INFODEWATANEWS.COM — Dalam kepercayaan tradisional Bali, ilmu pengeleakan masih menjadi bagian dari narasi spiritual yang hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Salah satu ilmu leak yang paling dikenal dan dianggap memiliki tingkat kesaktian tinggi adalah Leak Pudak Sategal, sebuah ilmu leak tingkat 7 yang dipercaya mampu mengelabui manusia melalui perubahan wujud serta aroma harum yang memikat. Kisah tentang ilmu ini tercatat dalam berbagai literatur spiritual, salah satunya dalam buku Leak Ngamah Leak karya Drs. I Wayan Yendra (Jro Mangku Alit Pekandelan).
Leak Pudak Sategal dikenal sebagai ilmu pengeleakan yang memungkinkan penguasanya berubah wujud menjadi seorang wanita yang sangat cantik, berwajah bercahaya, serta memancarkan wangi harum semerbak. Di balik pesona tersebut, ilmu ini dipercaya memiliki daya serang yang sangat mematikan. Karena sering digunakan untuk menggoda kaum lelaki, Leak ini juga dijuluki “Leak Jalir” atau Leak Jalang.
Asal-usul Leak Pudak Sategal
Masih berdasarkan Buku Leak Ngamah Leak, Leak Pudak Sategal disebut sebagai ilmu andalan Nyi Rarung, murid tersakti Nyi Calonarang, tokoh legendaris yang hidup pada masa pemerintahan Raja Airlangga di Kerajaan Kediri, Jawa Timur. Ilmu ini dipercaya sering digunakan sebagai sarana balas dendam spiritual terhadap lelaki yang pernah menyakiti penekunnya atau mereka yang tidak setia terhadap pasangannya.
Dalam berbagai kisah, Leak Pudak Sategal kerap beraksi di tempat-tempat sepi dan angker, seperti kuburan atau jalanan sunyi pada tengah malam. Targetnya umumnya adalah kaum lelaki yang lengah dan mudah terpikat.
Tanda Kemunculan Leak Pudak Sategal
Kemunculan Leak Pudak Sategal selalu ditandai dengan aroma harum bunga pudak yang sangat kuat. Bagi penekun leak dengan tingkat ilmu tinggi, aroma ini dipercaya dapat tercium dari jarak yang sangat jauh. Korban akan merasakan bau harum tersebut seolah-olah memenuhi seluruh penjuru dunia, sehingga menimbulkan rasa penasaran dan ketertarikan.
Saat korban mengikuti sumber bau harum tersebut, dari kejauhan akan tampak sosok perempuan yang sangat cantik, bahkan digambarkan menyerupai bidadari. Wajahnya bercahaya dan kecantikannya dipercaya tidak tertandingi oleh perempuan mana pun. Namun, ketika korban telah mendekat dan benar-benar terpikat, sosok tersebut akan berubah wujud menjadi leak lain yang lebih menyeramkan, sering kali menjadi Leak Gundul (Celuluk), lalu menyerang korbannya.
Dua Ajian Ilmu Leak Pudak Sategal: Perubahan Wujud dan Teluh Teranjana
Ilmu Leak Pudak Sategal dipercaya memiliki dua Ajian, yang pertama adalah ilmu perubahan wujud, yaitu kemampuan menjelma menjadi wanita cantik untuk mengelabui dan memikat korban. Kedua adalah ilmu teluh teranjana (santet) yang sangat dahsyat.
Teluh Pudak Sategal dipercaya mampu membunuh hingga tujuh orang sekaligus, bahkan mengutuk korbannya hingga tujuh keturunan akan meninggal akibat teluh tersebut. Karena kedahsyatannya, ilmu teluh ini tidak hanya dikenal di Bali, tetapi juga memiliki sebutan berbeda di berbagai daerah, antara lain: Di Jawa Tengah dikenal sebagai Santet Pring Sedapur, Di Banten disebut Santet Tujuh Jajar, Di wilayah Jawa bagian selatan dikenal sebagai Santet Rungkat Kimpul, Sementara dalam tradisi Melayu disebut Santet Serumpun Bambu.
Meski memiliki kesaktian yang luar biasa, penggunaan ilmu Leak Pudak Sategal dipercaya membawa risiko besar bagi penekunnya, baik secara spiritual maupun karmis.
Upacara Mapeluasang dan Cara Menghentikan Teluh
Dalam kepercayaan masyarakat Bali, apabila terjadi kematian secara misterius, keluarga biasanya akan melaksanakan upacara mapeluasang, yaitu ritual untuk berkomunikasi dengan arwah orang yang meninggal melalui perantara penekun spiritual atau dukun. Dari ritual ini dipercaya dapat diketahui penyebab kematian seseorang, termasuk apakah ia meninggal akibat teluh Leak Pudak Sategal.
Mengacu pada Buku Leak Ngamah Leak karya Drs. I Wayan Yendra (Jro Mangku Alit Pekandelan), disebutkan bahwa terdapat cara khusus untuk menghentikan kutukan sekaligus membalas teluh tersebut. Caranya dilakukan saat jenazah korban dibawa menuju setra atau kuburan. Salah satu anak korban tidak diperkenankan ikut mengiringi jenazah, melainkan berjalan berlawanan arah sambil membawa sebuah kendi hingga tiba di perempatan.
Sesampainya di perempatan agung, kendi tersebut harus dibanting hingga pecah. Apabila korban benar-benar meninggal akibat teluh Leak Pudak Sategal, ritual ini dipercaya akan menyebabkan pengguna ilmu leak beserta pihak-pihak yang bersekongkol dengannya meninggal secara tiba-tiba dalam kurun waktu sekitar 40 hari setelah kematian korban. Selain itu, kutukan hingga tujuh keturunan diyakini akan terputus.
Kepercayaan terhadap Leak Pudak Sategal hingga kini masih menjadi bagian dari cerita spiritual dan budaya lisan masyarakat Bali serta wilayah lain di Nusantara. Kisah tentang ilmu ini tidak hanya menggambarkan kesaktian dan sisi mistis, tetapi juga memuat pesan tentang konsekuensi dari dendam, penyalahgunaan ilmu, dan niat buruk terhadap sesama manusia.
Artikel ini menyajikan kisah Leak Pudak Sategal sebagai bagian dari dokumentasi budaya dan literatur spiritual Nusantara. Artikel ini bertujuan untuk memperkaya wawasan pembaca mengenai warisan kepercayaan tradisional, tanpa dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan.
Editor : Redaksi InfoDewataNews

0Komentar