INFODEWATANEWS.COM, Denpasar – Ogoh-ogoh berjudul “Wit Kawit” karya Sekaa Teruna (ST) Taruna Dharma Castra, Banjar Tengah, Desa Sidakarya, Denpasar Selatan, berhasil meraih Juara I Kasanga Festival 2026 yang digelar di kawasan Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Denpasar.
Penetapan pemenang dilakukan setelah seluruh peserta mengikuti pawai ogoh-ogoh (Peed Aya) yang berlangsung di kawasan Patung Catur Muka Denpasar. Hasil penilaian kemudian diumumkan pada acara penutupan Kasanga Festival 2026 pada Minggu malam (8/3).
Pada ajang tersebut, Juara II diraih ogoh-ogoh karya ST Sukarela Banjar Kepisah, Kelurahan Pedungan, Denpasar Selatan, sedangkan Juara III diraih oleh ST Swadharmita Banjar Ceramcam, Kelurahan Kesiman, Denpasar Timur.
Sementara itu, Juara Harapan I diraih ST Satya Dharma Banjar Pekandelan, Kelurahan Sanur, Harapan II oleh ST Swastika Banjar Pekambingan, Kelurahan Dauh Puri, dan Harapan III diraih ST Mekar Sari Banjar Kesambi, Desa Kesiman Kertalangu.
Untuk kategori favorit pilihan masyarakat, diraih oleh ogoh-ogoh “Banyu Pinaruh” karya ST Cantika Banjar Sedana Mertha, Kelurahan Ubung, Denpasar Utara.
Dalam ajang ini, seluruh peserta yang berhasil masuk 16 besar memperoleh uang pembinaan sebesar Rp30 juta. Sementara enam karya terbaik mendapatkan tambahan hadiah, yakni Juara I Rp50 juta, Juara II Rp40 juta, Juara III Rp30 juta, Harapan I Rp20 juta, Harapan II Rp15 juta, Harapan III Rp10 juta, serta Juara Favorit Rp10 juta.
Ogoh-ogoh “Wit Kawit” mengangkat kisah tokoh Gowaksa yang bersumber dari Lontar Ketaka Parwa. Cerita tersebut berkaitan dengan kisah kelahiran para kera yang kemudian menjadi pengikut Rama dalam kisah epik Ramayana.
Dalam kisah tersebut, Gowaksa digambarkan sebagai sosok berwujud kera dengan wajah menyerupai burung. Sosok ini dalam cerita mitologi memiliki peran penting sebagai salah satu palawaga yang membantu Rama dalam menaklukkan Alengka.
Istilah “Wit Kawit” dimaknai sebagai awal mula atau asal-usul sebuah keturunan yang menjadi titik awal kemunculan tokoh Gowaksa dalam cerita tersebut.
Sementara itu, ogoh-ogoh “Banyu Pinaruh” karya ST Cantika Banjar Sedana Mertha, Ubung, yang sebelumnya memperoleh nilai tinggi pada penilaian awal di tingkat banjar, tidak masuk dalam enam besar dan akhirnya meraih kategori favorit pilihan masyarakat.
Dalam proses penilaian, beberapa aspek menjadi perhatian utama, di antaranya anatomi, proporsi, sudut pandang, ekspresi visual karya, serta penampilan saat pawai ogoh-ogoh. Selain itu, unsur penggunaan mesin dan keseimbangan antara fragmen pementasan dengan pergerakan ogoh-ogoh dalam format karnaval juga menjadi bagian dari penilaian. (Abr /IDN).

0Komentar