INFODEWATANEWS.COM - Melukat merupakan salah satu ritual sakral dalam tradisi Hindu Bali yang hingga kini tetap dijalankan secara turun-temurun. Ritual ini tidak hanya dimaknai sebagai pembersihan diri secara fisik, tetapi juga sebagai proses penyucian batin untuk mengembalikan keseimbangan hidup. Dalam kehidupan masyarakat Bali, melukat menjadi sarana spiritual untuk melepaskan pengaruh negatif, menenangkan pikiran, serta memperkuat hubungan antara manusia, alam, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Makna Filosofis Melukat
Secara etimologis, kata melukat berasal dari istilah "sulukat" , yang tersusun dari kata "su" yang berarti baik dan "lukat" yang bermakna penyucian. Dengan demikian, melukat dimaknai sebagai usaha manusia untuk menyucikan diri demi memperoleh kebaikan dan keharmonisan hidup. Unsur alam memegang peranan penting dalam ritual ini, khususnya air yang dipercaya mampu meluruhkan klesa atau kekotoran niskala yang melekat dalam diri manusia. Udara juga diyakini berperan dalam menjernihkan pikiran dan menenangkan batin.
Tradisi ini merupakan bagian dari Yadnya (persembahan suci), bertujuan untuk membersihkan diri dari kotoran ( mala ) yang ada di dalam tubuh ( sekala ) maupun jiwa ( niskala ).
Prosesi melukat biasanya dilaksanakan pada hari-hari baik menurut kalender agama Hindu, seperti Purnama, Tilem, dan Kajeng Kliwon. Hari-hari tersebut dipercaya memiliki energi spiritual yang kuat untuk melakukan ritual penyucian diri. Upacara melukat dipimpin oleh seorang pemangku yang memiliki pemahaman mendalam mengenai tata cara, doa, dan makna simbolik dari setiap tahapan prosesi.
Tahapan dan Tempat Prosesi Melukat
Sebelum ritual melukat dimulai, berbagai sarana upacara dipersiapkan dengan penuh kesungguhan sebagai wujud niat dan kesadaran spiritual. Sesajian seperti prascita dan bayuan disusun sebagai simbol permohonan pembersihan diri serta keseimbangan hidup. Orang yang akan melukat terlebih dahulu dimantrai oleh pemangku sebagai penyucian awal, kemudian dilanjutkan dengan penyiraman menggunakan air kelapa gading yang dipercaya mampu menetralisir pengaruh negatif. Tahapan utama berikutnya adalah pemandian di sumber air suci yang menjadi inti dari ritual melukat.
Dalam praktiknya, melukat dapat dilakukan secara pribadi maupun dipandu oleh pemangku. Peserta melukat bisa berasal dari berbagai latar belakang, baik penganut Hindu maupun wisatawan, selama tetap menghormati kesucian tempat serta mematuhi tata krama dan aturan adat yang berlaku. Prosesi melukat di Bali umumnya diawali dengan persembahyangan di pura atau pelinggih yang berada di sekitar sumber air suci. Pemohon menyiapkan sarana upacara seperti banten (sesajen), bunga, serta mengenakan pakaian adat yang sopan sebagai bentuk penghormatan.
Setelah persembahyangan, pemohon membasuh diri di bawah pancuran air suci sesuai urutan yang telah ditetapkan, karena setiap tempat melukat memiliki aturan dan tata cara tersendiri. Prosesi ini dilakukan dengan penuh ketenangan dan doa, sebagai simbol pelepasan kekotoran lahir maupun batin. Usai melukat, pemohon kembali melaksanakan persembahyangan sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah dan penyucian yang telah diterima.
Ritual melukat umumnya dilaksanakan di tempat-tempat yang memiliki sumber air suci, seperti pancuran atau mata air yang dipercaya menyimpan kekuatan spiritual. Lokasi-lokasi tersebut biasanya berada di kawasan pura atau tempat yang memiliki nilai sejarah keagamaan yang kuat. Sebelum melukat, seseorang memanjatkan doa sebagai wujud niat tulus untuk membersihkan diri dan menata kembali keseimbangan hidup.
Beberapa lokasi yang dikenal sebagai tempat melukat di Bali antara lain Pura Tirta Empul di Tampaksiring, Pura Dalem Pingit Sebatu di Tegalalang, Pura Tirta Sudamala di Bangli, serta Pura Luhur Tamba Waras di Tabanan. Selain itu, terdapat pula Pancoran Solas di Desa Guliang Kangin, Kabupaten Bangli, yang dipercaya memiliki aliran air suci dengan energi penyembuhan yang kuat.
Jenis-Jenis Upacara Melukat
Jika ditinjau dari pelaksanaan dan tujuan upacaranya, melukat memiliki beberapa jenis yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi spiritual seseorang. Secara tradisi, terdapat tujuh macam upacara melukat yang dikenal dalam ajaran Hindu Bali.
Melukat Astupungku dilakukan untuk membersihkan dan menyucikan diri dari malapetaka yang diyakini berkaitan dengan hari kelahiran serta ketidakseimbangan Tri Guna, yaitu Satwam, Rajas, dan Tamas. Ketidakharmonisan unsur tersebut dipercaya dapat memengaruhi karakter dan perjalanan hidup seseorang.
Melukat Gni Ngelayang bertujuan untuk membantu penyembuhan seseorang yang sedang dilanda penyakit, baik yang bersifat sekala maupun niskala. Ritual ini dimaknai sebagai permohonan pemulihan dan kekuatan hidup.
Melukat Gomana dilakukan sebagai bentuk penebusan atau penyeimbangan hari kelahiran atau oton yang dipengaruhi oleh wewaran dan wuku tertentu. Salah satu contohnya adalah mereka yang lahir pada wuku Wayang, yang dipercaya memerlukan ritual khusus untuk menjaga keseimbangan hidupnya.
Melukat Surya Gomana bertujuan untuk membersihkan noda dan kotoran niskala pada diri bayi, yang biasanya dilakukan pada rangkaian upacara Nelu Bulanin. Ritual ini menjadi simbol penyucian awal kehidupan manusia.
Melukat Semarabeda dilaksanakan dalam rangka upacara Pawiwahan atau perkawinan. Tujuannya adalah menyucikan Sang Kama Jaya dan Sang Kama Ratih, sebagai simbol cinta dan kesuburan, agar rumah tangga yang dibangun terhindar dari pengaruh buruk.
Melukat Prabu dilakukan dengan tujuan memohonkan keselamatan, kejayaan, serta kemakmuran bagi para pemimpin agar kelak mampu menjalankan amanah dengan bijaksana.
Sementara itu, Melukat Nawa Ratna memiliki makna yang hampir serupa dengan Melukat Prabu, yakni memohon kekuatan spiritual, kewibawaan, dan keseimbangan bagi seseorang yang memikul tanggung jawab besar dalam kehidupan sosial maupun kepemimpinan.
Secara keseluruhan, ritual melukat mencerminkan kearifan lokal Bali yang mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara raga, jiwa, dan alam semesta. Di tengah dinamika kehidupan modern, melukat tetap relevan sebagai sarana refleksi diri, penyucian batin, serta penguatan spiritual bagi masyarakat Bali.
Editor : Redaksi InfoDewataNews

0Komentar