![]() |
| Ilustrasi sinematik sosok Lembu Suro saat menggali sumur di kawasan Gunung Kelud, menggambarkan salah satu bagian dari legenda yang diwariskan masyarakat. Ilustrasi AI/InfoDewataNews. |
INFODEWATANEWS.COM - Gunung Kelud bukan hanya dikenal sebagai salah satu gunung api yang berada di Jawa Timur. Di balik bentang alamnya, masyarakat setempat juga mengenal sebuah cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Legenda tersebut berkisah tentang Dewi Kilisuci, Lembu Suro, serta sebuah sumpah yang dipercaya memiliki hubungan dengan bencana yang terjadi di sekitar Gunung Kelud.
Gunung Kelud sendiri berada di kawasan yang berbatasan dengan Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar. Keberadaannya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitarnya, baik dari sisi alam maupun kebudayaan.
Di balik nama Gunung Kelud, tersimpan cerita tentang cinta, sayembara, tipu daya, hingga kemarahan yang berujung pada sebuah sumpah.
Sayembara Dewi Kilisuci
Kisah bermula dari sosok Dewi Kilisuci, seorang putri kerajaan yang dikenal memiliki kecantikan dan kedudukan tinggi. Dalam cerita rakyat yang berkembang, Dewi Kilisuci disebut sebagai putri dari Kerajaan Jenggolo Manik.
Ketika tiba waktunya menentukan pasangan, Dewi Kilisuci mengadakan sebuah sayembara. Banyak tokoh datang untuk mengikuti tantangan tersebut. Salah satunya adalah Lembu Suro, sosok sakti yang dalam legenda digambarkan memiliki kepala menyerupai sapi atau kerbau.
Lembu Suro kemudian berhasil memenuhi tantangan yang diberikan. Namun, keberhasilan tersebut justru membuat Dewi Kilisuci berada dalam keadaan sulit. Ia tidak ingin menerima Lembu Suro sebagai pasangan.
Untuk menghindari pernikahan tersebut, Dewi Kilisuci kemudian memberikan sebuah syarat yang sangat berat.
Tantangan Membuat Sumur
Lembu Suro diminta membuat sebuah sumur di kawasan Gunung Kelud. Pekerjaan itu harus diselesaikan dalam satu malam, sebelum suara ayam berkokok sebagai tanda datangnya pagi.
Lembu Suro menerima tantangan tersebut. Dengan kesaktiannya, ia mulai menggali tanah dan membuat sumur sesuai permintaan Dewi Kilisuci.
Waktu terus berjalan. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, pekerjaan Lembu Suro ternyata hampir selesai sebelum batas waktu yang telah ditentukan.
Melihat hal tersebut, Dewi Kilisuci mencari cara agar Lembu Suro gagal menyelesaikan tugasnya. Ia kemudian meminta bantuan pasukannya untuk membuat suasana seolah-olah pagi telah tiba.
Suara ayam yang berkokok akhirnya terdengar. Lembu Suro mengira batas waktu telah berakhir dan pekerjaannya tidak berhasil diselesaikan sesuai persyaratan.
Namun, kisah tersebut belum berakhir.
Lembu Suro Merasa Dikhianati
Setelah mengetahui apa yang terjadi, Lembu Suro menyadari bahwa dirinya telah diperdaya. Ia merasa kecewa dan marah karena tantangan yang diberikan ternyata tidak dilakukan dengan cara yang jujur.
Dalam cerita rakyat tersebut, Lembu Suro kemudian diminta membuktikan bahwa sumur yang dibuatnya memiliki aroma harum. Tanpa mengetahui rencana yang telah disiapkan, ia masuk ke dalam sumur.
Saat berada di dalam, pasukan Dewi Kilisuci menimbun sumur tersebut. Lembu Suro akhirnya terkubur di dalamnya.
Merasa dikhianati dan berada dalam kondisi tidak berdaya, Lembu Suro kemudian mengucapkan sebuah sumpah.
Sumpah yang Melekat pada Legenda Gunung Kelud
Sumpah Lembu Suro menjadi bagian paling terkenal dari legenda Gunung Kelud. Dalam kisah yang dituturkan secara turun-temurun, ia mengucapkan sumpah yang menyebut Kediri, Tulungagung, dan Blitar.
Ungkapan yang dikenal dalam cerita tersebut adalah:
“Kediri dadi kali, Tulungagung dadi kedung, Blitar dadi latar.”
Secara sederhana, kalimat tersebut menggambarkan harapan terjadinya perubahan besar pada wilayah-wilayah tersebut, seperti menjadi sungai, danau, maupun halaman.
Sumpah itu kemudian dikaitkan dengan berbagai peristiwa bencana yang dalam kepercayaan masyarakat terjadi ketika Gunung Kelud mengalami erupsi.
Antara Legenda dan Kepercayaan Masyarakat
Kisah Dewi Kilisuci dan Lembu Suro merupakan bagian dari cerita rakyat yang berkembang dalam kebudayaan masyarakat sekitar Gunung Kelud. Cerita tersebut tidak dapat diposisikan sebagai penjelasan ilmiah mengenai aktivitas gunung api.
Gunung Kelud merupakan gunung berapi yang memiliki sejarah aktivitas vulkanik. Sementara itu, legenda Lembu Suro berada dalam ranah tradisi lisan dan kepercayaan masyarakat yang diwariskan dari masa ke masa.
Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut secara historis, legenda Gunung Kelud tetap memiliki nilai budaya. Cerita ini menjadi bagian dari identitas masyarakat sekaligus memperlihatkan bagaimana manusia pada masa lalu menjelaskan berbagai peristiwa alam melalui cerita dan simbol.
Legenda tersebut juga menyimpan pesan tentang pentingnya kejujuran, menepati janji, serta mempertimbangkan akibat dari sebuah keputusan.
Hingga kini, nama Dewi Kilisuci dan Lembu Suro masih melekat dalam cerita tentang Gunung Kelud. Di tengah kemegahan alamnya, Gunung Kelud tidak hanya menyimpan jejak aktivitas vulkanik, tetapi juga warisan cerita rakyat yang terus hidup dalam ingatan masyarakat.
Penulis: Ngurah Ambara | InfoDewataNews

0Komentar