INFODEWATANEWS.COM — Tumpek Wariga merupakan salah satu hari suci penting bagi umat Hindu di Bali yang memiliki makna mendalam sebagai wujud rasa syukur dan pemuliaan terhadap alam, khususnya tumbuh-tumbuhan. Tumpek Wariga juga menjadi penanda bahwa Hari Raya Galungan akan tiba dalam 25 hari lagi, sebuah momen spiritual yang sarat makna keseimbangan dan kehidupan.
Dalam lontar Sundari Gama disebutkan:
“Wariga Saniscara Kliwon, ngaran pangunduh pujawali Sanghyang Sangkara, apan Sira amrtaken sarwaning tawuwuh.”
Artinya, pada hari Saniscara Kliwon Wuku Wariga diperingati sebagai hari pemujaan kepada Sanghyang Sangkara, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Dewa yang menghidupkan dan memelihara segala jenis tumbuh-tumbuhan.
Dewa Sangkara, Dewa Penguasa Kesuburan Alam
Pemujaan kepada Dewa Sangkara merupakan bentuk penghormatan atas karunia alam yang memberikan kehidupan, pangan, dan keseimbangan bagi umat manusia. Dalam konteks spiritual, Dewa Sangkara melambangkan kekuatan alam yang menumbuhkan, memberi makan, dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Tradisi dan Prosesi Tumpek Wariga
Dalam pelaksanaan upacara, sering pula diiringi sesontengan atau nyanyian tradisional seperti:
“Kaki... kaki... Dadong dija? Ia Jumah, Ia Ngudiang Jumah? Ia gelem kebus dingin ngetor, ngeed, ngeed, ngeed. Ngeed kaje, ngeed kelod, ngeed kangin, ngeed kauh, buin selae lemeng Galungane mangda mabuah ngeedd.
”Yang jika diterjemahkan berarti:
“Kakek, kakek, nenek ke mana? Ia di rumah, sedang apa di rumah? Ia sedang sakit panas dingin menggigil. Lebat, lebat, lebat. Lebat di utara, lebat di selatan, lebat di timur, dan lebat di barat, lagi dua puluh lima hari lagi Hari Raya Galungan supaya berbuah lebaaaatttt.”
Makna Filosofis Tumpek Wariga
Simbol Keselarasan Manusia dan Alam

0Komentar