INFODEWATANEWS.COM, Badung - Semangat pelestarian nilai-nilai spiritual dan budaya kembali diwujudkan melalui karya ogoh-ogoh ST Yowana Pratyaksa, Banjar Bualu, Desa Adat Bualu, yang mengangkat tema Ragha Sanghara Bhumi. Tema ini bukan hanya kuat secara visual, tetapi juga sarat makna filosofis yang bersumber dari ajaran lontar suci umat Hindu.
Dalam unggahan di akun resmi Instagram @st.yowanapratyaksa, Ketua ST Yowana Pratyaksa, I Putu Indra Pradnya Septiana, menjelaskan secara langsung makna dari tema yang diangkat.
“Ragha Sanghara Bhumi adalah sebuah lontar yang memuat ajaran tentang pembersihan atau penyucian bumi dari segala penyakit dan bencana,” ujarnya.
Ia memaparkan bahwa istilah tersebut memiliki arti mendalam. “Ragha berarti penyakit atau gering. Sanghara berarti menarik kembali atau melebur. Bhumi berarti bumi. Jadi, Ragha Sanghara Bhumi berarti menetralisir atau melebur penyakit yang ada di bumi,” jelasnya.
Tema ini kemudian diwujudkan dalam sosok utama ogoh-ogoh yang menggambarkan Sang Hyang Kala Murtining Jagat. Sosok tersebut divisualisasikan gagah dan berwibawa, lengkap dengan sembilan senjata yang melambangkan Dewata Nawa Sanga, simbol kekuatan penjuru mata angin dalam ajaran Hindu.
Menurut Indra, konsep ini berkaitan erat dengan upacara besar umat Hindu di Bali.
“Jadi kita mengangkat tema tentang bagaimana penyucian atau menetralisir sebuah penyakit yang di mana ini dinamakan dengan Panca Walikrama atau Tawur Agung Kesanga,” ungkapnya.
Dalam lontar Widhi Sastra yang terdapat dalam ajaran Roga Sanghara Bhumi disebutkan bahwa umat Hindu Bali setiap sepuluh tahun sekali melaksanakan upacara Tawur Agung yang disebut Panca Wali Krama. Upacara tersebut digelar di Pura Besakih sebagai yadnya besar untuk menjaga keseimbangan alam semesta.
Dijelaskan pula bahwa pelaksanaan upacara tersebut merupakan sabda dan titah dari Bhatara Putranjaya atau Hyang Pasupati. Apabila upacara tidak dilaksanakan, diyakini beliau akan kembali ke Gunung Mahameru dan menyebarkan penyakit yang mematikan serta kehancuran dunia. Makna dari upacara Tawur Agung Panca Wali Krama sendiri adalah memohon pembersihan atau penyucian bumi dari segala penyakit dan bencana.
Indra menambahkan bahwa ketika upacara telah terlaksana, Hyang Pasupati diyakini turun ke bumi dalam wujud pemurtian bergelar Sang Hyang Kala Murtining Jagat.
“Perawakan yang gagah dengan bersenjatakan sembilan senjata Dewata Nawa Sanga. Dengan berkepala empat, dalam ajaran Hindu sebagai konsep ‘Catur’ yang merujuk pada ajaran-ajaran catur untuk membimbing umat mencapai kehidupan yang seimbang, harmonis atau jagadhita, beretika dan spiritual,” terangnya.
Bagian bawah ogoh-ogoh menampilkan Bedawang Nala sebagai simbol Gunung Agung. Dalam mitologi Hindu Bali, Gunung Agung dipercaya sebagai pusat spiritual dan poros keseimbangan alam Bali. Gunung suci tersebut dililit dua naga, yakni Naga Basuki dan Naga Ananta Boga, yang diyakini sebagai penjaga dan penyeimbang alam.
Menariknya, dalam struktur ogoh-ogoh tersebut juga terdapat miniatur Pura Besakih yang ditempatkan sebagai simbol utama pelaksanaan Panca Wali Krama. Miniatur ini menjadi representasi nyata bahwa penyucian bumi melalui Tawur Agung berpusat di Pura Besakih sebagai Kahyangan Jagat dan pusat spiritual umat Hindu di Bali.
Keberadaan miniatur pura tersebut memperkuat pesan bahwa karya ini tidak hanya menampilkan figur keraksasaan, tetapi juga menggambarkan keseimbangan antara kekuatan bhuta dan kekuatan suci. Unsur visual ini menyatukan simbol kosmologi, mitologi, serta ritual keagamaan dalam satu kesatuan artistik.
Dengan mengangkat Ragha Sanghara Bhumi, ST Yowana Pratyaksa tidak hanya menampilkan karya seni ogoh-ogoh yang monumental, tetapi juga menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara bhuana alit dan bhuana agung. Melalui simbolisasi ini, generasi muda Banjar Bualu menunjukkan bahwa ogoh-ogoh bukan sekadar karya estetika, melainkan media edukasi spiritual yang mengingatkan umat akan pentingnya penyucian diri dan alam demi terciptanya kehidupan yang harmonis di Bali. (Abr /IDN).

0Komentar