![]() |
| Tangkapan Layar Video akun TikTok @guswah hekinan saat Soudagar Menimbang Babi (celeng). Selasa (1/7/2025). |
INFODEWATANEWS.COM, Bali — Jagat maya Bali kembali dihebohkan oleh sebuah video viral yang memperlihatkan dugaan praktik kecurangan dalam transaksi jual beli babi (celeng). Video tersebut diunggah oleh akun TikTok @guswah hekinan pada Selasa, 1 Juli 2025, dan dalam waktu singkat telah ditonton lebih dari 145 ribu kali serta menuai ratusan komentar dari warganet.
Video berdurasi kurang dari satu menit itu disertai keterangan berbunyi, “Soudagar celeng curang semeton hati-hati.” Unggahan tersebut langsung menarik perhatian publik, khususnya kalangan peternak dan masyarakat Bali yang akrab dengan tradisi jual beli babi untuk keperluan upacara adat maupun konsumsi.
Dalam rekaman video, terlihat beberapa orang berdiri mengelilingi seekor babi yang berada di atas timbangan. Situasi awal tampak seperti proses penimbangan biasa. Namun, kecurigaan muncul ketika seorang pria yang mengenakan jaket dan topi berwarna biru tampak jongkok dan memeriksa bagian bawah timbangan. Beberapa detik kemudian, pria tersebut menemukan sepotong kayu yang diduga sengaja diselipkan sebagai ganjalan timbangan.
Potongan kayu tersebut diyakini digunakan untuk memanipulasi hasil timbang agar berat babi terlihat lebih ringan dari bobot sebenarnya, sehingga merugikan pihak penjual. Temuan itu sontak memicu emosi pria tersebut. Dalam video, ia terlihat melempar kayu ganjalan itu keluar sambil melontarkan kalimat dalam Bahasa Bali, “We kene mainane aruh,” yang secara bebas dapat diartikan sebagai ungkapan kemarahan karena merasa dipermainkan atau ditipu dalam transaksi.
Aksi tersebut langsung memicu reaksi keras dari warganet. Kolom komentar unggahan itu pun dipenuhi beragam respons, mulai dari kemarahan, keprihatinan, hingga saling berbagi pengalaman serupa. Banyak netizen mengaku praktik kecurangan seperti ini bukanlah hal baru dalam dunia jual beli ternak.
“Banyak seperti itu, peternak harus punya timbangan sendiri,” tulis akun @jekks999, mengingatkan agar para peternak tidak sepenuhnya bergantung pada timbangan milik pembeli atau pengepul.
Komentar senada datang dari akun @palguna13 yang menuliskan, “Lebih hati-hati lagi semeton, banyak trik curang ternyata. Tiyang hampir kena tipu juga.” Komentar ini menunjukkan bahwa dugaan kecurangan timbangan bukan hanya terjadi sekali, melainkan diduga sudah cukup sering dialami oleh peternak.
Sementara itu, akun @ariawan menambahkan komentar singkat namun penuh makna, “Banyak oknum sekarang,” yang mencerminkan kekecewaan terhadap praktik tidak jujur dalam transaksi jual beli.
Viralnya video ini menjadi peringatan serius bagi para peternak babi di Bali, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan dan adat, di mana permintaan babi biasanya meningkat tajam. Pada momen-momen tersebut, transaksi ternak kerap berlangsung cepat dan dalam jumlah besar, sehingga membuka celah terjadinya praktik curang oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Sejumlah warganet juga menyarankan agar peternak lebih teliti memeriksa alat timbang sebelum transaksi dilakukan. Bahkan, memiliki timbangan sendiri dinilai sebagai langkah paling aman untuk memastikan transparansi dan keadilan dalam jual beli. Selain itu, disarankan agar transaksi dilakukan secara terbuka, disaksikan bersama, dan bila perlu direkam sebagai bentuk dokumentasi.
Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti lokasi kejadian maupun identitas pihak-pihak yang terlibat dalam video tersebut. Belum ada pula keterangan resmi dari pihak berwenang terkait dugaan kecurangan ini. Meski demikian, video viral ini telah membuka diskusi luas di masyarakat mengenai pentingnya kejujuran dan etika dalam transaksi ekonomi, khususnya di sektor peternakan tradisional.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di tengah meningkatnya kebutuhan ekonomi, integritas dan kepercayaan tetap menjadi fondasi utama dalam setiap transaksi. Masyarakat diharapkan semakin waspada, kritis, dan berani menyuarakan ketidakadilan agar praktik-praktik merugikan dapat dicegah sejak dini.
Editor : Redaksi InfoDewataNews

0Komentar