INFODEWATANEWS.COM, Denpasar – Poltekkes Kemenkes Denpasar menghadirkan inovasi menu sehat khusus bagi masyarakat terdampak bencana sebagai upaya meningkatkan kualitas pemenuhan kebutuhan pangan dalam situasi darurat. Inovasi tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan BPBD Provinsi Bali dan LLDikti Wilayah VIII melalui dukungan Program SIAP SIAGA.
Peluncuran inovasi ini disampaikan dalam kegiatan Dialog Multipihak: Pertukaran Pengetahuan dan Penguatan Implementasi Kampus Siaga Bencana Berbasis Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim (PRB-API) yang digelar di Denpasar, Rabu (15/7/2026).
Dalam kondisi bencana, penyintas sering mengalami keterbatasan akses terhadap makanan yang aman, bergizi, dan sesuai kebutuhan. Bantuan pangan yang tersedia pun umumnya masih didominasi makanan tinggi kalori dan garam, namun rendah kandungan gizi, sehingga berisiko memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi penderita penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Bali, Ida Bagus Gede Widnyana, mengapresiasi inovasi tersebut karena dinilai mampu meningkatkan kualitas pelayanan pemenuhan kebutuhan dasar saat bencana.
"Kami sangat mengapresiasi inovasi penelitian ini karena dapat membantu meningkatkan layanan pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya pangan, saat bencana terjadi. Produk ini berpotensi menjadi salah satu pilihan logistik yang dapat kami gunakan dalam penanganan bencana di Bali," ujarnya.
Sementara itu, Analis SDM Aparatur Ahli Muda LLDikti Wilayah VIII Bali–NTB, Pande Putu Suryadinata, mengatakan inovasi tersebut dapat menjadi referensi bagi perguruan tinggi lain dalam mengembangkan riset yang mendukung penanggulangan bencana.
Menurutnya, sinergi antara dunia akademik dan upaya pengurangan risiko bencana perlu terus diperkuat, termasuk melalui program seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik.
Pengembangan menu sehat ini didasarkan pada kebutuhan gizi yang berbeda di setiap kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia. Selain memperhatikan kondisi darurat, penyusunan menu juga mengedepankan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) agar layanan gizi lebih inklusif.
Dosen sekaligus peneliti Poltekkes Kemenkes Denpasar, Anak Agung Nanak Antarini, menjelaskan bahwa menu tersebut dirancang untuk menjaga status gizi penyintas sekaligus menekan risiko penyakit dan kematian akibat kekurangan gizi selama masa tanggap darurat.
Inovasi ini juga sejalan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2019 yang menegaskan bahwa pelayanan gizi merupakan bagian penting dari penanggulangan krisis kesehatan pada seluruh tahapan bencana.
Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Poltekkes Kemenkes Denpasar, Komang Ayu Henny Achjar, mengatakan kualitas asupan pangan saat bencana sering kali sulit dikendalikan. Karena itu, inovasi menu sehat diharapkan dapat memastikan kebutuhan gizi masyarakat tetap terpenuhi meski berada dalam kondisi darurat.
Sebanyak 35 perguruan tinggi yang tengah berproses menuju Kampus Siaga Bencana (KSB) turut mengikuti dialog tersebut. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan organisasi masyarakat sipil dalam membangun ketangguhan Bali menghadapi bencana dan dampak perubahan iklim.
Di akhir kegiatan, BPBD Provinsi Bali menegaskan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi seluruh pihak.
Melalui inovasi berbasis riset dan kemitraan multipihak, Program SIAP SIAGA diharapkan terus mendorong terwujudnya masyarakat yang lebih tangguh terhadap bencana sekaligus memastikan kebutuhan dasar penyintas dapat dipenuhi secara aman, inklusif, dan berkelanjutan. (Abr /IDN).

0Komentar