INFODEWATANEWS.COM, DENPASAR – Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII tahun 2025 kembali menghadirkan semarak budaya yang menggugah rasa bangga masyarakat Bali. Memasuki hari pelaksanaan pada Senin, 7 Juli 2025, berbagai duta kesenian dari kabupaten dan kota di Bali menampilkan karya unggulan yang menghidupkan nilai-nilai tradisi, spiritualitas, dan kreativitas seniman lokal.
Rangkaian kegiatan hari itu berlangsung meriah di berbagai panggung Taman Budaya Bali (Art Centre) Denpasar, yang sejak awal bulan menjadi pusat perhatian masyarakat dan wisatawan. Setiap pergelaran dalam PKB bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan — menghadirkan nilai-nilai estetika, etika, dan filosofi yang menjadi jati diri masyarakat Bali.
Agenda dimulai pada pukul 14.00 WITA di Kalangan Angsoka, dengan pergelaran Rekasadana (Pergelaran) Tabuh-Tabuh Semara Pagulingan oleh Sanggar Seni Cakup Kaler dari Banjar Semanik, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, yang mewakili Duta Kabupaten Badung.
Penampilan mereka menjadi salah satu daya tarik tersendiri karena menampilkan kekayaan musikal Bali klasik yang menonjolkan harmoni, kehalusan, serta ketenangan batin. Tabuh Semara Pagulingan dikenal sebagai bentuk gamelan yang lembut dan berkarakter halus, digunakan dalam konteks upacara maupun pertunjukan yang bersifat sakral.
Nada-nada yang mengalun lembut seakan membawa penonton ke dalam suasana meditatif, menghadirkan ketenangan jiwa di tengah hiruk pikuk festival. Nuansa musikal ini mencerminkan falsafah hidup masyarakat Bali yang selalu menyeimbangkan antara kesenian dan spiritualitas. Penonton pun memberikan apresiasi luar biasa, menandakan bahwa kesenian klasik tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat modern.
Memasuki malam hari, suasana semakin semarak dengan dua agenda besar yang digelar secara paralel di dua panggung utama.
Di Kalangan Ayodya, pukul 20.00 WITA, tampil Sanggar Kanti Budaya Bangli sebagai Duta Kabupaten Bangli melalui Utsawa (Parade) Drama Gong Tradisi.
Drama Gong Tradisi merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan paling populer di Bali yang memadukan seni peran, tari, musik, dan sastra Bali klasik. Lakon yang ditampilkan sarat pesan moral dan nilai kehidupan, dibawakan dengan dialog penuh rasa, ekspresi dramatik yang kuat, serta diiringi oleh tabuhan gong khas yang menggugah emosi penonton.
Pertunjukan ini menghadirkan suasana nostalgia bagi pecinta seni teater tradisional. Penonton diajak menikmati lakon klasik yang dikemas penuh totalitas, memperlihatkan keindahan bahasa Bali halus dan kekuatan karakter dalam setiap adegan. Kehadiran Drama Gong di PKB menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki penggemar setia di tengah arus hiburan modern.
Sementara itu, di Panggung Terbuka Ardha Candra, pada waktu yang sama, digelar Utsawa (Parade) Gong Kebyar Wanita, yang menampilkan dua sekaa gong dari kabupaten berbeda.
Pertama, Sekaa Gong Karang Asti Komala dari Desa Adat Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, mewakili Duta Kabupaten Badung, menampilkan komposisi kebyar yang energik dan penuh semangat.
Kedua, Sanggar Sanjiwani dari Arena Sukawati Satu, Jalan Sersan Wayan Pugig, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati, tampil sebagai Duta Kabupaten Gianyar, menghadirkan kekuatan tabuh wanita yang tidak kalah megah dan disiplin.
Kedua kelompok ini menunjukkan bahwa seni gamelan kebyar tidak hanya menjadi ruang ekspresi kaum pria, tetapi juga panggung bagi perempuan untuk berkiprah dan menunjukkan kemampuan luar biasa. Gerak dinamis, tempo cepat, serta kekompakan pemain menjadi bukti bahwa perempuan Bali memiliki kontribusi besar dalam menjaga keberlanjutan seni tradisi.
Penonton memenuhi area Ardha Candra untuk menyaksikan keindahan tabuh gong wanita yang menggema dengan penuh kekuatan. Sorak tepuk tangan terus mengiringi setiap bagian tabuh yang dibawakan, menggambarkan antusiasme masyarakat terhadap kiprah seniman perempuan dalam dunia seni tabuh Bali.
Rangkaian kegiatan PKB XLVII 2025 hari itu tidak hanya menghadirkan tontonan berkualitas, tetapi juga menjadi wadah penting untuk pelestarian budaya serta regenerasi seniman muda.
Semangat para peserta yang datang dari berbagai pelosok Bali menunjukkan bahwa seni tradisi masih menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat.
Melalui pertunjukan yang memadukan nilai estetika, dedikasi, dan kebersamaan, Pesta Kesenian Bali kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu festival budaya paling berpengaruh di Indonesia dan dunia. Bagi masyarakat Bali, PKB bukan sekadar agenda tahunan, melainkan perayaan jati diri, wujud cinta, dan persembahan untuk leluhur serta bumi tempat mereka berpijak.
Penulis: Ngurah Ambara
Editor: Redaksi InfoDewataNews

0Komentar