TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Goa Gajah Gianyar, Jejak Sejarah dan Spiritualitas di Tengah Alam Tropis Bali

👤 Ngurah Ambara | InfoDewataNews    ðŸ•’ Rabu, Januari 14, 2026
Gambar Utama

Pintu gua iconic berbentuk mulut raksasa dengan ukiran wajah menyeramkan di Goa Gajah, Gianyar. Relief ini dipercaya menggambarkan Bhoma atau Kala sebagai simbol penolak bala dalam kepercayaan Bali. Foto: IG/@charlottejaynewalton


INFODEWATANEWS.COM, GIANYAR – Bali tidak hanya dikenal dengan pantainya yang indah, tetapi juga menyimpan warisan sejarah dan spiritual yang bernilai tinggi. Salah satu destinasi yang menjadi saksi perjalanan peradaban kuno di Pulau Dewata adalah Objek Wisata Goa Gajah. Terletak di Banjar Goa, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Goa Gajah berjarak sekitar 5 kilometer dari kawasan Ubud dan mudah diakses oleh wisatawan.

Goa Gajah dikenal sebagai situs bersejarah yang memadukan nilai arkeologi, religi, dan budaya. Keberadaannya bukan hanya sebagai objek wisata, tetapi juga tempat suci yang hingga kini masih digunakan untuk kegiatan keagamaan. Suasana sejuk dengan pepohonan rindang serta aliran sungai di sekitarnya menambah kesan sakral dan menenangkan bagi setiap pengunjung.

Daya Tarik Goa Gajah

Daya tarik utama Goa Gajah terletak pada kekayaan sejarah dan nilai spiritual yang menyatu dengan keindahan alamnya. Mulut goa yang dipahat menyerupai wajah raksasa menjadi ikon yang sarat makna simbolik sebagai penjaga kawasan suci. Di dalam goa terdapat relung-relung yang dahulu digunakan sebagai tempat bertapa dan bermeditasi, mencerminkan kehidupan religius masyarakat Bali kuno.

Selain itu, keberadaan petirtaan kuno dengan enam patung wanita yang memancurkan air dari bagian dada menjadi daya tarik tersendiri. Petirtaan ini dipercaya memiliki fungsi penyucian diri secara lahir dan batin, serta hingga kini masih diyakini memberikan vibrasi positif dan ketenangan spiritual bagi pengunjung.

Keunikan lainnya adalah perpaduan ajaran Siwa dan Buddha dalam satu kawasan, yang mencerminkan toleransi kehidupan beragama sejak masa lampau. Nilai ini menjadikan Goa Gajah tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga bermakna secara filosofi dan budaya.

Jejak Sejarah dari Masa Kerajaan Bali Kuno

Keberadaan Goa Gajah diketahui telah ada sejak masa pemerintahan beberapa raja Bali kuno. Di antaranya pada masa pemerintahan Sri Dharmawangsawardhana Marakatapangkajastano Tunggadewa sekitar tahun 1022 Masehi, dilanjutkan pada masa Raja Anak Wungsu pada tahun 1053 Masehi, serta Paduka Sri Mahaguru pada tahun 1324 Masehi. Hal ini menunjukkan bahwa Goa Gajah telah menjadi tempat penting sejak berabad-abad lalu.

Dalam kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk di era Majapahit, disebutkan istilah Lwa Gajah yang terletak di Desa Bedulu sebagai tempat bersemayamnya Sang Bodadyaksa. Istilah lain yang muncul adalah Kunjarakunjapada, yang berarti “asrama kunjara”, di mana kunjara dalam bahasa Sanskerta berarti gajah.

Asrama kunjarapada ini diyakini merujuk pada asrama Rsi Agastya di wilayah Mysore, India Selatan, yang pada masa itu dikenal sebagai kawasan pertapaan dengan banyak gajah liar. Oleh karena itu, Goa Gajah diduga memiliki keterkaitan simbolik dan spiritual dengan tradisi pertapaan kuno yang berkembang di India.

Penemuan dan Penelitian Arkeologi

Penemuan kembali Goa Gajah tercatat pada tahun 1923, ketika pejabat Hindia Belanda L.C. Heyting melaporkan temuan arca Ganesha, Tri Lingga, serta arca Hariti. Penelitian kemudian dilanjutkan oleh Dr. W.F. Stutterheim pada tahun 1925.

Pada tahun 1950, Dinas Purbakala Republik Indonesia melalui seksi bangunan purbakala di Bali yang dipimpin oleh J.L. Krijgman, melakukan penggalian lanjutan. Dari hasil penggalian antara tahun 1954 hingga 1979, ditemukan petirtaan kuno dengan enam arca wanita berpancuran air, yang hingga kini dipercaya memiliki fungsi penyucian aura bagi pengunjung.

Simbol Siwa-Buddha dan Toleransi Beragama

Kompleks Goa Gajah terdiri atas dua bagian utama. Bagian utara merupakan warisan ajaran Siwa, ditandai dengan keberadaan Tri Lingga dan arca Ganesha di dalam goa. Sementara di bagian selatan, tepatnya di kawasan Tukad Pangkung, ditemukan peninggalan bercorak Buddha.

Penemuan ini dilakukan oleh Mr. Concrat Spies pada tahun 1931, berupa stupa Buddha bersusun tiga belas dan stupa bercabang tiga yang dipahat pada batu besar. Kondisi stupa yang tidak utuh diyakini akibat bencana alam besar yang melanda Bali pada tahun 1917. Di kawasan ini juga terdapat Pura Petapan, yang menyimpan arca Buddha dari sekitar abad ke-9.

Warisan Bernilai Tinggi yang Tetap Lestari

Keberadaan peninggalan arkeologi bercorak Budhis dan Siwaistis di Goa Gajah menjadi cerminan nyata toleransi kehidupan beragama pada masa Bali kuno. Nilai-nilai tersebut masih hidup dan diwarisi hingga saat ini oleh masyarakat Bali.

Goa Gajah bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang sejarah yang merekam perjalanan spiritual dan peradaban Nusantara. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Gianyar, Goa Gajah menjadi tempat yang tepat untuk mengenal lebih dekat warisan leluhur Bali sekaligus merasakan ketenangan dalam balutan sejarah yang sarat makna. (Abr /IDN). 

Penulis: Ngurah Ambara
Editor: Redaksi InfoDewataNews


0Komentar

Copyright © 2025 - INFODEWATANEWS.COM . All Rights Reserved. Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami