TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Dewa Sangkara, Simbol Kesuburan dan Keharmonisan Alam dalam Ajaran Hindu Bali

👤 Ngurah Ambara | InfoDewataNews    ðŸ•’ Sabtu, Oktober 25, 2025
Gambar Utama

Ilustrasi Dewa Sangkara, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan dan kesuburan, digambarkan menaiki singa dengan pakaian kebesaran berwarna hijau. Dewa Sangkara melambangkan keharmonisan antara manusia dan alam semesta. Visual AI Ambara /InfoDewataNews 


INFODEWATANEWS.COM — Dalam ajaran Hindu di Bali, alam semesta tidak hanya dilihat sebagai lingkungan hidup, tetapi juga sebagai wujud kekuatan suci yang menjaga keseimbangan kehidupan. Salah satu manifestasi Tuhan yang sangat dihormati dalam konteks ini adalah Dewa Sangkara, Sang Penguasa tumbuh-tumbuhan dan kesuburan.

Pemujaan kepada Dewa Sangkara menjadi inti dari perayaan Tumpek Wariga atau Tumpek Uduh, sebuah hari suci yang menandai rasa syukur manusia kepada alam dan tumbuhan.

Asal-Usul dan Kedudukan Dewa Sangkara

Menurut ajaran Hindu, Dewa Sangkara adalah salah satu manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bertugas mengatur dan memelihara segala jenis tumbuh-tumbuhan di dunia. Dalam konsep kosmologi Hindu Bali, Dewa Sangkara bersthana atau berkedudukan di arah Barat Laut (Wayabhya).

Simbolnya adalah warna hijau, lambang kesuburan dan kehidupan yang terus tumbuh. Aksara sucinya adalah “SI”, yang mengandung makna spiritual tentang kekuatan hidup yang mengalir di alam semesta.

Dalam berbagai lontar seperti Sundari Gama dan Purana Bali Dwipa, disebutkan bahwa Dewa Sangkara memiliki tunggangan seekor singa dan memegang senjata angkus, simbol kendali atas kekuatan alam. Wujud Dewa Sangkara digambarkan sebagai sosok yang agung dan menenangkan, dikelilingi oleh dedaunan hijau dan bunga-bunga yang mekar — melambangkan kesuburan dan keseimbangan alam.

Dewa Sangkara dalam Konsep Dewata Nawa Sanga

Dalam konsep Dewata Nawa Sanga, yaitu sembilan manifestasi utama Tuhan yang menjaga sembilan arah mata angin alam semesta, Dewa Sangkara bersthana di arah Barat Laut dengan simbol warna hijau.

Ia dipercaya memiliki senjata angkus, dan tunggangannya seekor singa, lambang keberanian dan kekuatan dalam menjaga keseimbangan alam.

Sakti dari Dewa Sangkara adalah Dewi Rodri, yang melambangkan kesuburan bumi dan kelembutan alam, sedangkan urip-nya (energi spiritual) bernilai satu, yang berarti sumber awal dari kehidupan itu sendiri.

Dalam implementasinya, umat Hindu di Bali memuja Dewa Sangkara di tempat suci yang berada di puncak Gunung Beratan, Kabupaten Badung.

Pura ini dipercaya sebagai salah satu titik sakral tempat bersthananya kekuatan Dewa Sangkara yang menjaga kesuburan alam di Bali bagian tengah dan barat.

Ritual pemujaan di Gunung Beratan dilaksanakan dengan penuh penghormatan, memohon agar bumi tetap subur, tanaman berbuah lebat, dan kehidupan manusia tetap sejahtera.

Makna Spiritualitas Dewa Sangkara

Dewa Sangkara bukan hanya simbol kesuburan secara fisik, tetapi juga spiritual.
Beliau mengajarkan manusia untuk menjaga keharmonisan dengan alam, sebab alam adalah sumber kehidupan yang tidak boleh dieksploitasi secara berlebihan.
Dalam ajaran Tri Hita Karana, Dewa Sangkara merepresentasikan hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan (Palemahan). 

Dengan menghormati Dewa Sangkara, umat Hindu diingatkan untuk senantiasa bersyukur atas karunia bumi — dari sebatang padi hingga pepohonan besar yang memberi naungan dan udara segar.

Makna pemujaan kepada Dewa Sangkara menjadi semakin relevan di masa kini, ketika isu kerusakan lingkungan, deforestasi, dan perubahan iklim semakin mengancam keseimbangan alam.

