh Telu “Dwi Mekar”, merupakan karya monumental yang lahir pada tahun 1984. Garapan ini menjadi penanda masa transisi Giri Kusuma dalam menggabungkan eksperimentasi musikal modern dengan pakem lelambatan klasik. Nada-nada berat namun terukur dalam “Dwi Mekar” memunculkan suasana megah, seolah menggambarkan perjalanan spiritual dari harmoni menuju kesempurnaan.
Tak hanya menyajikan karawitan, kekuatan narasi juga hadir melalui Tari Kekelik, ciptaan almarhum I Nyoman Durpa. Kisahnya sederhana namun sarat makna moral: seekor burung besar bernama Kekelik yang sombong dan menindas kawanan burung kecil akhirnya dikalahkan oleh persatuan mereka. Dengan gerak gemulai namun tegas, para penari menampilkan simbol perlawanan terhadap kesombongan dan ketidakadilan. “Kekelik adalah cermin zaman. Ketika kesombongan dilawan dengan kebersamaan,” tutur Sudiarsa menegaskan filosofi karya tersebut.
Sebagai penutup, Giri Kusuma menampilkan Tari Baris “Sura Murti”, garapan I Nyoman Kartina Laksana, yang menggambarkan semangat kepahlawanan dan keberanian seperti sosok Bimasena dalam epos Mahabharata. Iringan gamelan keras dan gagah berpadu dengan langkah baris bergada yang tegap menghadirkan suasana peperangan suci Baratayuda. Gerak ritmis yang kuat disertai ekspresi para penari menegaskan karakter pejuang yang tidak hanya berani, tetapi juga penuh bakti terhadap ibu pertiwi.
Seluruh rangkaian penampilan malam itu bukan sekadar hiburan, melainkan perjalanan spiritual dan refleksi budaya. Giri Kusuma kembali membuktikan bahwa seni klasik Bali bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi masa depan. Sudiarsa menegaskan, kehadiran sekaa legendaris ini di PKB 2025 menjadi bentuk tanggung jawab moral terhadap leluhur dan generasi penerus.
“Harapan kami, apa yang kami suguhkan malam ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan. Anak-anak muda harus tahu bahwa di balik setiap nada dan gerak tari, tersimpan doa, filosofi, dan jati diri sebagai orang Bali,” ujarnya penuh haru.
Melalui konsistensi dan dedikasi Sekaa Gong Legendaris Kebyar Giri Kusuma, semangat pelestarian seni tradisi Bali terus berdenyut. Di tengah arus modernisasi, mereka tetap menjadi benteng kokoh yang menjaga harmoni antara tradisi, spiritualitas, dan kreativitas — sebagaimana semangat luhur yang selalu dihidupi oleh Pesta Kesenian Bali setiap tahunnya.
Editor : Ngurah Ambara /InfoDewataNews

0Komentar