TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Sejarah Makepung: Dari Lomba Cikar Para Buruh Padi Hingga Menjadi Ikon Budaya Jembrana

Redaksi InfoDewataNews |    ðŸ•’ Senin, November 24, 2025
Gambar Utama

Para joki mengendalikan pasangan kerbau pepadu dalam atraksi Makepung di Kabupaten Jembrana. Tradisi pacu kerbau khas Jembrana ini kini menjadi ikon budaya yang menarik wisatawan. (Foto: Wikipedia /InfoDewataNews) 

INFODEWATANEWS.COM – Makepung merupakan salah satu tradisi unik masyarakat agraris di Kabupaten Jembrana, Bali, yang kini telah menjadi ikon budaya serta daya tarik wisata. Lomba pacu kerbau ini tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga menyimpan nilai sejarah panjang yang berawal dari tradisi sederhana para buruh padi. Dari sebuah kebiasaan iseng melepas lelah seusai bekerja, makepung kemudian berkembang menjadi ajang bergengsi yang menghidupkan kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat subak.

Sejarah dan Asal-Usul Makepung

Awal mula makepung tidak lepas dari aktivitas para buruh angkut padi pada masa lalu. Di beberapa desa seperti Buluk, Banyubiru, dan Kaliakah, para buruh sepakat mengadakan adu cepat menggunakan cikar atau pedati yang ditarik sepasang kerbau. Mereka berlomba mengangkut padi hasil panen sepanjang jalur subak, sekadar untuk menciptakan suasana kerja yang lebih hidup dan menyenangkan.

Pada sore hari menjelang malam, para buruh yang selesai memikul padi biasanya akan berkumpul dan membuat adu cepat sambil bersorak riang. Tidak ada aturan yang ketat, tidak ada gelar juara, hanya permainan pelepas penat yang ternyata memberikan dampak positif—baik bagi para buruh maupun kerbau yang digunakan. Tradisi kecil ini perlahan berkembang menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu setiap musim panen.

Diperkirakan, kegiatan adu cikar ini sudah muncul sejak tahun 1920-an. Dari sekadar atraksi antarburuh dan antar desa, akhirnya tradisi ini berkembang menjadi pakepungan, yaitu bentuk atraksi yang lebih terorganisir dan memiliki aturan main.

Makna Makepung dalam Tradisi Agraris

Makepung kemudian menjadi simbol keharmonisan masyarakat agraris Jembrana. Lomba pacu kerbau ini dipandang sebagai bentuk penyeimbang dan ungkapan syukur atas keberadaan subak, organisasi tradisional pengelola air yang menjadi tulang punggung pertanian Bali.

Atraksi makepung menjadi puncak kemeriahan pesta rakyat sebelum memasuki musim tanam berikutnya. Warga berkumpul di sebuah tempat khusus bernama Arean Pakepungan, tempat lintasan dibuat dan kerbau-kerbau pepadu dipertandingkan. Tradisi ini bukan sekadar olah raga desa, tetapi sebuah pesta budaya yang mempertemukan berbagai komunitas tani dari berbagai wilayah di Jembrana.

Kini makepung tidak lagi sekadar permainan antar tetangga. Tradisi ini telah berkembang menjadi lomba resmi melibatkan dua kelompok besar atau blok, yang menjadi komunitas penting dalam pelaksanaan atraksi. Dua blok tersebut biasanya mewakili wilayah yang berbeda dan menjadi identitas tersendiri bagi para pepadu — sebutan untuk joki serta pemilik kerbau.

Properti Atraksi Makepung

Keunikan makepung tidak lepas dari berbagai properti yang digunakan, baik oleh joki maupun kerbau. Para joki tampil dengan ciri khas:

Bertelanjang dada, Memakai kain tapis, Tekes kepala bercorak batik, Celana panjang gelap sebatas lutut, Sempak Kolong, celana khas Jembrana yang diselipkan di pinggang

Sementara itu, kerbau pepadu dihias dengan berbagai ornamen yang meriah. Bagian kepala kerbau dipasangi rumbing, semacam mahkota, serta slongsong tanduk berwarna-warni. Ornamen cerah inilah yang sempat membuat orang Belanda pada masa kolonial menyebut makepung sebagai “Benhur Jembrana”, karena kemiripannya dengan kereta perang Romawi yang megah.

Aturan dan Jalannya Lomba

Lintasan makepung memiliki karakter khusus. Bentuknya seperti huruf “U” dengan panjang sekitar 1 kilometer dan lebar 4 meter, menggunakan tanah berpasir supaya kerbau dapat berlari lebih cepat. Garis start dan finish berada di satu titik yang sama, tempat juri dan pengibar bendera menentukan hasil lomba.

Sistem start dilakukan secara berbaris ke belakang. Dua pasangan kerbau dipasangkan dengan jarak lima meter. Pada hitungan ketiga dari juri, kerbau mulai berlari menyusuri jalur. Setelah seluruh pasangan dilepas — bisa mencapai 100 pasang kerbau — barulah pasangan pertama yang sudah selesai menunggu kembali dilepas menuju garis akhir.

Menariknya, karena metode start seperti ini, peserta yang berada di posisi kedua pada awal lomba bisa saja menjadi pemenang jika berhasil menyalip lawannya di lintasan.

Makepung bukan hanya sekadar perlombaan pacu kerbau. Tradisi ini menjadi cermin kuatnya budaya agraris, kerja sama, serta rasa syukur masyarakat Jembrana terhadap hasil alam. Dari permainan sederhana para buruh pada tahun 1920-an, makepung kini menjelma menjadi ikon budaya yang dibanggakan dan terus dilestarikan.

Kemeriahan suasana, keindahan hiasan kerbau, sorak para pendukung, hingga gaya khas para joki menjadikan makepung sebagai warisan budaya yang patut dijaga. Tradisi ini tidak hanya memperkuat identitas Jembrana, tetapi juga memperkaya khazanah budaya Bali dan Indonesia.

Penulis: Ngurah Ambara
Editor: Redaksi InfoDewataNews



0Komentar

Copyright © 2025 - INFODEWATANEWS.COM . All Rights Reserved. Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami