TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Sayang atau Terlalu Mengikat? Kenali Batas Hubungan Sehat

Redaksi InfoDewataNews |    ðŸ•’ Minggu, Februari 22, 2026
Gambar Utama

Ilustrasi remaja perempuan yang sedang merenungkan makna perhatian dan batasan dalam hubungan. Ilustrasi : Ambara /InfoDewataNews 


INFODEWATANEWS.COM - Dalam sebuah hubungan, perhatian sering kali dianggap sebagai bukti cinta. Semakin sering menghubungi, semakin ingin tahu keberadaan pasangan, bahkan ingin selalu bersama setiap waktu—semua itu kerap dilihat sebagai tanda sayang. Tapi, pernahkah kamu bertanya: ini benar perhatian, atau justru sudah terlalu mengikat?

Di usia remaja, batas antara perhatian dan posesif memang kadang terasa tipis. Banyak yang mengira dikontrol berarti diperhatikan. Padahal, hubungan yang sehat bukan tentang memiliki, melainkan tentang saling menghargai.

Perhatian Itu Menenangkan, Bukan Menekan

Hubungan yang sehat ditandai dengan rasa aman dan komunikasi yang tidak menekan. Ilustrasi : Ambara /InfoDewataNews. 


Perhatian yang sehat membuatmu merasa aman dan dihargai. Misalnya, pasangan mengingatkan untuk makan, memberi semangat saat ujian, atau menanyakan kabar tanpa nada menuntut. Ada rasa hangat dan dukungan, bukan tekanan.

Sebaliknya, posesif sering dibungkus dengan kalimat manis. “Aku cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa.” “Aku cemburu karena aku sayang.” Kalimat seperti ini terdengar romantis, tapi jika disertai larangan berteman, harus selalu memberi kabar setiap menit, atau marah saat kamu sibuk, itu bukan lagi perhatian—itu kontrol.

Tanda Perhatian yang Sehat

Perhatian yang sehat memberi ruang untuk tetap bertumbuh dan menjalani aktivitas pribadi. Ilustrasi : Ambara /InfoDewataNews 

Tidak semua perhatian itu mengekang. Dalam hubungan yang sehat, perhatian justru terasa ringan dan menenangkan. Ia tidak datang dengan tuntutan, melainkan dengan rasa saling percaya. Kamu tidak merasa diawasi, tidak merasa dikontrol, dan tetap bebas menjadi diri sendiri.

Perhatian yang sehat biasanya terlihat dari hal-hal sederhana berikut:

  • Memberi ruang untuk tetap punya teman dan aktivitas sendiri

Pasangan memahami bahwa kamu tetap membutuhkan waktu bersama sahabat, keluarga, atau untuk mengejar hobi dan kegiatan pribadi.

  • Percaya tanpa harus memeriksa ponsel

Kepercayaan menjadi dasar hubungan. Tidak ada kebutuhan untuk mengintip pesan atau media sosial demi memastikan kesetiaan.

  • Mendukung impian dan kegiatan positifmu

Ia bangga melihatmu berkembang, bukan merasa terancam oleh pencapaianmu.

  • Mau mendengarkan tanpa menghakimi

Setiap cerita dan perasaanmu dihargai, tanpa langsung disalahkan atau diremehkan.

Ketika perhatian terasa seperti ini, hubungan menjadi tempat yang aman—bukan ruang yang membatasi. Hubungan sehat memberi ruang untuk tumbuh. Kamu tetap bisa menjadi diri sendiri tanpa rasa takut.

Tanda Sudah Terlalu Mengikat

Sikap yang terlalu mengontrol dapat membuat seseorang merasa tertekan dalam hubungan. Ilustrasi : Ambara /InfoDewataNews 

Berbeda dengan perhatian yang sehat, sikap yang terlalu mengikat sering kali hadir secara halus. Awalnya mungkin terlihat seperti bentuk kepedulian, tetapi lama-kelamaan terasa melelahkan dan membuat tidak nyaman. Kamu mulai merasa diawasi, ditekan, bahkan kehilangan ruang untuk menjadi diri sendiri.

Beberapa tanda yang perlu kamu waspadai antara lain:

  • Harus selalu melapor di mana dan dengan siapa

Bukan sekadar memberi kabar, tetapi seperti kewajiban yang jika terlewat akan memicu pertengkaran.

  • Marah jika kamu tidak cepat membalas pesan

Kesibukan atau waktu istirahatmu tidak dihargai, seolah-olah kamu harus selalu siaga 24 jam.

  • Membatasi pergaulan

Kamu diminta menjauh dari teman tertentu, bahkan keluarga, dengan alasan cemburu atau “demi kebaikan hubungan”.

  • Membuatmu merasa bersalah saat ingin punya waktu sendiri

Setiap kali kamu butuh me-time, kamu justru dituduh berubah, tidak peduli, atau tidak sayang lagi.

Jika tanda-tanda ini mulai terasa, penting untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: apakah ini masih cinta, atau sudah berubah menjadi kontrol? Jika kamu mulai merasa lelah, tertekan, atau takut membuat pasangan marah, itu tanda ada yang tidak seimbang.

Kenapa Posesif Sering Disalahartikan sebagai Cinta?

Cemburu sering dianggap romantis, padahal bisa menjadi tanda ketidakseimbangan dalam hubungan. Ilustrasi : Ambara /InfoDewataNews 


Media sosial sering menampilkan gambaran hubungan yang intens dan dramatis. Cemburu dianggap romantis. “Overprotective” dianggap bukti cinta. Padahal, cinta yang dewasa dibangun atas kepercayaan, bukan pengawasan.

Cemburu dalam kadar wajar itu manusiawi. Tapi jika berubah menjadi kecurigaan tanpa alasan dan membatasi kebebasan, itu bukan lagi bentuk sayang.

Cara Menjaga Keseimbangan dalam Hubungan

Komunikasi terbuka dan batas yang jelas menjadi kunci hubungan yang sehat. Ilustrasi : Ambara /InfoDewataNews 

Bangun komunikasi terbuka
Sampaikan dengan jujur jika kamu merasa terlalu dikontrol. Gunakan kalimat yang tidak menyalahkan, seperti “Aku merasa kurang nyaman ketika harus selalu melapor setiap waktu.”

Tetapkan batas yang jelas
Setiap orang berhak punya ruang pribadi. Waktu bersama teman, keluarga, atau untuk diri sendiri tetap penting.

Belajar saling percaya
Tanpa kepercayaan, hubungan hanya akan dipenuhi kecurigaan. Kepercayaan adalah fondasi utama hubungan sehat.

Evaluasi perasaanmu sendiri
Tanyakan pada diri sendiri: Apakah aku merasa aman? Apakah aku tetap bisa menjadi diri sendiri? Jika jawabannya tidak, mungkin ada batas yang perlu ditegaskan.

Hubungan Sehat Bukan Tentang Mengikat

Hubungan yang baik memberi kebebasan dan rasa nyaman untuk menjadi diri sendiri. Ilustrasi : Ambara /InfoDewataNews 

Cinta yang sehat tidak membuatmu kehilangan kebebasan. Ia tidak memaksamu berubah demi memenuhi rasa takut pasangan. Hubungan yang baik justru membuat dua orang tumbuh bersama, bukan saling membatasi.

Perhatian seharusnya menenangkan, bukan mengekang. Sayang seharusnya membebaskan, bukan mengikat.

Karena pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan yang paling intens terlihat di luar, tetapi yang paling nyaman dirasakan di dalam.


🖋️ Penulis: Ngurah Ambara | InfoDewataNews

☕ Pecinta kopi dan senja, yang percaya bahwa hubungan remaja bukan soal seberapa terlihat romantis di media sosial, tetapi tentang keberanian menjaga batas, membangun kepercayaan, dan tetap menghargai diri sendiri dalam setiap hubungan.


0Komentar

Copyright © 2025 - INFODEWATANEWS.COM . All Rights Reserved. Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami