![]() |
| Ilustrasi suasana sakral di Pura Dalem Ped, Nusa Penida menggambarkan kisah kedatangan Ida Pedanda Abiansemal dan kesaktian tiga tapel suci. Visual AI Ambara / InfoDewataNews. |
INFODEWATANEWS.COM, NUSA PENIDA – Dalam lintasan sejarah Nusa Penida, keberadaan Pura Dalem Ped memiliki kisah panjang yang penuh makna spiritual dan historis. Menurut catatan dalam buku Sejarah Nusa dan Sejarah Pura Dalem Ped karya Drs. Wayan Putera Prata, pura yang kini menjadi pusat pemujaan umat sedharma dari berbagai penjuru Bali itu pada awalnya bernama Pura Dalem Nusa. Pergantian nama menjadi Pura Dalem Ped dilakukan pada masa pemerintahan I Dewa Agung dari Puri Klungkung, setelah terjadi sebuah peristiwa sakral yang melibatkan tokoh suci Ida Pedanda Abiansemal beserta para pengikutnya.
Dalam kisah tersebut, Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan rombongan melakukan perjalanan suci atau mapeed menuju Nusa Penida. Tujuannya adalah untuk memastikan kebenaran kabar tentang keberadaan tiga buah tapel (topeng sakti) di Pura Dalem Nusa. Ketiga tapel tersebut dikenal memiliki kekuatan luar biasa, mampu menyembuhkan berbagai penyakit dan bahkan melindungi pertanian dari serangan hama yang merusak tanaman warga.
Menariknya, sebelum peristiwa itu, Ida Pedanda sempat kehilangan tiga buah tapel dari kediamannya di Abiansemal. Saat tiba di Nusa, beliau tertegun karena tapel yang ada di pura tersebut ternyata identik dengan yang sempat menghilang. Namun, bukannya mengambil kembali, Ida Pedanda justru berpesan agar masyarakat Nusa menjaga tapel-tapel itu dengan baik dan senantiasa melaksanakan upacara suci sesuai tata cara yang benar. Ia meyakini, kekuatan spiritual tapel tersebut akan melindungi masyarakat selama dijaga dengan tulus dan penuh bhakti.
Kabar kesaktian tapel-tapel di Pura Dalem Nusa kemudian menyebar ke seluruh pelosok Bali. Salah satu yang terdampak langsung adalah masyarakat Subak Sampalan, yang saat itu tengah menghadapi serangan hama seperti tikus dan walang sangit yang merusak hasil panen. Para petani lalu mengutus Kelihan Subak Sampalan untuk memohon anugerah kehadapan Ida Bhatara di Pura Dalem Nusa agar terbebas dari bencana tersebut. Permohonan itu dikabulkan, dan tak lama kemudian, hama yang menyerang tanaman di wilayah itu menghilang dengan ajaib.
Sebagai wujud rasa syukur, masyarakat Subak Sampalan kemudian menggelar upacara mapeed secara besar-besaran. Tradisi itu menjadi simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan kekuatan niskala. Gelombang kebahagiaan dan rasa syukur pun menyebar ke seluruh penjuru Nusa. Banyak subak lain yang mengikuti langkah tersebut, sehingga upacara mapeed menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual masyarakat Nusa Penida.
Melihat kesucian dan kemuliaan peristiwa tersebut, I Dewa Agung Klungkung akhirnya memutuskan untuk mengganti nama Pura Dalem Nusa menjadi Pura Dalem Ped, sebagai penghormatan atas perjalanan spiritual dan kesaktian yang menaungi pura tersebut. Sejak saat itu, nama Pura Dalem Ped melekat kuat sebagai simbol perlindungan, penyucian, dan keseimbangan antara sekala dan niskala.
Kini, Pura Dalem Ped tidak hanya menjadi tempat pemujaan bagi warga Nusa Penida, tetapi juga menjadi tujuan spiritual umat Hindu dari berbagai daerah yang memohon keselamatan, kesejahteraan, dan ketenangan batin. Setiap upacara di pura ini menggambarkan keyakinan mendalam bahwa kekuatan suci akan selalu hadir bagi mereka yang menjaga keselarasan dengan alam dan sesama makhluk ciptaan.
Editor: Redaksi InfoDewataNews

0Komentar