INFODEWATANEWS.COM – Perayaan Galungan di Bali selalu menghadirkan suasana yang hangat, penuh warna, dan sarat makna. Jalan desa dipenuhi penjor, wangi dupa mengalun, dan keluarga berkumpul untuk menyiapkan segala kebutuhan upacara. Di balik kemeriahan itu, ada satu tradisi yang tetap menjadi inti dari kebersamaan: makanan khas Galungan seperti jaja, lawar, dan sate. Setiap hidangan tidak hanya menjadi bagian dari upacara, tetapi juga simbol rasa syukur dan keharmonisan keluarga.
Salah satu tokoh adat Desa Dukuh Kubu, Jro Mangku Ketut Sudiara, menjelaskan bahwa setiap hidangan khas Galungan mengandung nilai spiritual. Proses memasak, menurutnya, merupakan bagian dari Yadnya, bentuk bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ia menegaskan bahwa segala persiapan harus dilakukan dengan hati yang bersih karena setiap langkah memiliki makna tersendiri.
“Makanan Galungan itu bukan hanya soal rasa. Di dalamnya ada ketulusan, rasa syukur, dan niat suci,” ujarnya, Selasa (18/11/2025).
Ia menambahkan bahwa seluruh tahap persiapan—mulai dari memilih bahan, mengolah bumbu, hingga memasak—merupakan wujud penghormatan kepada leluhur dan Sang Hyang Widhi Wasa. Setiap anggota keluarga memiliki peran masing-masing, dan hal itu menjadi bagian dari nilai kebersamaan yang terus dilestarikan.
Salah satu sajian paling khas adalah jaja Bali. Jaja terdiri dari berbagai jenis kue tradisional seperti jaja begina, jaja uli, dan jaja sirat. Warnanya yang cerah serta rasanya yang manis melambangkan kebahagiaan dan harapan akan kehidupan yang harmonis. Menurut Jro Mangku Ketut Sudiara, jaja juga mengingatkan umat agar selalu menjaga pikiran tetap manis, penuh welas asih, serta jauh dari hal-hal negatif saat menyambut Galungan. Pembuatan jaja biasanya dilakukan bersama para ibu dan remaja perempuan, menciptakan suasana dapur yang hangat dan penuh canda.
Hidangan berikutnya adalah lawar, yang nyaris tidak pernah absen dalam setiap perayaan Galungan. Lawar dibuat dari campuran sayuran, kelapa, bumbu lengkap, dan daging yang dicincang halus. Terdapat berbagai variasi seperti lawar merah, lawar putih, hingga lawar nangka. Jro Mangku menjelaskan bahwa lawar memiliki simbol keseimbangan antara unsur kasar dan halus dalam diri manusia.
“Lawar itu gabungan banyak unsur. Ini mengingatkan kita bahwa hidup juga butuh keseimbangan—antara pikiran, perkataan, dan tindakan,” jelasnya.
Pembuatan lawar biasanya dikerjakan oleh para lelaki, terutama dalam memotong daging dan menyiapkan bumbu dalam jumlah besar.
Selain itu, sate juga menjadi ikon hidangan Galungan, terutama sate lilit dan sate tusuk daging babi. Aroma sate yang dibakar menjelang Penampahan menjadi momen yang paling ditunggu, terutama oleh anak-anak. Mereka sering ikut membantu melilitkan daging pada batang sereh atau tusuk bambu. Menurut Jro Mangku, proses ini turut mengajarkan rasa tanggung jawab dan kebersamaan sejak dini.
Suasana di kediaman Jro Mangku Ketut Sudiara saat persiapan Galungan tampak hidup dan penuh kehangatan. Beberapa anggota keluarga terlihat sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk membuat lawar. Di tengah aktivitas itu, Jro Mangku tetap menyempatkan diri berbagi pandangannya.
“Kami sekeluarga berkumpul bukan hanya untuk memasak, tetapi juga untuk menjaga tradisi. Ada rasa kebersamaan yang tidak bisa digantikan,” tuturnya sambil sesekali mengarahkan anggota keluarga yang sedang meracik bumbu.
Momen seperti ini, menurutnya, adalah cara paling alami untuk menanamkan makna, tata cara, serta rasa hormat kepada leluhur kepada generasi yang lebih muda.
Dalam tradisi Galungan, makanan bukan hanya sajian ritual, tetapi juga media untuk merawat hubungan antargenerasi. Melalui jaja yang manis, lawar yang kaya bumbu, hingga sate yang aromanya menggugah selera, masyarakat Bali menjaga warisan leluhur tetap hidup. Semua proses ini memperlihatkan betapa kuatnya nilai kebersamaan dan spiritualitas dalam budaya Bali, terutama menjelang hari suci Galungan.
Editor: Redaksi

0Komentar