TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Tak Hanya untuk Manusia! Inilah Hari Spesial Saat Hewan Dihormati dan Diberi Sesaji di Bali

👤 Ngurah Ambara | InfoDewataNews    ðŸ•’ Minggu, Juli 13, 2025
Gambar Utama
Ilustrasi suasana peringatan Tumpek Kandang, umat Hindu di Bali mempersembahkan sesaji sebagai ungkapan kasih sayang dan rasa syukur kepada hewan peliharaan. — Visual AI Ambara / InfoDewataNews

INFODEWATANEWS.COM, BALI – Umat Hindu di Bali kembali memperingati hari suci Tumpek Kandang atau yang juga dikenal dengan sebutan Tumpek Uye, pada Sabtu (12/7). Hari yang jatuh setiap 210 hari sekali ini, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Uye dalam kalender Bali, memiliki makna mendalam bagi masyarakat Hindu sebagai wujud penghormatan, rasa syukur, dan kasih sayang terhadap seluruh makhluk hidup, terutama hewan peliharaan maupun ternak.

Berbeda dengan hari-hari suci lainnya yang berfokus pada pemujaan terhadap dewa atau unsur alam tertentu, Tumpek Kandang secara khusus dipersembahkan untuk memuliakan binatang. Umat Hindu percaya bahwa hewan memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena itu, pada hari Tumpek Kandang, manusia diajak untuk merenungkan kembali hubungan spiritual dengan hewan dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih serta tanggung jawab.


Makna Filosofis Tumpek Kandang

Secara filosofis, Tumpek Kandang merupakan perwujudan dari ajaran Tri Hita Karana—tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup, yakni harmoni antara manusia dengan Tuhan (parhyangan), manusia dengan sesama (pawongan), dan manusia dengan alam atau lingkungan (palemahan). Dalam konteks ini, Tumpek Kandang menitikberatkan pada aspek pawongan, yaitu hubungan harmonis antara manusia dengan makhluk hidup lainnya, termasuk hewan.

Bagi masyarakat Hindu Bali, hewan bukanlah sekadar makhluk pendamping kehidupan, tetapi juga bagian dari ciptaan Tuhan yang memiliki fungsi dan makna tersendiri. Sapi, misalnya, dianggap sebagai simbol kesucian, kesabaran, dan kekuatan. Hewan ini memiliki peranan vital dalam kehidupan masyarakat agraris Bali, baik untuk membantu membajak sawah, menyediakan susu, maupun sebagai simbol dalam berbagai upacara keagamaan.

Demikian pula ayam, babi, bebek, dan burung, semuanya memiliki peran masing-masing dalam siklus kehidupan dan ritual adat Bali. Sementara anjing dan kucing yang menjadi hewan peliharaan keluarga, dipandang sebagai sahabat manusia yang setia dan turut memberikan rasa aman serta kebahagiaan di rumah.

Tradisi dan Ritual Persembahan

Pada perayaan Tumpek Kandang, umat Hindu Bali biasanya melaksanakan upacara banten atau persembahan di kandang, halaman rumah, atau tempat hewan berada. Banten atau sesaji tersebut berisi canang sari, segehan nasi, bunga, serta perlengkapan upacara lainnya. Tujuan dari persembahan ini adalah sebagai bentuk penghormatan dan ucapan terima kasih kepada hewan atas jasa mereka dalam menopang kehidupan manusia.

Tak jarang, hewan-hewan peliharaan diberi perlakuan khusus pada hari ini. Mereka dimandikan, dihias dengan bunga atau pita, dan bahkan diberi makanan istimewa. Dalam suasana penuh kasih, umat Hindu menuntun hewan-hewan itu sambil mengucapkan doa agar mereka selalu sehat, diberkati, dan terhindar dari gangguan penyakit. Ritual sederhana ini mencerminkan rasa empati mendalam manusia terhadap makhluk yang hidup berdampingan dengan mereka setiap hari.

Selain di rumah-rumah warga, perayaan Tumpek Kandang juga sering digelar secara komunal di pura desa atau balai banjar. Pemangku atau pemimpin upacara akan memimpin doa bersama, disertai pembacaan mantra khusus untuk memohon keseimbangan alam dan perlindungan bagi semua makhluk hidup.

Refleksi Etika dan Spiritualitas

Lebih dari sekadar ritual, Tumpek Kandang sesungguhnya merupakan momentum untuk merefleksikan kembali perilaku manusia terhadap hewan. Di tengah perkembangan zaman yang sering menimbulkan eksploitasi terhadap alam dan makhluk hidup, peringatan ini menjadi pengingat bahwa manusia memiliki kewajiban moral untuk menjaga dan melindungi ciptaan Tuhan lainnya.

Spirit Tumpek Kandang mengajarkan bahwa setiap makhluk memiliki nilai kehidupan dan fungsi yang harus dihormati. Hewan bukan untuk disakiti, melainkan untuk diajak hidup berdampingan dalam keseimbangan. Dalam pandangan Hindu, semua makhluk hidup, termasuk hewan, memiliki atma atau roh yang berasal dari sumber yang sama, yakni Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Oleh sebab itu, memperlakukan hewan dengan kasih sayang berarti juga menghormati Tuhan yang bersemayam dalam setiap bentuk kehidupan.

Relevansi di Era Modern

Makna Tumpek Kandang terasa semakin relevan di masa kini. Di tengah isu perubahan iklim, penurunan populasi satwa liar, serta maraknya kekerasan terhadap hewan, ajaran ini menjadi seruan moral bagi manusia untuk lebih peduli terhadap keseimbangan ekosistem. Melalui peringatan Tumpek Kandang, umat Hindu di Bali menunjukkan kepada dunia bahwa spiritualitas tidak hanya tentang hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga tentang tanggung jawab horizontal terhadap sesama makhluk hidup.

Dengan semangat Tumpek Kandang, umat diajak untuk memperkuat rasa welas asih—cinta kasih universal—terhadap semua makhluk ciptaan Tuhan. Sebab, harmoni sejati tidak akan tercipta jika manusia hanya berbuat baik pada sesamanya namun mengabaikan kehidupan lain di bumi.

Tumpek Kandang menjadi pengingat bahwa kasih sayang sejati melampaui batas spesies. Ia adalah refleksi dari ajaran luhur Hindu yang menempatkan seluruh ciptaan Tuhan sebagai bagian dari kesatuan kosmis yang harus dijaga dengan penuh cinta, hormat, dan tanggung jawab.

(Penulis: Ngurah Ambara | Editor: Redaksi InfoDewataNews)



0Komentar

Copyright© - INFODEWATANEWS.COM . Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami