TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Makna Tri Hita Karana, Falsafah Hidup Harmonis Orang Bali

👤 Ngurah Ambara | InfoDewataNews    ðŸ•’ Senin, Oktober 27, 2025
Gambar Utama

Seorang wanita Bali membawa persembahan di tengah hamparan sawah, simbol keharmonisan manusia dengan alam dan Tuhan. Visual: Ambara / InfoDewataNews 



INFODEWATANEWS.COM — Bali tidak hanya dikenal karena pesonanya yang menawan atau panorama alamnya yang memesona. Pulau ini hidup dan berdenyut oleh kekuatan spiritual, oleh falsafah yang menuntun setiap langkah masyarakatnya dalam keseharian — Tri Hita Karana, tiga penyebab kebahagiaan yang menjadi dasar harmoni kehidupan orang Bali.

Kata Tri Hita Karana berasal dari bahasa Sanskerta: Tri berarti tiga, Hita berarti kebahagiaan, dan Karana berarti sebab. Maka maknanya adalah “tiga jalan menuju kebahagiaan sejati”. Tiga jalan ini bukan sekadar konsep, melainkan laku hidup yang mengatur bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.

Parahyangan — Harmoni dengan Tuhan

Dalam dimensi Parahyangan, manusia menyadari bahwa hidup ini bersumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Setiap napas, setiap denyut jantung, adalah anugerah-Nya. Karena itu, orang Bali senantiasa memuliakan Sang Pencipta lewat upacara, doa, dan persembahan yang disebut yadnya.

Dari pura di hulu hingga sanggah kemulan di halaman rumah, semua menjadi jembatan suci antara manusia dan yang ilahi. Bunga, dupa, dan canang yang sederhana pun menjadi simbol cinta kasih dan syukur atas berkah kehidupan.

Yadnya bukan sekadar ritual, tetapi wujud rasa terima kasih.

Begitulah ajaran leluhur menuntun setiap umat agar tidak lupa sumber hidupnya. Dalam setiap pujawali dan doa senja, orang Bali diajak untuk menyatu dengan kesunyian batin mencari kedamaian dalam keheningan, bukan dalam keramaian.

Pawongan — Harmoni dengan Sesama

Kehidupan tidak bisa berdiri sendiri. Dalam ajaran Pawongan, manusia diajak untuk menjalin kasih dan saling menghormati antar sesama. Menawa kita kabeh sedulur ring jagat puniki, semua adalah saudara di alam ini.

Nilai ini tampak dalam budaya gotong royong, ngayah, dan menyama braya. Ketika ada upacara di pura, semua ikut turun tangan tanpa pamrih. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah, karena kebersamaan adalah roh dari kehidupan sosial Bali.

Kebahagiaan sejati tidak datang dari harta, melainkan dari ketulusan memberi dan keikhlasan melayani. Dalam Pawongan, orang Bali belajar bahwa keharmonisan sosial adalah cermin dari keseimbangan batin.

Palemahan — Harmoni dengan Alam

Sementara itu, Palemahan mengajarkan hubungan manusia dengan alam. Alam bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ibu yang memberi kehidupan. Gunung, laut, sungai, dan pepohonan dipandang suci karena di sanalah roh kehidupan bersemayam.

Dari ajaran inilah lahir sistem Subak, warisan budaya dunia yang bukan hanya mengatur air, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Saat air mengalir di petak sawah, itu bukan sekadar irigasi — itu doa yang bergerak, tanda kehidupan yang disyukuri.

Orang Bali percaya, jika alam dirusak, maka keseimbangan semesta terganggu. Karena itu, Palemahan bukan hanya tentang lingkungan, tetapi tentang kesadaran spiritual untuk merawat ciptaan Tuhan.

Harmoni sebagai Jalan Hidup

Tri Hita Karana bukan sekadar falsafah kuno yang tertulis dalam lontar, melainkan nafas kehidupan masyarakat Bali. Ia hadir dalam senyum petani yang menanam padi, dalam tangan ibu yang menata canang, dan dalam hati setiap orang yang memilih damai di tengah dunia yang hiruk pikuk.

Di era modern ini, ajaran Tri Hita Karana mengingatkan kita untuk tetap berpijak pada keseimbangan. Bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menghapus spiritualitas, dan kemakmuran tidak boleh membuat manusia lupa pada asalnya.

Tri Hita Karana adalah pesan abadi:

“Selaraslah dengan Tuhan, cintailah sesama, dan jagalah alam,maka kebahagiaan sejati akan datang tanpa perlu dicari.”

Dengan falsafah ini, Bali bukan hanya pulau yang indah, melainkan tanah suci di mana harmoni menjadi doa yang hidup di setiap langkah manusia. (am/Idn). 


Penulis : Ngurah Ambara
Editor : Redaksi

0Komentar

Copyright© - INFODEWATANEWS.COM . Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami