INFODEWATANEWS.COM, Badung — Tirto.id kembali menggelar program Jangkar (Jaringan Kolaborasi Akar) melalui kegiatan bertajuk “Roadshow Komunitas Jangkar: Suara Lokal di Ruang Digital” yang berlangsung di Platinum Hotel Jimbaran Beach Bali, Kamis (16/4/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas media lokal dalam menghadapi maraknya misinformasi di era digital. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, content creator, hingga pelaku media di Bali.
Sejumlah tokoh dari platform digital dan korporasi turut hadir sebagai pembicara, di antaranya Anggini Setiawan-Harvey (Head of Communications TikTok Indonesia), Berni Moestafa (Head of Public Policy Indonesia di Meta), Rina Nurjanah (Content Manager Tirto.id), Arif Mujahidin (Corporate Communications Director Danone Indonesia), serta Gregorius Adi (EVP Corporate Communication & CSR PT PLN Persero).
Pemimpin Redaksi Tirto.id, Rachmadin Ismail, menegaskan bahwa program Jangkar merupakan langkah strategis dalam memperkuat peran media berbasis komunitas.
“Arus informasi yang semakin deras menuntut kehadiran media lokal yang tidak hanya cepat, tetapi juga akurat dan relevan dengan konteks daerah. Melalui Jangkar, kami ingin membangun ekosistem kolaboratif yang mampu menjaga kualitas informasi di ruang digital,” ujarnya.
Program Jangkar sendiri telah menjangkau lebih dari 30 kota di Indonesia dengan melibatkan berbagai media lokal. Inisiatif ini hadir sebagai respons atas meningkatnya penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, sekaligus menegaskan pentingnya kehadiran media kredibel di tingkat daerah.
Dalam roadshow ini, Tirto.id menghadirkan berbagai sesi diskusi dan pelatihan yang berfokus pada peningkatan kapasitas praktis pelaku media lokal. Materi yang dibahas mencakup komunikasi publik yang akurat, pemahaman kebijakan platform digital, hingga strategi pengelolaan konten yang berkelanjutan.
Pada sesi talkshow “Suara Lokal di Ruang Digital”, Anggini Setiawan-Harvey menyoroti tantangan distribusi konten di era algoritma.
“Di era algoritma, kualitas dan keaslian konten menjadi kunci. Media lokal memiliki keunggulan dalam kedekatan dengan audiens, sehingga penting untuk memanfaatkan kekuatan tersebut dengan tetap mengedepankan akurasi,” jelasnya.
Sementara itu, dalam workshop “Lawan Hoaks di Media Sosial”, Berni Moestafa memaparkan upaya Meta dalam menangani misinformasi.
“Kami terus mengembangkan sistem moderasi dan bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk media, untuk menekan penyebaran hoaks. Literasi digital dan verifikasi informasi tetap menjadi fondasi utama,” katanya.
Rina Nurjanah turut menekankan pentingnya praktik pengelolaan konten yang bertanggung jawab dalam sesi “Periksa Fakta dan Konten Kredibel”. Ia mengingatkan bahwa pelaku penyebaran hoaks kerap memanfaatkan emosi publik.
“Mereka sering menggunakan foto atau video lama yang diberi narasi provokatif untuk memicu emosi. Bahkan, tidak jarang konten tersebut telah dimanipulasi sehingga menghilangkan konteks penting,” jelasnya.
Dalam sesi talkshow “Kerja Sama Bisnis New Media di Era Digital”, Arif Mujahidin menegaskan bahwa kepercayaan merupakan fondasi utama bagi media maupun brand.
“Membangun kepercayaan membutuhkan waktu panjang. Media harus konsisten menghadirkan konten yang kredibel dan terverifikasi agar dapat dipercaya publik,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi dengan media lokal memberikan nilai strategis bagi brand.
“Media lokal mampu menjangkau komunitas secara lebih autentik. Ini menjadi peluang besar bagi brand untuk membangun komunikasi yang relevan,” tambahnya.
Melalui rangkaian kegiatan Jangkar Media Day ini, Tirto.id membuka ruang kolaborasi antara media lokal, kreator, platform digital, dan korporasi guna menciptakan ekosistem informasi yang lebih sehat.
Inisiatif “Suara Lokal di Ruang Digital” diharapkan dapat memperkuat posisi media lokal sebagai sumber informasi terpercaya sekaligus mendorong terciptanya ruang digital yang lebih berkualitas di tengah derasnya arus misinformasi. (Abr /IDN).

0Komentar