Melalui penghormatan kepada Dewa Sangkara, umat Hindu diajak untuk kembali menanam, merawat, dan menjaga bumi sebagai bentuk dharma terhadap alam semesta.

Hubungan Dewa Sangkara dengan Tumpek Wariga

Hari raya Tumpek Wariga, yang dirayakan setiap Saniscara Kliwon Wuku Wariga atau setiap 210 hari sekali, merupakan bentuk nyata pemujaan kepada Dewa Sangkara.

Pada hari suci ini, umat Hindu menghaturkan banten berupa canang sari, bubur beras, dan bunga-bungaan kepada tumbuhan di kebun, tegalan, dan pekarangan rumah.

Prosesi dilakukan dengan penuh kasih dan disertai doa agar tanaman tumbuh subur serta memberikan hasil melimpah.
Dalam tradisi lisan Bali, sering dilantunkan sesontengan atau tembang sederhana seperti:

“Kaki..kaki..Dadong dija? Ia Jumah, Ia Ngudiang Jumah? Ia gelem kebus dingin ngetor, ngeed, ngeed, ngeed. Ngeed kaje, ngeed kelod, ngeed kangin, ngeed kauh, buin selae lemeng Galungane mangda mabuah ngeedd.”

Tradisi mengetuk batang pohon sambil mengucap doa tersebut menggambarkan kedekatan batin manusia dengan tumbuhan, seolah-olah tumbuhan adalah makhluk hidup yang bisa diajak berbicara, dirawat, dan disyukuri keberadaannya.

Inilah bentuk spiritualitas sederhana yang diwariskan leluhur Bali, di mana alam dan manusia menyatu dalam harmoni.

Simbol dan Ajaran Kehidupan

Simbol-simbol yang melekat pada Dewa Sangkara juga memiliki makna mendalam.

  • Warna hijau melambangkan kehidupan, pertumbuhan, dan keseimbangan.

  • Singa, tunggangannya, melambangkan kekuatan dan keberanian menjaga alam.

  • Senjata angkus menandakan kendali diri dan kebijaksanaan dalam mengelola sumber daya alam.

  • Aksara suci “SI” menjadi inti spiritual yang menggambarkan “sumber kehidupan” yang tak terputus.

  • Sakti Dewi Rodri melambangkan kesuburan dan kelembutan alam.

Dari simbol-simbol ini, umat Hindu diajak memahami bahwa kekuatan sejati bukanlah menguasai alam, melainkan menjalin harmoni dengan alam.

Seperti halnya Dewa Sangkara yang tidak hanya memberi kesuburan, tetapi juga menuntun manusia untuk hidup seimbang bekerja, berdoa, dan bersyukur atas hasil bumi.

Pesan Pelestarian Alam di Era Modern

Dalam konteks modern, penghormatan kepada Dewa Sangkara bisa dimaknai sebagai ajakan untuk menjaga lingkungan.

Menanam pohon, tidak membakar sampah sembarangan, menghemat air, dan menggunakan bahan alami adalah bentuk persembahan nyata kepada Dewa Sangkara.

Nilai-nilai ekologis dalam ajaran Hindu Bali seperti ini telah menjadi bagian dari budaya yang selaras dengan gerakan global pelestarian lingkungan.

Ketika umat Hindu memperingati Tumpek Wariga dan memuja Dewa Sangkara, sesungguhnya mereka juga sedang merayakan kehidupan itu sendiri — kehidupan yang tumbuh dari tanah, air, sinar matahari, dan kasih Tuhan.

Dari setiap dedaunan yang bergoyang, dari setiap buah yang matang, hadir pesan spiritual bahwa alam adalah anugerah yang harus dijaga bersama.

Melalui pemujaan kepada Dewa Sangkara, umat Hindu di Bali diajak untuk kembali menyadari hubungan suci antara manusia dan alam.

Kesuburan bukan hanya hasil dari tanah yang baik, tetapi juga dari hati yang tulus menjaga dan mensyukuri karunia Tuhan.
Dengan demikian, ajaran tentang Dewa Sangkara tidak hanya hidup dalam lontar dan upacara, tetapi juga dalam tindakan sehari-hari — menanam, merawat, dan mencintai alam semesta. 

Penulis: Ngurah Ambara
Editor: Redaksi

0Komentar

Copyright© - INFODEWATANEWS.COM . Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami