![]() |
| Tangkapan layar ogoh-ogoh “Sedap Malam” karya Gusman Surya dari Tampaksiring, Gianyar saat diarak pada malam pengerupukan, Rabu (18/3/2026). |
INFODEWATANEWS.COM, GIANYAR – Di tengah semarak malam pengerupukan yang identik dengan kemeriahan ogoh-ogoh, sebuah karya dari Tampaksiring, Gianyar justru tampil berbeda dan mencuri perhatian. Ogoh-ogoh bertema “Sedap Malam” karya Gusman Surya ini menghadirkan suasana yang tak biasa—sunyi, dingin, dan penuh aura mistis yang langsung terasa sejak pandangan pertama.
Secara visual, ogoh-ogoh ini memang tampak sederhana jika dibandingkan dengan karya lain yang megah dan penuh ornamen. Namun, kesederhanaan tersebut justru menjadi kekuatan utama. Sosok yang dihadirkan berupa figur anak kecil berwajah pucat, dengan rambut tipis terurai, berdiri diam sambil menggenggam bunga sedap malam di tangannya. Ekspresi wajah yang kosong namun tajam seolah menyimpan cerita yang tidak terucapkan, menciptakan kesan merinding bagi siapa saja yang melihatnya.
Detail yang dihadirkan dalam karya ini terasa sangat hidup. Permainan warna pucat pada wajah dan tubuh, dipadukan dengan pencahayaan malam yang temaram, semakin memperkuat nuansa dingin dan misterius. Tidak sedikit penonton yang mengaku merasakan aura berbeda saat berada di dekat ogoh-ogoh tersebut, seakan ada pesan yang ingin disampaikan melalui keheningan sosok yang ditampilkan.
Tema “Sedap Malam” sendiri memiliki filosofi yang cukup dalam. Bunga sedap malam dikenal sebagai bunga yang harum, terutama saat malam hari. Namun dalam konteks karya ini, makna tersebut diangkat menjadi simbol dualitas—sesuatu yang tampak indah dan menenangkan di permukaan, namun menyimpan sisi lain yang gelap dan menyeramkan. Harum yang biasanya identik dengan ketenangan, justru dihadirkan dalam suasana sunyi yang membuatnya terasa mencekam.
Lebih dari sekadar visual, ogoh-ogoh ini juga memantik interpretasi publik. Di media sosial, banyak warganet yang mengaitkan karya “Sedap Malam” ini dengan peristiwa tragis yang pernah terjadi di kawasan Jalan Sedap Malam, Denpasar. Meskipun tidak secara langsung dinyatakan sebagai representasi kejadian tersebut, kemiripan tema dan nuansa yang diangkat membuat karya ini terasa semakin dalam secara emosional.
Keterkaitan tersebut menambah dimensi baru pada ogoh-ogoh ini. Ia tidak lagi hanya menjadi bagian dari tradisi pengerupukan, tetapi juga berfungsi sebagai media refleksi sosial. Sosok anak kecil yang ditampilkan menjadi simbol ketidakadilan, kepedihan, dan luka kemanusiaan yang pernah terjadi, sekaligus pengingat akan pentingnya kepedulian terhadap sesama.
Kehadiran ogoh-ogoh “Sedap Malam” membuktikan bahwa sebuah karya tidak harus megah untuk meninggalkan kesan mendalam. Dengan konsep yang kuat, eksekusi detail yang matang, serta pesan yang menyentuh, karya ini berhasil menghadirkan pengalaman berbeda bagi masyarakat yang menyaksikannya.
Di tengah gemerlap dan riuhnya malam pengerupukan, “Sedap Malam” hadir sebagai pengingat bahwa di balik keindahan dan tradisi, selalu ada ruang untuk merenung. Sebuah karya yang tidak hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dirasakan—mengajak setiap orang memahami bahwa segala sesuatu memiliki dua sisi: yang tampak di permukaan, dan yang tersembunyi di baliknya. (Abr /IDN).

0Komentar