![]() |
| Ilustrasi Lubdaka, seorang pemburu pada masa lampau yang kisahnya berkaitan dengan perayaan Hari Siwaratri. Foto Ilustrasi Al Ambara /InfoDewataNews |
INFODEWATANEWS.COM - Di balik perayaan suci Hari Siwaratri, tersimpan sebuah kisah spiritual yang sarat makna tentang penyesalan, kesadaran diri, dan pengampunan. Kisah ini dikenal luas di kalangan umat Hindu melalui tokoh bernama Lubdaka, seorang manusia biasa yang tanpa disadari justru menjalani tapa brata pada malam paling suci bagi pemuja Dewa Siwa.
Kehidupan Lubdaka Sang Pemburu
Lubdaka diceritakan sebagai kepala keluarga sederhana yang menggantungkan hidupnya dari berburu binatang di hutan. Hasil buruannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, baik untuk ditukar dengan barang lain maupun dikonsumsi bersama keluarganya. Ia dikenal sebagai sosok pekerja keras dan terampil, sehingga hampir setiap hari ia pulang membawa hasil buruan yang cukup.
Namun, pada suatu hari keberuntungan tidak berpihak kepadanya. Sejak pagi hingga sore, tak satu pun binatang berhasil ia tangkap. Kekhawatiran mulai menguasai pikirannya—bagaimana nasib keluarganya jika ia pulang dengan tangan kosong? Perasaan itu membuatnya terus melangkah semakin jauh ke dalam hutan tanpa menyadari waktu telah beranjak malam.
Malam Sunyi di Tengah Hutan
Saat hari benar-benar gelap, Lubdaka menyadari dirinya berada jauh di tengah hutan. Demi keselamatan, ia memutuskan mencari tempat berlindung. Pandangannya tertuju pada sebuah pohon bila tua yang tumbuh kokoh di tepi telaga berair tenang. Ia memanjat pohon tersebut dan bertengger di salah satu cabangnya.
Agar tidak tertidur dan terjatuh, Lubdaka memetik daun-daun bila satu per satu lalu menjatuhkannya ke bawah. Tanpa ia ketahui, di dasar telaga tersebut terdapat sebuah Lingga, simbol suci Dewa Siwa. Malam itu ternyata bertepatan dengan Malam Siwaratri, saat Dewa Siwa tengah melakukan yoga semesta.
Penyesalan yang Mengubah Takdir
Sepanjang malam, Lubdaka terjaga tanpa makan, minum, maupun tidur. Dalam keheningan malam, hatinya diliputi rasa penyesalan mendalam atas perbuatan-perbuatan buruk yang pernah ia lakukan, terutama membunuh makhluk hidup demi pekerjaannya. Di atas pohon itu, ia berjanji dalam hati untuk meninggalkan kehidupan lamanya sebagai pemburu.
Tanpa terasa, fajar pun menyingsing. Lubdaka turun dari pohon dan kembali ke rumahnya. Sejak hari itu, ia benar-benar mengubah jalan hidupnya dengan beralih profesi menjadi petani. Meski hidupnya lebih sederhana dan tubuhnya tak lagi segesit dulu, ia menjalani hari-harinya dengan penuh kesadaran dan tanpa menyakiti makhluk lain.
Perjalanan Roh Lubdaka
Bertahun-tahun kemudian, Lubdaka meninggal dunia. Rohya dikisahkan melayang di angkasa tanpa arah, hingga pasukan Cikrabala datang untuk membawanya ke kawah Candragomuka di neraka, sebagai balasan atas perbuatannya semasa hidup.
Namun sebelum itu terjadi, Dewa Siwa hadir dan menghentikan mereka. Terjadi perbincangan antara Dewa Siwa dan pasukan Cikrabala. Dewa Siwa menyatakan bahwa meskipun Lubdaka pernah melakukan dosa, ia telah melakukan tapa brata Siwaratri dengan penuh ketulusan—berjaga semalam suntuk, berpuasa, dan menyesali kesalahannya. Atas dasar itu, Lubdaka dinilai layak memperoleh pengampunan.
Akhirnya, roh Lubdaka dibawa menuju Siwa Loka, alam suci tempat bersatunya jiwa dengan keheningan dan kebijaksanaan.
Makna Hari Siwaratri
Kisah Lubdaka ini digubah oleh Mpu Tanakung, seorang pujangga besar pada masanya. Cerita tersebut menjadi landasan spiritual perayaan Hari Siwaratri, yang secara harfiah berarti “Malam Siwa”. Pada malam ini, Dewa Siwa dipercaya melakukan yoga agung untuk melebur dosa-dosa umat manusia.
Umat Hindu merayakan Siwaratri sebagai momen introspeksi diri dan permohonan ampun, dengan menjalankan tiga brata utama, yaitu:
- Mona Brata – tidak berbicara
- Jagra Brata – tidak tidur
- Upavasa Brata – tidak makan dan minum
Hari Siwaratri diperingati setahun sekali, tepatnya pada Purwani Tilem ke-7 dalam penanggalan Tahun Caka.
Kisah Lubdaka mengajarkan bahwa kesadaran dan penyesalan yang tulus memiliki kekuatan besar untuk mengubah nasib manusia. Siwaratri bukan sekadar ritual, melainkan perjalanan batin untuk menundukkan ego, menyucikan pikiran, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dari seorang pemburu biasa, Lubdaka menjadi simbol bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan meraih pengampunan. (Abr /IDN)

0Komentar