TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Makna dan Filosofi Tumpek Wariga, Hari Suci Pemuliaan Alam dan Tumbuh-Tumbuhan

👤 Ngurah Ambara | InfoDewataNews    ðŸ•’ Sabtu, Oktober 25, 2025
Gambar Utama

Seorang ibu bersama anaknya memanjatkan doa dan harapan di bawah pohon durian saat perayaan Tumpek Wariga di pedesaan Bali. Upacara ini menjadi simbol rasa syukur dan penghormatan kepada alam serta tumbuh-tumbuhan yang memberi kehidupan, Visual Ai Ambara /InfoDewataNews 



INFODEWATANEWS.COM — Tumpek Wariga merupakan salah satu hari suci penting bagi umat Hindu di Bali yang memiliki makna mendalam sebagai wujud rasa syukur dan pemuliaan terhadap alam, khususnya tumbuh-tumbuhan. Tumpek Wariga juga menjadi penanda bahwa Hari Raya Galungan akan tiba dalam 25 hari lagi, sebuah momen spiritual yang sarat makna keseimbangan dan kehidupan.

Rahina Tumpek Wariga diperingati setiap enam bulan sekali atau setiap 210 hari sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Wariga. Hari suci ini juga dikenal dengan berbagai sebutan lain seperti Tumpek Pengarah, Tumpek Pengatag, Tumpek Uduh, atau Tumpek Bubuh.

Walau memiliki nama berbeda, semuanya mengandung makna yang sama — yaitu hari untuk menghormati dan memuliakan tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan manusia.

Dalam lontar Sundari Gama disebutkan:

“Wariga Saniscara Kliwon, ngaran pangunduh pujawali Sanghyang Sangkara, apan Sira amrtaken sarwaning tawuwuh.”

Artinya, pada hari Saniscara Kliwon Wuku Wariga diperingati sebagai hari pemujaan kepada Sanghyang Sangkara, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Dewa yang menghidupkan dan memelihara segala jenis tumbuh-tumbuhan.

Dewa Sangkara, Dewa Penguasa Kesuburan Alam

Dalam ajaran Hindu di Bali, Dewa Sangkara dipuja sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan dan kesuburan bumiBeliau bersthana di arah Barat Laut (Wayabhya), dengan warna hijau sebagai simbol kesuburan, aksara suci “SI”, senjata angkus, dan tunggangannya seekor singa. .

Pemujaan kepada Dewa Sangkara merupakan bentuk penghormatan atas karunia alam yang memberikan kehidupan, pangan, dan keseimbangan bagi umat manusia. Dalam konteks spiritual, Dewa Sangkara melambangkan kekuatan alam yang menumbuhkan, memberi makan, dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Tradisi dan Prosesi Tumpek Wariga

Perayaan Tumpek Wariga biasanya dilakukan oleh umat Hindu di Bali di kebun, pekarangan rumah, atau tegalan tempat berbagai tanaman tumbuh.

Masyarakat menghaturkan banten berupa canang sari, bubur dari tepung beras, dan tirtha (air suci) kepada Dewa Sangkara sebagai ungkapan terima kasih serta doa agar tanaman tumbuh subur, berbuah lebat, dan terhindar dari hama penyakit.

Dalam pelaksanaan upacara, sering pula diiringi sesontengan atau nyanyian tradisional seperti:

“Kaki... kaki... Dadong dija? Ia Jumah, Ia Ngudiang Jumah? Ia gelem kebus dingin ngetor, ngeed, ngeed, ngeed. Ngeed kaje, ngeed kelod, ngeed kangin, ngeed kauh, buin selae lemeng Galungane mangda mabuah ngeedd.

Yang jika diterjemahkan berarti:

“Kakek, kakek, nenek ke mana? Ia di rumah, sedang apa di rumah? Ia sedang sakit panas dingin menggigil. Lebat, lebat, lebat. Lebat di utara, lebat di selatan, lebat di timur, dan lebat di barat, lagi dua puluh lima hari lagi Hari Raya Galungan supaya berbuah lebaaaatttt.”

Syair ini diucapkan sambil mengetok atau menepuk batang pohon sebanyak tiga kali, disertai doa dan senyum penuh harapan.

Maknanya adalah memohon agar pohon-pohon berbuah banyak dan memberi hasil berlimpah menjelang Galungan.

Tradisi ini juga menggambarkan kedekatan emosional dan spiritual masyarakat Bali dengan alam — di mana manusia, tumbuhan, dan Tuhan hidup dalam satu kesatuan harmoni.

Makna Filosofis Tumpek Wariga

Secara filosofis, Tumpek Wariga merupakan perwujudan dari ajaran Tri Hita Karana, khususnya aspek Palemahan — yaitu hubungan harmonis antara manusia dengan alam lingkungannya.

Melalui perayaan ini, umat Hindu diingatkan untuk selalu menjaga kelestarian alam, tidak merusak lingkungan, serta bersyukur atas anugerah Tuhan berupa kesuburan bumi.

Di tengah isu global seperti perubahan iklim, perusakan hutan, dan polusi, makna Tumpek Wariga semakin relevan. Upacara ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga gerakan ekologis yang menanamkan nilai pelestarian alam.

Itulah sebabnya Tumpek Wariga sering disebut sebagai “Hari Lingkungan Hidup-nya umat Hindu Bali.”

Simbol Keselarasan Manusia dan Alam

Makna terdalam Tumpek Wariga adalah kesadaran bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa alam. Melalui penghormatan kepada tumbuh-tumbuhan, umat Hindu diajak untuk merenungi bahwa setiap daun, bunga, dan buah memiliki peran penting dalam menopang kehidupan.

Alam bukan sekadar tempat mencari penghidupan, tetapi juga bagian dari spiritualitas manusia itu sendiri.

Perayaan Tumpek Wariga pun menjadi momentum bagi generasi muda untuk belajar mencintai dan merawat lingkungan, menanam pohon, serta memperkuat rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Dalam suasana sederhana namun penuh makna, umat Hindu di Bali menjalankan upacara ini dengan ketulusan hati, mencerminkan keharmonisan antara iman, budaya, dan ekologi.

Dengan demikian, Tumpek Wariga bukan hanya penanda bahwa Hari Raya Galungan akan segera tiba, tetapi juga momen penting untuk memuliakan alam, memupuk rasa syukur, dan memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan hidup.

Melalui upacara ini, umat Hindu di Bali diajak untuk terus merawat hubungan harmonis dengan alam semesta, agar kehidupan tetap lestari, seimbang, dan penuh berkah. 

✍️ Penulis: Ngurah Ambara | Editor: Redaksi

0Komentar

Copyright© - INFODEWATANEWS.COM . Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami