![]() |
| Seorang wanita Hindu Bali membawa banten persembahan serangkaian Hari Raya Pagerwesi dengan penuh rasa syukur. (Foto: Visual AI Ambara/InfoDewataNews) |
INFODEWATANEWS.COM – Umat Hindu di Bali memiliki berbagai hari raya suci yang masing-masing memiliki makna filosofis mendalam. Salah satunya adalah Hari Raya Pagerwesi, yang diperingati setiap Budha Kliwon Wuku Sinta, yaitu empat hari setelah Hari Raya Saraswati. Pagerwesi dalam tradisi Hindu Bali dimaknai sebagai hari untuk “memagari diri” dengan kekuatan dharma, agar tidak mudah tergoyahkan oleh kegelapan pikiran dan godaan adharma.
Makna Filosofis Pagerwesi
Secara harfiah, kata Pagerwesi berasal dari dua kata: pager yang berarti pagar atau pelindung, dan wesi yang berarti besi. Jadi, Pagerwesi berarti pagar besi, simbol perlindungan yang kuat dan kokoh. Pada hari ini, umat Hindu diajak untuk memperkokoh iman, sradha, dan bhakti agar tidak rapuh diterpa pengaruh buruk.
Dalam lontar-lontar suci disebutkan bahwa Pagerwesi berkaitan dengan pemujaan kepada Dewa Siwa sebagai Sang Hyang Pramesti Guru, yaitu manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai guru sejati yang membimbing umat manusia menuju jalan kebenaran. Oleh karena itu, Pagerwesi sering disebut juga sebagai hari untuk memperingati “Guru Tattwa”, yakni inti ajaran guru yang mengajarkan dharma sebagai pedoman hidup.
Hubungan dengan Saraswati
Pagerwesi selalu jatuh empat hari setelah Hari Saraswati, hari suci untuk memuja Dewi Saraswati, simbol ilmu pengetahuan. Hubungan ini mengandung filosofi bahwa ilmu pengetahuan (Saraswati) perlu dijaga dengan pagar dharma (Pagerwesi) agar tidak disalahgunakan untuk tujuan yang keliru. Dengan demikian, umat Hindu diingatkan bahwa ilmu tidak boleh dilepaskan dari kebijaksanaan dan pengendalian diri.
Rangkaian dan Tradisi Pagerwesi di Bali
Di Bali, perayaan Pagerwesi dilakukan dengan penuh kekhidmatan di rumah, merajan (sanggah/merajan keluarga), pura desa, hingga pura kahyangan jagat. Persembahyangan dilakukan sejak pagi hingga siang hari. Sarana upakara yang disiapkan berupa banten sesajen sesuai tradisi masing-masing daerah, yang isinya melambangkan kesucian dan ketulusan bhakti.
Beberapa keluarga juga menyiapkan sate caru, nasi kuning, dan buah-buahan sebagai simbol kemakmuran serta rasa syukur. Seperti halnya Galungan, Pagerwesi juga dianggap sebagai momentum memperkuat benteng diri dari pengaruh butha kala (energi negatif).
Di pura-pura besar, Pagerwesi biasanya dirayakan dengan sembahyang bersama yang diikuti ribuan umat. Umat Hindu, khususnya di Bali Utara, memaknai Pagerwesi sebagai “Galungan kecil”, karena sama-sama menekankan pada kemenangan dharma melawan adharma.
Pesan Moral Pagerwesi
Makna Pagerwesi sangat relevan dengan kehidupan modern saat ini. Di tengah derasnya arus globalisasi dan teknologi, manusia dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari degradasi moral, konsumerisme, hingga kerusakan lingkungan. Pagerwesi hadir sebagai pengingat agar setiap orang memagari diri dengan iman, etika, dan kebajikan.
Pagar besi bukan hanya melindungi secara fisik, melainkan simbol tekad dan keteguhan hati. Dengan iman yang kuat, seseorang dapat memilah mana yang benar dan salah, mana yang bermanfaat dan merugikan.
Selain itu, Pagerwesi juga memberi pesan penting mengenai peran guru. Guru sejati bukan sekadar sosok pengajar, tetapi juga sumber kebijaksanaan. Oleh karena itu, penghormatan kepada guru, baik guru di sekolah, guru rohani, maupun orang tua sebagai guru utama dalam keluarga, menjadi bagian dari spirit Pagerwesi.
Pagerwesi dan Tri Hita Karana
Sejalan dengan konsep Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan), Pagerwesi mengingatkan umat Hindu untuk menjaga keseimbangan:
-
Parahyangan: memperkuat hubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa lewat sembahyang.
-
Pawongan: menjaga keharmonisan dengan sesama manusia lewat gotong royong, solidaritas, dan kasih sayang.
-
Palemahan: menjaga kelestarian alam sebagai bentuk bhakti nyata.
Dengan memaknai Pagerwesi secara utuh, umat Hindu diharapkan mampu menjalani hidup lebih harmonis, penuh kebijaksanaan, dan terhindar dari pengaruh negatif.
Hari Raya Pagerwesi bukan hanya ritual keagamaan, melainkan momentum spiritual untuk introspeksi diri. Umat Hindu diajak memperkokoh iman, menjaga kesucian pikiran, dan menguatkan benteng moral layaknya pagar besi yang kokoh.
Dengan demikian, Pagerwesi menjadi hari raya yang mengingatkan kita semua bahwa dalam hidup ini, dharma harus selalu dijaga dan ditegakkan. Sebab, hanya dengan dharma-lah umat manusia dapat meraih kedamaian sejati, baik sekala maupun niskala.

0Komentar