![]() |
| Ilustrasi Bhadawang Nala, sang penyu kosmis dalam mitologi Hindu Bali, yang melambangkan kekuatan penopang dan keseimbangan alam semesta. Ilustrasi AI/InfoDewataNews. |
INFODEWATANEWS.COM, Bali – Pernahkah Anda memperhatikan ornamen berbentuk kura-kura atau penyu raksasa yang berada di bagian dasar Padmasana di Bali?
Sosok tersebut dikenal sebagai Bhadawang Nala, salah satu simbol kosmologi yang memiliki makna mendalam dalam mitologi Hindu dan tradisi Bali.
Bhadawang Nala digambarkan sebagai kura-kura atau penyu berukuran sangat besar yang memiliki peran penting dalam gambaran kosmis. Dalam sejumlah pemaknaan, sosok ini dipercaya mampu menopang gunung dan menjadi bagian dari gambaran dasar yang menopang alam semesta.
Makna Nama Bhadawang Nala
Nama Bhadawang Nala memiliki makna yang berkaitan dengan unsur panas dan api. Dalam pemaknaan tradisi tertentu, Bhadawang diartikan sebagai air mendidih, sedangkan Nala berarti api.
Karena itu, sosok Bhadawang Nala tidak sekadar menggambarkan seekor kura-kura raksasa, tetapi juga berkaitan dengan kekuatan alam dan energi kosmis.
Dalam penggambarannya, Bhadawang Nala biasanya ditampilkan sebagai kura-kura raksasa yang menopang sebuah gunung di atas tempurungnya. Tubuhnya juga kerap digambarkan dililit oleh dua ekor naga.
Bhadawang Nala dikenal pula dengan sejumlah sebutan, di antaranya Sang Kurmaraja, yang bermakna raja kura-kura, serta Akupara, yaitu kura-kura kosmis yang dikaitkan dengan penyangga dunia.
Bhadawang Nala dan Kisah Samudra Manthan
Kisah kura-kura kosmis memiliki hubungan dengan cerita Samudra Manthan, yaitu kisah pengadukan lautan kosmis untuk mendapatkan Tirtha Amerta atau air kehidupan.
Dalam kisah tersebut, para Dewa dan Asura mengaduk Ksira Segara, lautan kosmis yang luas, dengan menggunakan Gunung Mandara sebagai pengaduk.
Gunung tersebut membutuhkan penopang agar tidak tenggelam ke dasar lautan. Dalam cerita Hindu, Dewa Wisnu kemudian menjelma dalam wujud Kurmaraja, kura-kura raksasa, dan menopang Gunung Mandara di atas tempurungnya.
Kisah tersebut menjadi salah satu gambaran penting mengenai peran kura-kura kosmis sebagai penyangga dalam proses kosmis.
Bhadawang Nala dalam Kisah Prabu Watugunung
Bhadawang Nala juga dikenal dalam kisah mengenai gugurnya Prabu Watugunung.
Dalam cerita tersebut, Dewa Wisnu menjelma sebagai Bhadawang Nala untuk menghadapi Prabu Watugunung yang memiliki niat memperistri Dewi Laksmi, permaisuri Dewa Wisnu.
Dalam kisah ini, Bhadawang Nala digambarkan memiliki wujud yang berbeda dari kura-kura biasa. Sosoknya memiliki kuku yang kuat, lidah berbentuk cakra, serta hidung yang menyerupai bajra.
Gambaran tersebut memperlihatkan Bhadawang Nala sebagai sosok dengan kekuatan luar biasa yang memiliki peran dalam menghadapi kekuatan yang mengganggu keseimbangan.
Bhadawang Nala dan Dewa Wisnu
Dalam sejumlah Purana Hindu, kura-kura dikaitkan dengan awatara kedua Dewa Wisnu, yaitu Kurma Awatara.
Namun, dalam sejumlah sastra kuno dan pemaknaan yang berkembang dalam tradisi Bali, terdapat penjelasan yang lebih beragam mengenai hubungan antara Bhadawang Nala dan Dewa Wisnu.
Dalam salah satu pemaknaan, Dewa Wisnu disebut menirukan atau mengambil wujud Bhadawang Nala. Sementara itu, Bhadawang Nala sendiri dipandang sebagai makhluk kosmis kuno yang keberadaannya dikaitkan dengan gambaran tentang alam semesta.
Perbedaan pemaknaan tersebut menunjukkan bahwa kisah Bhadawang Nala memiliki lapisan interpretasi yang cukup luas dalam tradisi Hindu dan budaya Bali.
Simbol Kosmologi pada Padmasana
Dalam tradisi Bali, ornamen Bhadawang Nala sering ditemukan pada bagian dasar Padmasana, bangunan suci yang menjadi salah satu simbol penting dalam pemujaan Hindu Bali.
Keberadaan Bhadawang Nala pada bagian dasar Padmasana bukan sekadar hiasan. Sosok tersebut menjadi bagian dari gambaran kosmologi yang menghubungkan berbagai unsur alam dan kehidupan.
Kura-kura kosmis menggambarkan kekuatan yang menopang, sementara naga yang mengelilinginya juga menjadi bagian dari simbol keseimbangan dan kekuatan alam.
Dengan demikian, struktur Padmasana dapat dipahami tidak hanya dari bentuk fisiknya, tetapi juga melalui simbol-simbol yang memiliki makna filosofis.
Bhadawang Nala sebagai Simbol Keseimbangan
Bhadawang Nala juga dapat dimaknai sebagai simbol gerak dinamis kehidupan di bumi.
Konsep mengenai kura-kura dalam tradisi Hindu memiliki hubungan dengan berbagai gambaran kosmogonik. Dalam bagian tertentu dari Shatapatha Brahmana, kura-kura dikaitkan dengan bumi, altar api, serta penguasaan terhadap unsur perairan.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa simbol kura-kura telah memiliki posisi penting dalam pemikiran kosmologis Hindu sejak masa lampau.
Karena itu, ketika melihat sosok kura-kura besar pada bagian dasar Padmasana, kita dapat melihatnya lebih dari sekadar sebuah ornamen.
Di balik bentuk Bhadawang Nala terdapat gambaran mengenai alam semesta, kekuatan kosmis, Dewa Wisnu, keseimbangan alam, serta perjalanan kehidupan manusia.
Pesan Filosofis Bhadawang Nala
Bhadawang Nala mengajarkan sebuah gambaran sederhana namun mendalam: kehidupan membutuhkan keseimbangan.
Alam memiliki kekuatan yang saling berhubungan. Ada unsur yang menopang, ada yang menjaga, dan ada pula kekuatan yang terus bergerak.
Dalam konteks tradisi Bali, simbol tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari alam dan keseimbangan jagat raya.
Bhadawang Nala bukan hanya simbol penyu atau kura-kura raksasa. Ia merupakan gambaran tentang kekuatan yang menopang, keseimbangan yang menjaga, dan alam semesta yang terus bergerak.
Penulis : Ngurah Ambara | InfoDewataNews
Editor Redaksi

0Komentar