TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Di Balik Perayaan Galungan: Tradisi, Kesakralan, dan Penguatan Nilai Dharma

👤 Ngurah Ambara | InfoDewataNews    ðŸ•’ Kamis, November 20, 2025
Gambar Utama

Jro Mangku Ketut Sudiara berdiri didepan pelinggih rumahnya di Desa Dukuh Kubu, Karangasem, dalam suasana khusyuk perayaan Hari Raya Galungan. Rabu (19/11/25). Foto: Ambara/InfoDewataNews

INFODEWATANEWS.COM, Karangasem - Suasana Desa Dukuh Kubu, Kabupaten Karangasem, tampak lebih hidup menjelang Hari Raya Galungan. Penjor mulai berdiri, dapur keluarga ramai dengan persiapan banten, dan wangi dupa terasa hingga halaman-halaman rumah warga. Di tengah persiapan yang sarat makna ini, Jro Mangku Ketut Sudiara menegaskan bahwa Galungan bukan hanya serangkaian ritual, tetapi perjalanan spiritual untuk menguatkan dharma dalam diri setiap umat.

Saat ditemui di kediamannya, Rabu (19/11/2025), ia menjelaskan bahwa Galungan mengingatkan umat Hindu untuk kembali menata pikiran dan menyadari bahwa kebaikan selalu memiliki ruang untuk menang. Menurutnya, kebersihan lahir yang dilakukan menjelang Galungan hanyalah pintu awal menuju kebersihan batin. Membersihkan sanggah, menata banten, dan mempersiapkan bahan upacara adalah simbol kesiapan umat untuk menyambut kemenangan dharma.

“Galungan itu pengingat agar kita kembali ke jernihnya hati. Dharma selalu ada, tinggal bagaimana kita menjaganya dalam pikiran dan tindakan,” tegasnya.

Menurut Jro Mangku Ketut Sudiara, Galungan bukan sekadar hari libur atau perayaan besar; ia adalah pengingat mendalam bagi umat tentang perjalanan spiritual dalam kehidupan.

“Galungan itu simbol kemenangan dharma, tetapi bukan kemenangan yang terjadi sekali saja. Setiap hari kita berjuang melawan sifat-sifat adharma dalam diri sendiri—ketamakan, kemarahan, iri hati, dan pikiran kotor. Galungan mengingatkan kita untuk selalu menang dalam pertarungan itu,” jelasnya sembari membenarkan kain yang tergantung di pelangkiran.

Ia menjelaskan bahwa rangkaian Galungan sebenarnya sudah dimulai sejak Sugihan, Penyekeban, Penyajaan, hingga Penampahan. Semua persiapan ini memiliki filosofi yang saling menyambung. “Ketika kita menyiapkan banten, membersihkan rumah, dan mempersiapkan diri, itu semua bukan sekadar kegiatan fisik. Itu bagian dari pembersihan batin. Kalau pikiran kita tidak bersih, bagaimana kita mau menyambut kemenangan dharma?” ujarnya.

Jro Mangku menjelaskan pula bahwa berdirinya penjor di setiap rumah bukan sekadar tanda perayaan. Penjor adalah wujud rasa syukur dan harapan agar kehidupan diberkahi keseimbangan. Setiap unsur penjor memiliki makna, mulai dari janur kuning, batang bambu, hingga hasil bumi yang digantungkan.

“Penjor itu ucapan terima kasih. Kita memasangnya dengan rasa tulus agar keluarga selalu dalam lindungan dan diberi kemakmuran,” katanya.

Selain itu, Jro Mangku juga menegaskan pentingnya kebersamaan keluarga menjelang perayaan Galungan. Tradisi memasak bersama, membuat lawar, menyiapkan jajanan, hingga berkumpul sebelum sembahyang menjadi momen yang mempererat hubungan antargenerasi. Menurutnya, kekuatan sebuah keluarga sangat berpengaruh terhadap kuatnya dharma dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau keluarga rukun, dharma akan kuat di rumah itu. Galungan mengingatkan kita untuk kembali ke akar kebersamaan,” ujarnya.

Lebih jauh, Jro Mangku menuturkan bahwa persembahyangan keluarga di hari suci Galungan merupakan wujud nyata penerapan dharma dalam kehidupan sosial.

“Galungan menyatukan keluarga. Itu kesempatan untuk menjaga hubungan baik, saling membantu, dan saling mendoakan. Itulah dharma dalam kebiasaan sehari-hari,” jelasnya.

Perkembangan zaman yang serba cepat tidak jarang membuat generasi muda semakin jauh dari tradisi. Namun, Jro Mangku berharap nilai-nilai Galungan tetap hidup dan diwariskan. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana anak-anak muda memahami ruh ajaran serta memaknai setiap kegiatan upacara dengan hati yang tulus.

Menurutnya, anak-anak boleh berkembang mengikuti zaman, tetapi selama mereka masih ingat dharma, menghormati leluhur, dan menjaga perilaku yang baik, itu sudah cukup untuk mempertahankan makna Galungan.

“Anak muda sekarang pintar, tapi godaan zaman juga besar. Galungan mengajarkan mereka untuk tetap punya pegangan. Bukan berarti mereka harus meninggalkan modernitas, tapi dalam hati harus tetap ada dharma, kejujuran, tata krama, dan hormat pada leluhur. Kalau itu dijaga, Bali akan tetap kokoh,” tuturnya.

Ia juga kembali menegaskan bahwa kemenangan dharma bukan hanya upacara satu hari, melainkan keputusan yang diambil setiap hari melalui cara berbicara, berpikir, dan bertindak.

“Kemenangan dharma itu tugas seumur hidup. Setiap hari kita memilih untuk tetap berjalan di jalan kebaikan. Itulah Galungan yang sesungguhnya,” ujarnya.

Dengan makna yang begitu dalam dan menyentuh setiap aspek kehidupan—dari keluarga, sikap sehari-hari, hingga hubungan dengan alam dan leluhur—Galungan tetap menjadi fondasi spiritual masyarakat Bali. Tradisi ini terus hidup, diwariskan, dan dijaga agar dharma tetap menjadi cahaya dalam setiap langkah.

Reporter : Ngurah Ambara
Editor: Redaksi

0Komentar

Copyright© - INFODEWATANEWS.COM . Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami