![]() |
| Umat Hindu melaksanakan persembahyangan pada Hari Suci Kuningan, momen penuh makna untuk memohon kerahayuan, kerahajengan, dan anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ilustrasi: InfoDewataNews. |
INFODEWATANEWS.COM – Hari Suci Kuningan merupakan salah satu hari besar keagamaan bagi umat Hindu yang dirayakan sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan. Perayaan ini menjadi penutup rangkaian Galungan sekaligus momentum penuh makna untuk memanjatkan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala anugerah, keselamatan, dan tuntunan yang diberikan kepada umat manusia.
Dalam ajaran Hindu, Hari Raya Galungan melambangkan kemenangan Dharma (kebenaran) atas Adharma (kejahatan). Sementara itu, Hari Suci Kuningan menjadi saat umat memperteguh komitmen untuk terus menjalankan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Melalui persembahyangan yang dilakukan dengan penuh ketulusan, umat memohon agar senantiasa diberikan kerahayuan, kerahajengan, kesehatan, kebijaksanaan, dan kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Hari Kuningan juga dipercaya sebagai momen ketika para Dewa, Bhatara, dan roh suci leluhur yang sebelumnya "nyejer" selama rangkaian Hari Raya Galungan kembali ke kahyangan. Oleh sebab itu, umat Hindu menghaturkan persembahan terbaik sebagai bentuk penghormatan sekaligus ungkapan terima kasih atas berkah dan perlindungan yang telah dilimpahkan.
Di Bali, suasana Hari Suci Kuningan selalu menghadirkan nuansa religius yang begitu terasa. Sejak pagi hari, umat mengenakan busana adat Bali untuk melaksanakan persembahyangan di sanggah atau merajan, pura keluarga, hingga pura-pura kahyangan. Penjor yang masih berdiri tegak di depan rumah-rumah warga menjadi simbol kemakmuran, rasa syukur, dan kemenangan Dharma yang menghiasi setiap sudut desa maupun kota.
Salah satu ciri khas Hari Kuningan adalah adanya berbagai sarana upakara yang memiliki makna filosofis mendalam. Setiap unsur dalam banten mengandung doa dan harapan agar manusia senantiasa memperoleh keseimbangan hidup, keharmonisan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, yaitu menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Parhyangan), sesama manusia (Pawongan), serta lingkungan (Palemahan).
Perayaan Hari Suci Kuningan juga menjadi kesempatan bagi keluarga untuk berkumpul dan mempererat tali persaudaraan. Di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari, momen ini mengingatkan pentingnya menjaga kebersamaan, saling menghormati, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Nilai gotong royong yang masih terjaga dalam masyarakat Bali menjadi salah satu kekuatan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Lebih dari sekadar tradisi, Hari Kuningan mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan hanya diraih melalui keberhasilan duniawi, tetapi juga melalui kemampuan mengendalikan diri, menjunjung kejujuran, menebarkan kasih sayang, serta senantiasa berbuat kebajikan. Semangat Dharma hendaknya tidak berhenti pada saat perayaan berlangsung, melainkan menjadi pedoman dalam setiap langkah kehidupan.
Di era modern saat ini, menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur menjadi tanggung jawab bersama. Perkembangan zaman hendaknya tidak mengurangi makna spiritual Hari Kuningan, tetapi justru menjadi pengingat agar tradisi, budaya, dan ajaran agama tetap lestari serta mampu menjadi landasan dalam membangun kehidupan yang damai dan harmonis.
Melalui peringatan Hari Suci Kuningan Warsa 2026, umat Hindu diharapkan semakin memperkokoh sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus mengimplementasikan ajaran Dharma dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, semangat kerahayuan, kerahajengan, kedamaian, dan kesejahteraan dapat senantiasa menyertai seluruh umat serta membawa keharmonisan bagi kehidupan bangsa dan alam semesta.
Rahajeng Nyanggra Rahina Kuningan Warsa 2026. Dumogi Ida Sang Hyang Widhi Wasa ngicenin kerahayuan, kerahajengan, lan kasukertan ring jagat miwah ring sareng sami. (Abr /IDN).

0Komentar