TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Mebanten Kuningan, Mengapa Persembahan Harus Dilakukan Sebelum Pukul 12 Siang?

👤 Ngurah Ambara | InfoDewataNews    ðŸ•’ Sabtu, November 29, 2025
Gambar Utama

Seorang wanita Bali membawa banten Kuningan yang lengkap dengan canang, bunga, buah, dan dupa. Asap dupa yang mengepul menambah suasana sakral di halaman pura, melambangkan ketulusan umat Hindu dalam menjalankan ritual mebanten Kuningan sebelum pukul 12.00 siang. Foto : AI Ambara /InfoDewataNews 


INFODEWATANEWS.COM, Bali – Hari Raya Kuningan menjadi salah satu momen paling sakral bagi umat Hindu di Bali. Di tengah rangkaian perayaan ini, salah satu ritual yang paling penting adalah mebanten Kuningan, sebuah persembahan yang dilakukan dengan hati tulus dan tepat waktu. Tradisi ini berlangsung setiap 210 hari sekali, tepat 10 hari setelah Hari Raya Galungan, dan diyakini sebagai saat para leluhur turun ke bumi untuk memberikan berkah kepada keturunannya.

Namun, pertanyaan yang kerap muncul di masyarakat adalah: mengapa mebanten Kuningan tidak boleh dilakukan lewat pukul 12.00 siang?

Menurut Jro Mangku Ketut Sudiara, para leluhur yang hadir pada Hari Raya Kuningan mulai kembali ke kahyangan setelah jam 12 siang. Ia menjelaskan, Jika persembahan diberikan tepat waktu, sebelum pukul 12, para leluhur masih berada di bumi dan dapat menerima banten dengan sempurna. Ini adalah saat suci untuk memohon berkah, keselamatan, dan kedamaian bagi keluarga.

Ritual mebanten Kuningan melibatkan beragam persembahan, mulai dari buah, bunga, hingga sajian tradisional Bali yang dikenal dengan tetandingan.

“Setiap elemen banten memiliki makna simbolis yang menghubungkan manusia dengan alam semesta dan leluhur. Ritual ini juga menunjukkan bahwa manusia senantiasa terikat dengan dunia spiritual, terutama melalui persembahan yang dilakukan pada waktu yang tepat,” ujar Jro Mangku Ketut Sudiara saat ditemui di kediamannya di Desa Dukuh Kubu, Karangasem, Kamis (27/11/2025).

Jro Mangku Ketut Sudiara menjelaskan lebih lanjut, “Dalam setiap ritual, waktu harus dihormati. Sloka ‘Kala pramana bhuta kala’ mengajarkan bahwa waktu adalah kekuatan sakral yang harus dijaga. Memberikan banten di luar waktu yang tepat bisa membuat persembahan tidak sampai ke tujuan spiritualnya.”

"Selain disiplin waktu, ketulusan hati menjadi kunci keberhasilan ritual. Persembahan yang dilakukan dengan hati bersih diyakini diterima oleh para leluhur. Menurutnya, sloka “manah suddham bhaktih” mengingatkan bahwa kemurnian pikiran dan ketulusan dalam berbakti adalah hal yang paling utama, "ujarnya. 

Ia menambahkan, “Setelah pukul 12 siang, para leluhur diyakini mulai kembali ke alam roh. Jika banten diberikan terlalu terlambat, mereka sudah meninggalkan dunia fana, dan persembahan tidak akan sampai. Sloka ‘Brahmavarta divya loka’ menegaskan bahwa roh-roh suci kembali ke alam ilahi setelah mengunjungi bumi. Oleh karena itu, menghormati waktu adalah bagian dari kesadaran spiritual.”

Pelaksanaan mebanten Kuningan sebelum pukul 12.00 juga menjadi wujud penghormatan umat Hindu terhadap leluhur. Dengan mematuhi waktu, umat menunjukkan kepatuhan terhadap tradisi yang telah diwariskan nenek moyang.

Menurutnya, “Energi alam pada pagi hingga siang hari paling murni. Sloka ‘Surya chandra graha patra’ menegaskan pentingnya harmoni antara manusia, matahari, bulan, dan alam semesta. Melakukan banten pada waktu yang tepat memperkuat hubungan spiritual dengan alam dan leluhur.”

Ritual ini juga sarat simbol, seperti tamiang, endongan, dan janur yang dihias rapi. Ia menjelaskan, setiap simbol menyimpan makna filosofis yang mendalam, memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur, dan alam semesta.

“Setiap detail banten memiliki tujuan spiritual. Tidak sekadar mempercantik persembahan, tapi untuk menyeimbangkan energi niskala dan sekala. Ini bagian dari ajaran Hindu tentang keteraturan dan keselarasan hidup,” tambahnya.

Meski sebagian umat terkadang melonggarkan aturan karena kesibukan, para tetua tetap menekankan pentingnya disiplin waktu. Menurutnya, sloka “Dharma raká¹£ati raká¹£itah” mengingatkan bahwa menjaga dharma dan tradisi adalah bagian dari menjaga keseimbangan hidup dan spiritual.

Jro Mangku Ketut Sudiara menegaskan, “Kita harus konsisten menjalankan tradisi. Ketidakpatuhan terhadap waktu tidak hanya mengurangi makna ritual, tapi juga menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap leluhur. Sloka ‘Dharmo bhavati satatam’ mengajarkan pentingnya kesetiaan dalam kewajiban.”

Ketepatan waktu juga erat kaitannya dengan karma. Ia menjelaskan, tindakan yang dilakukan sesuai aturan diyakini mendatangkan karma positif, sementara pelanggaran bisa menimbulkan karma negatif. Sloka “Karma phala prada” menegaskan bahwa setiap perbuatan akan kembali kepada pelakunya sesuai dengan tindakannya, tambahnya.

“Mebanten Kuningan bukan sekadar ritual formal. Ini mengajarkan disiplin waktu, ketulusan hati, dan kesadaran spiritual. Dengan melakukannya sebelum pukul 12 siang, umat Hindu menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan dunia spiritual, sekaligus menerima berkah dan perlindungan dari leluhur,” tutup Jro Mangku Ketut Sudiara.

Dengan memahami makna aturan waktu, umat Hindu tidak hanya menjalankan ritual secara formal, tetapi juga menegaskan hubungan batin yang harmonis dengan leluhur, alam semesta, dan Tuhan Yang Maha Esa. Ketepatan waktu menjadi simbol penghormatan, disiplin, dan ketulusan hati, sekaligus menjaga keseimbangan dunia nyata dan spiritual.

Menurutnya, tradisi ini mengajarkan bahwa setiap tindakan yang dilakukan dengan penuh kesadaran akan membawa berkah, sementara kelalaian dapat memengaruhi keseimbangan hidup. Dengan melaksanakan mebanten Kuningan dengan sepenuh hati, umat Hindu di Bali berharap memperoleh perlindungan, restu, dan kedamaian, sekaligus memastikan warisan leluhur tetap hidup dan diwariskan ke generasi mendatang.

Reporter  : Ngurah Ambara 
Editor : Redaksi InfoDewataNews 


0Komentar

Copyright© - INFODEWATANEWS.COM . Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami