![]() |
| Seorang wanita Bali membawa sesajen sambil berjalan di jalan desa yang dihiasi deretan penjor, menghadirkan nuansa sakral dan keindahan tradisi Galungan.Visual Ambara / InfoDewataNews |
INFODEWATANEWS.COM, Galungan selalu menjadi salah satu momen paling dinantikan di Bali. Bukan hanya karena suasananya yang meriah dengan penjor menghiasi jalan desa hingga kota, tapi juga karena makna mendalam yang dibawa oleh perayaan ini. Galungan bukan sekadar rangkaian upacara; ia adalah pengingat besar tentang kemenangan Dharma melawan Adharma—kemenangan kebaikan atas kejahatan, kebajikan atas keangkaramurkaan, dan kesadaran atas nafsu yang menyesatkan.
Secara filosofis, Galungan mengajak umat untuk menengok kembali apa yang terjadi dalam diri mereka sendiri. Dalam ajaran Hindu, Dharma bukan hanya sebuah konsep abstrak; ia hadir dalam sikap, ucapan, dan tindakan sehari-hari. Setiap orang diingatkan bahwa perjuangan melawan Adharma itu sebenarnya terjadi di dalam pikiran sendiri—melawan rasa malas, amarah, iri hati, ketakutan, maupun keinginan berlebihan yang bisa mengacaukan keseimbangan hidup.
Galungan menandai momen ketika energi spiritual diyakini naik. Pada masa inilah umat diharapkan lebih peka, lebih jernih, dan lebih mampu merasakan panggilan batin untuk memperbaiki diri. Maka dari itu, sebelum Galungan, ada sejumlah hari suci seperti Penyekeban, Penyajaan, hingga Penampahan, yang tidak hanya berisi aktivitas fisik seperti membuat banten atau memasak, tetapi juga simbol perjalanan batin: menata pikiran, mengendalikan hawa nafsu, dan membersihkan diri secara spiritual.
Makna kemenangan Dharma ini paling terlihat pada hari Penampahan, saat umat melakukan proses pembersihan baik secara ritual maupun mental. Penyembelihan hewan misalnya, sering dimaknai sebagai simbol mengalahkan sifat “hewani” dalam diri manusia—keserakahan, kekerasan, dan ego yang tidak terkendali. Barulah pada hari Galungan, umat melakukan persembahyangan sebagai tanda kemenangan batin tersebut.
Penjor yang berdiri anggun di depan setiap rumah menjadi ikon Galungan yang sarat simbol. Lengkungan penjor melambangkan gunung sebagai tempat suci para dewa. Bambu yang kokoh menyimbolkan kekuatan iman, sedangkan hasil bumi yang digantungkan menandakan rasa syukur atas berkah alam. Jadi, penjor bukan hanya dekorasi; ia adalah doa visual tentang keseimbangan hidup antara manusia, alam, dan Sang Hyang Widhi.
Galungan juga menekankan pentingnya hubungan keluarga. Kegiatan bersama dalam menyiapkan upacara menjadi cara melatih kebersamaan, gotong royong, dan saling memahami. Di tengah kehidupan modern yang sering membuat orang sibuk sendiri, momen ini menjadi pengingat bahwa Dharma juga hidup melalui hubungan yang harmonis antaranggota keluarga.
Dalam konteks kekinian, makna filosofi Galungan semakin relevan. Tantangan hidup modern—tekanan pekerjaan, persaingan, distraksi digital—bisa membuat orang terjerumus pada “Adharma” versi baru. Karena itu, Galungan hadir untuk mengingatkan bahwa kemenangan kebaikan tidak terjadi sekali saja; ia harus diperjuangkan setiap hari melalui pilihan-pilihan kecil: menjaga kejujuran, menahan diri dari hal yang merugikan orang lain, dan tetap sadar pada tujuan hidup yang lebih besar.
Dengan memahami filosofi Galungan, perayaan ini bukan hanya menjadi tradisi turun-temurun, tetapi juga sumber inspirasi tentang bagaimana hidup dengan lebih bertanggung jawab, selaras, dan penuh kesadaran. Galungan bukan hanya perayaan, tetapi pengingat bahwa Dharma selalu punya tempat untuk menang—asal kita memberi ruang dalam pikiran dan tindakan.
Editor: Redaksi

0Komentar