TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Sejarah dan Keagungan Pura Dalem Sakenan di Pulau Serangan

👤 Ngurah Ambara | InfoDewataNews    ðŸ•’ Minggu, November 30, 2025
Gambar Utama


Pura Dalem Sakenan tempo dulu yang tampak berdiri tenang di tepi pantai Pulau Serangan. Foto ini memperlihatkan suasana alami dan kesunyian kawasan pura sebelum pembangunan modern, Foto: Sejarah Bali / InfoDewataNews


INFODEWATANEWS.COM - Pura Dalem Sakenan merupakan salah satu pura penting dan disakralkan di Bali, terletak di tepi laut selatan Pulau Serangan, Denpasar Selatan. Pura ini masuk dalam konsep Samudra Kertih, yaitu pemuliaan dan penyucian laut sebagai sumber ketenangan jagat raya. Di tempat suci ini, umat Hindu memuja Sang Hyang Sandhijaya (Tatmajuja) atau Ida Hyang Dewa Biswarna (Baruna) yang diyakini sebagai penjaga Segara Pakretih—ketenangan samudra demi keselamatan dunia. Umat meyakini bahwa pemujaan di Pura Sakenan mampu menghilangkan rintangan, menolak penyakit, serta menyucikan kala, bhuta, maupun manusia.

Pujawali atau piodalan di Pura Sakenan jatuh setiap 210 hari, tepatnya pada Sabtu Kliwon Wuku Kuningan, bertepatan dengan Hari Raya Kuningan. Rangkaian perayaan berlangsung selama tiga hari, dengan puncak upacara pada hari Minggu. Hingga kini, tradisi tersebut tetap berlangsung sebagai wujud bakti masyarakat Serangan dan umat Hindu dari berbagai daerah yang datang memohon keselamatan dan keseimbangan hidup.

Asal-usul Nama dan Jejak Sejarahnya

Menurut lontar Dwijendra Tattwa, nama Sakenan berasal dari kata sakya yang berarti “dapat langsung menyatukan pikiran”. Kata sakya memiliki keterkaitan erat dengan ajaran Siwa–Buddha dan merujuk pada nama Sakyamuni, yakni Siddharta Gautama. Lontar tersebut juga mengisahkan bahwa Dang Hyang Nirartha, saat melakukan perjalanan suci, pernah berhenti di tepi barat laut Serangan dan terpesona oleh ketenangan laut serta keasrian pantainya. Terinspirasi oleh tempat itu, beliau membangun tempat pemujaan yang kemudian dinamakan Pura Sakenan.

Secara historis, Pura Dalem Sakenan dibangun oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakretha, tokoh besar yang membawa konsep tata keagamaan dari Majapahit ke Bali. Konsep ini menjadi dasar penataan pura dan sistem desa adat di Bali yang bertahan hingga kini. Informasi mengenai masa pemerintahan ketika pura ini didirikan disebutkan dalam Prasasti Desa Sading bertahun Icaka 1172 atau 1250 M, yang mengungkap bahwa raja suami-istri Sri Masula Masuli memerintah Bali sejak Icaka 1100 (1178 M) hingga sekitar 1255 M.

Dalam catatan Denpasar Tourism, disebutkan bahwa perjalanan spiritual Dang Hyang Nirartha (setelah 1150 M) sebagai pendeta Åšiwa dan Dang Hyang Asthapaka sebagai pendeta Buddha juga memiliki peran penting dalam sejarah Pura Sakenan. Keduanya datang dari Majapahit pada masa Dalem Waturenggong berkuasa. Dang Hyang Asthapaka, yang sedang melakukan dharmayatra dari Doha, pernah singgah di Serangan dan mendirikan tempat pemujaan bernama Sakyana, yang berarti Sakyamuni. Tempat ini kemudian menyatu menjadi bagian dari Pura Sakenan. Kehadiran dua pendeta besar tersebut memperkuat identitas Pura Sakenan sebagai pusat penyatuan ajaran Siwa–Buddha di Bali.

Secara spiritual dan filosofi, Pura Dalem Sakenan termasuk dalam Sad (Sat) Kahyangan, pura-pura utama yang berkaitan dengan konsep Sad Krttiloka, yaitu pemuliaan unsur-unsur alam: hutan, kebun, ladang, laut, danau, sawah, dan bumi. Selain itu, Pura Sakenan juga menjadi Pura Dang Kahyangan, tempat pemujaan terhadap para pendeta suci (Dang Guru) yang berjasa dalam memperkuat fondasi spiritual masyarakat Bali.

Piodalan dan Tradisi yang Tetap Lestari

Pujawali di Pura Dalem Sakenan setiap Sabtu Kliwon Wuku Kuningan menjadi momen sakral yang selalu dinantikan. Selama tiga hari perayaan, umat datang untuk memohon keselamatan, kerahayuan, dan keseimbangan hidup. Pada masa lalu, perjalanan menuju pura dilakukan dengan menyeberangi laut saat air surut, sebuah tradisi penuh makna yang disebut nyakap laut. Walaupun kini akses menuju Pulau Serangan telah mudah berkat pembangunan jembatan, rasa khusyuk dan makna spiritual tetap terjaga.

Hingga saat ini, Pura Dalem Sakenan menjadi simbol penting hubungan manusia dengan alam, guru suci, dan keseimbangan semesta. Sebagai penjaga Samudra Kertih, pura ini mengingatkan masyarakat Bali bahwa laut bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga pusat kesucian yang harus dijaga kelestariannya.

Editor : Redaksi InfoDewataNews 

0Komentar

Copyright© - INFODEWATANEWS.COM . Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami