TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Asal Mula Pura Besakih, Jejak Suci Resi Markandeya di Pulau Dawa

👤 Ngurah Ambara | InfoDewataNews    ðŸ•’ Senin, November 03, 2025
Gambar Utama

Ilustrasi Resi Markandeya saat menanam kendi berisi air suci dan Pancadatu di lereng Gunung Agung, sebagai simbol awal berdirinya Pura Besakih. Suasana spiritual dan kabut lembut di sekitar gunung melambangkan kesucian tempat ini sebagai pusat keseimbangan bhuana agung dan bhuana alit. Visual : AI Ambara /InfoDewataNews 



INFODEWATANEWS.COM, Bali — Pura Besakih dikenal sebagai pura terbesar dan paling suci di Bali. Terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, pura ini berdiri megah di lereng Gunung Agung — gunung tertinggi dan paling disucikan oleh umat Hindu di Bali. Di sinilah pusat spiritual Pulau Dewata bersemayam, tempat di mana Sang Hyang Widhi dipuja dalam segala manifestasinya.

Nama “Besakih” berasal dari bahasa Sanskerta Wasuki atau dalam bahasa Jawa Kuno Basuki, yang berarti “selamat” atau “sejahtera”. Nama ini juga berhubungan erat dengan mitologi Naga Basuki, sang penjaga keseimbangan kosmis yang diyakini melingkari Gunung Mandara dalam kisah pemutaran Mandaragiri. Dalam tradisi Bali, Naga Basuki dipercaya berstana di Gunung Agung sebagai penyeimbang kekuatan alam semesta antara bhuana agung (makrokosmos) dan bhuana alit (mikrokosmos).


Jejak Resi Markandeya Awal Peradaban Suci di Bali

Sejarah berdirinya Pura Besakih tidak terlepas dari perjalanan spiritual seorang resi agung bernama Resi Markandeya. Para ahli memperkirakan kedatangan beliau ke Bali terjadi pada abad ke-8 Masehi. Dalam lontar-lontar tua disebutkan bahwa pada masa itu, Pulau Bali dan Pulau Jawa belum terpisahkan oleh laut — keduanya masih menjadi satu daratan panjang yang disebut Pulau Dawa, artinya “pulau yang panjang”.

Resi Markandeya adalah seorang pertapa suci yang pertama kali bersemadi di Gunung Rawang di Jawa Timur, yang kini dikenal sebagai Gunung Raung. Karena kesucian rohaninya, para pengikutnya menyebut beliau sebagai Batara Giri Rawang, simbol kebijaksanaan dan pencerahan.

Sebelum menuju Bali, beliau pernah bertapa di Gunung Demulung dan kemudian di Gunung Hyang (sekarang kawasan Dieng di Jawa Tengah, yang berasal dari kata Di Hyang, artinya tempat para dewa). Di sanalah beliau menerima pawisik (wahyu) dari Hyang Widhi agar membuka hutan di Pulau Dawa dan membagikan tanah itu kepada para pengikutnya sebagai tempat kehidupan baru.

Perjalanan Pertama Kegagalan dan Pelajaran Suci

Resi Markandeya kemudian menurunkan ajaran itu dengan membawa sekitar 8.000 pengikutnya menuju Pulau Dawa untuk membuka hutan belantara. Namun, perjalanan pertama ini tidak berjalan sesuai harapan. Banyak pengikut beliau meninggal dunia akibat wabah penyakit dan serangan binatang buas.

Hal itu terjadi karena mereka belum melaksanakan upacara yadnya sebelum memulai pekerjaan besar itu.

Menyadari kekeliruannya, Resi Markandeya menghentikan perabasan hutan dan kembali ke tempat semadinya di Gunung Raung untuk melakukan pemujaan dan memohon petunjuk ilahi. Dari sinilah beliau mendapatkan pengetahuan tentang pentingnya keseimbangan antara sekala dan niskala — antara tindakan duniawi dan restu spiritual.

Perjalanan Kedua Tumbuhnya Kesucian Besakih

Pada hari yang dianggap dewasa ayu (hari baik), Resi Markandeya kembali menuju Pulau Dawa dengan membawa 4.000 pengikut, sebagian besar berasal dari Desa Age di lereng Gunung Raung. Mereka datang dengan alat pertanian lengkap dan bibit tanaman, melambangkan kehidupan baru yang selaras dengan alam.

Sebelum mulai merabas hutan, Resi Markandeya melakukan tapa yoga semadi bersama para resi dan mengadakan upacara yadnya besar. Setelah upacara selesai, mereka mulai membuka hutan dengan penuh kesucian dan keyakinan. Kali ini, semua berlangsung dengan lancar tak ada lagi wabah, tak ada gangguan dari binatang buas.

Setelah cukup banyak hutan dirabas, Resi Markandeya memutuskan untuk menghentikan pekerjaan dan mulai membagi tanah kepada para pengikutnya sebagai lahan sawah, ladang, dan tempat tinggal. Semua berlangsung damai dan selamat.

Penanaman Pancadatu, Awal Berdirinya Pura Besakih

Di tempat pertama kali perabasan hutan dilakukan, Resi Markandeya menanam kendi berisi air suci dan Pancadatu, yaitu lima jenis logam suci: emas, perak, tembaga, besi, dan perunggu, ditambah permata Mirah Adi (permata utama). Tindakan ini disertai dengan upacara suci dan pemercikan tirta.

Sejak saat itu, wilayah tersebut dikenal dengan nama Basukian, yang berarti “selamat”, sebagai penghormatan kepada Hyang Naga Basuki yang berstana di Gunung Agung. Di tempat itulah kemudian dibangun Pura Basukian, yang menjadi cikal bakal dari kompleks Pura Besakih saat ini.

Dari sinilah muncul kepercayaan bahwa siapa pun yang datang dengan hati tulus dan pikiran suci ke Pura Besakih akan mendapat perlindungan dan keselamatan dari Sang Hyang Widhi.

Warisan Abadi Sang Resi

Demikianlah kisah suci yang tertulis dalam Lontar Markandeya Purana, yang menceritakan perjalanan spiritual Resi Markandeya dan lahirnya peradaban suci di Bali. Dari ajaran beliau, umat Hindu di Bali mempelajari arti penting Yadnya, keselarasan dengan alam, dan penghormatan terhadap leluhur.

Pura Besakih kini menjadi Pura Penataran Agung pusat pemujaan tertinggi bagi umat Hindu di Bali. Setiap tahun, ribuan umat datang untuk melaksanakan upacara besar, seperti Bhatara Turun Kabeh, sebagai simbol turunnya berkah dan restu dari seluruh manifestasi dewa.

Dari perjalanan panjang sang resi, kita diingatkan bahwa kesucian tidak lahir dari kekuatan semata, melainkan dari pengabdian dan keseimbangan antara sekala dan niskala, antara alam manusia dan alam para dewa.

Penulis: Ngurah Ambara
Editor: Redaksi InfoDewataNews

🪶 Legenda Nusantara | Menyusuri kisah suci, mitologi, dan legenda penuh makna dari berbagai daerah di Nusantara. Ruang refleksi nilai budaya dan spiritual yang diwariskan turun-temurun.

0Komentar

Copyright© - INFODEWATANEWS.COM . Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami