TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Bukan Pedang, Tapi Cerita, Kisah Ni Diah Tantri dari Bali yang Mengubah Seorang Raja

Redaksi InfoDewataNews |    ðŸ•’ Senin, Februari 23, 2026
Gambar Utama

Ilustrasi Ni Diah Tantri mengenakan busana kerajaan Bali kuno berdiri anggun di dalam istana yang diterangi cahaya obor, melambangkan keberanian dan kecerdasannya menghadapi kekuasaan. Foto : Ambara /InfoDewataNews 


INFODEWATANEWS.COM - Cerita Ni Diah Tantri merupakan salah satu satua Bali yang paling dikenal dan diwariskan turun-temurun. Kisah ini tidak hanya hidup dalam tradisi lisan, tetapi juga dikenal dalam bentuk sastra klasik yang kerap dikaitkan dengan Kidung Tantri. Menariknya, akar ceritanya dipercaya berasal dari India, kemudian berkembang dan beradaptasi dalam kebudayaan Bali. Karena struktur kisahnya yang berisi cerita di dalam cerita, legenda ini sering disebut sebagai sastra berbingkai—mirip dengan pola yang dikenal dalam kisah “Seribu Satu Malam”.

Di sebuah kerajaan yang megah namun diselimuti ketakutan, berkuasalah Prabu Eswaryadala. Ia dikenal sebagai raja yang tegas dan berwibawa, tetapi memiliki kebiasaan yang membuat rakyat hidup dalam kecemasan. Setiap hari ia menikahi seorang perempuan, dan ketika fajar tiba, perempuan itu dihukum mati.

Tangis keluarga terdengar hampir setiap pagi. Tidak ada yang berani melawan keputusan sang raja. Kekuasaan membuatnya tak tersentuh, sementara rakyat hanya bisa pasrah menerima kenyataan pahit. Kerajaan yang seharusnya menjadi tempat perlindungan justru berubah menjadi sumber ketakutan.

Kerajaan dalam Bayang-Bayang Ketakutan

Suasana istana kerajaan yang mencekam, dengan raja duduk tegap di atas singgasana emas sementara para abdi bersimpuh merunduk hormat, menggambarkan kekuasaan yang penuh wibawa sekaligus bayang-bayang ketakutan yang menyelimuti kerajaan. Foto : Ambara /InfoDewataNews 


Situasi mencekam itu terus berlangsung hingga muncul seorang gadis bernama Ni Diah Tantri. Ia dikenal bukan hanya karena parasnya yang cantik, tetapi juga karena kecerdasan dan ketajaman pikirannya. Tantri melihat penderitaan yang terjadi dan menyadari bahwa jika tidak ada yang bertindak, maka korban akan terus berjatuhan.

Keputusan Tantri mengejutkan banyak orang. Ia mengajukan diri untuk menjadi istri sang raja. Bagi sebagian orang, itu sama saja dengan menyerahkan diri pada kematian. Namun Tantri memiliki rencana yang matang.

Strategi Cerdas Ni Diah Tantri


Ilustrasi Ni Diah Tantri menyampaikan kisah penuh makna di hadapan raja yang duduk di singgasana, menggunakan kecerdasan dan kata-kata sebagai senjata. Foto : Ambara /InfoDewataNews 


Pada malam pertama setelah pernikahan mereka, sebelum raja tertidur, Tantri memohon izin untuk menceritakan sebuah kisah. Raja yang penasaran mengizinkannya. Sejak saat itu, setiap malam Tantri menyampaikan cerita-cerita penuh makna, banyak di antaranya berupa fabel tentang hewan yang sarat pesan moral.

Cerita-cerita tersebut tidak sekadar hiburan. Ia menyelipkan pelajaran tentang kepemimpinan, keadilan, keserakahan, dan akibat dari kesombongan. Inilah yang membuat kisah Ni Diah Tantri disebut sebagai sastra berbingkai—karena di dalam satu cerita utama, terdapat banyak cerita kecil yang menjadi media penyampai nilai-nilai kebijaksanaan.

Namun Tantri tidak pernah menyelesaikan ceritanya dalam satu malam. Ketika kisah hampir mencapai bagian paling menegangkan, fajar menyingsing. Ia menghentikan ceritanya tepat saat rasa penasaran memuncak. Raja yang ingin mengetahui kelanjutannya pun menunda niatnya untuk menghukum mati Tantri.

Hari demi hari berlalu. Raja yang semula kejam mulai menanti cerita setiap malam. Tantri tidak hanya menghibur, tetapi juga perlahan membuka mata hati sang penguasa.

Ketika Cerita Mengubah Seorang Raja


Ilustrasi Perubahan sang raja tergambar dalam suasana istana yang lebih damai, saat kisah Ni Diah Tantri berhasil menyentuh hati dan mengubah arah kekuasaan. Ilustrasi : Ambara /InfoDewataNews 

Perubahan itu tidak terjadi secara instan. Namun dalam setiap fabel yang didengar, raja mulai melihat bayangan dirinya sendiri. Ia mulai memahami penderitaan rakyat yang selama ini ia abaikan. Hingga suatu malam, setelah mendengar kisah tentang akibat buruk dari kekuasaan tanpa kebijaksanaan, Prabu Eswaryadala terdiam lama.

Untuk pertama kalinya ia merasakan penyesalan yang mendalam. Ia menyadari bahwa kekuasaan tanpa keadilan hanya melahirkan ketakutan dan kesunyian. Sejak saat itu, kebiasaan kejamnya berhenti. Tidak ada lagi perempuan yang menjadi korban.

Kerajaan yang dahulu dipenuhi kecemasan perlahan kembali damai. Rakyat dapat hidup tanpa rasa takut. Sang raja berubah menjadi pemimpin yang lebih bijaksana. Ni Diah Tantri pun diangkat menjadi permaisuri, bukan hanya karena kecantikannya, tetapi karena kecerdasannya yang telah menyelamatkan banyak nyawa.

Kisah Ni Diah Tantri bukan sekadar legenda masa lampau. Ia adalah cerminan bahwa kata-kata memiliki kekuatan luar biasa. Bahwa kecerdasan dapat melampaui kekerasan. Dan bahwa perubahan besar kadang tidak dimulai dari peperangan, melainkan dari sebuah cerita yang disampaikan dengan keberanian dan kebijaksanaan. (Abr /IDN). 


0Komentar

Copyright © 2025 - INFODEWATANEWS.COM . All Rights Reserved. Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami