TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Sang Suratma, Juru Tulis Di Neraka

Redaksi InfoDewataNews |    ðŸ•’ Sabtu, Juni 07, 2025
Gambar Utama



Citragupta atau Sang Suratma digambarkan sebagai sosok suci berjubah pendeta tengah duduk di depan kitab besar lontar, mencatat setiap amal baik dan buruk manusia. Sosoknya menjadi simbol keadilan kosmis dan pengingat bahwa setiap perbuatan manusia akan mendapat balasan setimpal di alam baka. Ilustrasi visual AI Ambara / InfoDewataNews


INFODEWATANEWS.COM – Dalam ajaran Hindu, terutama dalam mitologi India kuno yang juga berpengaruh di Nusantara, dikenal sosok Citragupta atau disebut pula Sang Suratma, juru tulis neraka yang mengemban tugas maha penting dalam sistem kosmis kehidupan dan kematian. Citragupta bukan hanya sekadar penjaga catatan, melainkan simbol keadilan spiritual yang memastikan setiap perbuatan manusia mendapat balasan yang sepadan di alam baka.

Menurut keyakinan kuno, Citragupta adalah putra Batara Brahma, sang pencipta alam semesta. Ia tidak lahir melalui rahim seperti manusia pada umumnya, melainkan muncul dari hasil tapa semadi Brahma. Alkisah, saat Dewa Yama—penguasa alam kematian—mengeluh kepada Brahma karena kewalahan mengurus milyaran jiwa dari berbagai jenis makhluk di tiga dunia, yaitu Swargaloka (alam para dewa), Martyaloka (dunia manusia), dan Narakaloka (neraka), maka Brahma pun bersemadi memusatkan pikiran sucinya.

Dari hasil semedi itu, muncullah sosok pria berjubah putih membawa gulungan lontar dan pena. Brahma kemudian bersabda, “Karena engkau lahir dari tubuh-Ku, engkau akan disebut Kayastha. Dan karena engkau lahir dari pikiranku, engkau akan bernama Citragupta.” Ia pun diberi gelar Suratma, sang pencatat jiwa-jiwa. Sejak saat itu, Citragupta mendampingi Yama sebagai pencatat seluruh amal baik dan buruk makhluk hidup.

Citragupta digambarkan dalam berbagai wujud. Dalam beberapa naskah kuno, ia terlihat sebagai seorang brahmana tua dengan jubah pendeta, duduk tenang di depan sebuah buku besar, menulis setiap perbuatan manusia dengan teliti. Dalam versi lain, Citragupta digambarkan sebagai sosok raksasa tua berjambul, bertaring panjang, dan bermata tajam—simbol ketegasan dan kebenaran tanpa kompromi. Ia tahu persis setiap niat, ucapan, dan tindakan yang dilakukan manusia selama hidupnya. Tak satu pun rahasia bisa tersembunyi dari catatannya.

Dahulu, sebelum adanya Citragupta, seluruh urusan pengadilan arwah hanya dipegang oleh Dewa Yama. Namun karena beban tugas yang luar biasa besar, Yama mulai melakukan kesalahan dalam memutuskan nasib jiwa-jiwa—ada yang seharusnya ke Swargaloka malah terlempar ke Naraka, dan sebaliknya. Dewa Brahma yang mengetahui kekeliruan itu menegur Yama agar berhati-hati dan tidak gegabah dalam menentukan keadilan kosmis. Sejak itulah, Brahma menciptakan Citragupta sebagai pembantu utamanya, seorang juru tulis yang mengatur sistem administrasi rohani semesta.

Dalam pengadilan akhirat, para utusan Yama yang disebut Kingkara akan membawa jiwa orang yang baru meninggal ke hadapan Citragupta. Di hadapan sang juru tulis suci ini, buku besar bernama Agra-Samdhani dibuka isi dari buku tersebut adalah catatan lengkap seluruh tindakan manusia sejak lahir hingga mati. Tidak ada kesalahan kecil pun yang luput. Setelah Citragupta membacakan isi catatan itu, barulah Dewa Yama menjatuhkan keputusan: apakah jiwa tersebut layak masuk Swargaloka untuk menikmati pahala, atau harus menebus dosanya di Narakaloka.

Yang menarik, dalam tradisi kuno disebutkan bahwa Citragupta adalah makhluk pertama yang memperkenalkan tulisan di dunia. Ia adalah simbol pengetahuan, disiplin, dan keteraturan kosmis. Tidak dijelaskan secara pasti apakah ia belajar menulis dari Dewi Saraswati—dewi ilmu pengetahuan—atau langsung dari Brahma, namun keyakinan ini menegaskan bahwa tulisan dan catatan memiliki peran sakral dalam menjaga keseimbangan moral alam semesta.

Citragupta juga menjadi lambang introspeksi bagi umat manusia. Ia mengingatkan bahwa setiap pikiran dan perbuatan akan tercatat, sekecil apa pun. Karena itu, manusia diajak untuk selalu berbuat dharma (kebenaran) agar ketika tiba waktunya menghadap Yama, catatan hidupnya bersih dan pantas menuju Swargaloka.

Melalui sosok Citragupta, umat Hindu diajak memahami makna pertanggungjawaban dan keseimbangan antara karma baik dan buruk. Ia adalah penjaga moral semesta, saksi abadi yang tak pernah lengah dalam menulis perjalanan hidup setiap jiwa.

Penulis: Ngurah Ambara
Editor: Redaksi InfoDewataNews.com


0Komentar

Copyright © 2025 - INFODEWATANEWS.COM . All Rights Reserved. Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami