INFODEWATANEWS.COM - Dalam kisah sejarah Pura Dalem Blanjong, Desa Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan, disebutkan bahwa Legu Gondong merupakan makhluk halus yang memiliki peran penting sebagai rencang atau pengawal Ida Bhatara yang berstana di Pura Dalem Blanjong. Sosok ini bukan sekadar makhluk gaib biasa, melainkan dipercaya memiliki kekuatan niskala yang besar dan bertugas menjaga kewibawaan serta kesucian pura. Legu Gondong dikenal dengan gelar Ratu Niang Lingsir Sakti Legu Gondong, sebuah sebutan yang menandakan kedudukan spiritualnya yang tinggi.
Dalam berbagai cerita tutur masyarakat Sanur, Legu Gondong digambarkan dalam wujud yang tidak lazim dan menimbulkan rasa gentar. Ia sering digambarkan sebagai seekor nyamuk berukuran sangat besar, bahkan melebihi ukuran tubuh manusia. Dalam penggambaran lain, ia muncul sebagai sosok raksasa wanita dengan tubuh menyerupai nyamuk. Wujud ini kemudian berkembang menjadi simbol yang kuat dalam budaya visual Bali dan kerap dijadikan tema ogoh-ogoh oleh para pemuda Bali, sebagai representasi kekuatan bhuta kala dan energi niskala yang harus dikendalikan.
Legu Gondong dalam Kisah Penyalonarangan
Nama Legu Gondong juga muncul dalam kisah penyalonarangan dengan lakon “Legu Gondong”. Dalam cerita ini, Sang Legu Gondong dikisahkan turut serta membalaskan dendam seorang perempuan berkasta Brahmana bernama Rangdaning Jro Agung. Perempuan ini difitnah oleh masyarakat Desa Intaran, Sanur, telah membunuh suaminya menggunakan ilmu hitam. Fitnah tersebut membuat Rangdaning Jro Agung mengalami penderitaan batin yang mendalam.
Karena rasa takut terhadap kesaktian yang dimilikinya, masyarakat Sanur memilih menjauhi dan mengucilkannya. Tidak ada seorang pun yang berani mendekat, bahkan sekadar memberikan pembelaan. Pengucilan ini berlangsung lama dan menorehkan luka batin yang semakin dalam. Merasa terhina dan diperlakukan tidak adil, Rangdaning Jro Agung akhirnya memilih jalan tapa brata. Ia bertapa dengan penuh ketekunan di Pura Dalem Blanjong, memohon anugerah kepada Ida Bhatara agar diberi kekuatan untuk memberikan pelajaran kepada masyarakat yang telah memfitnah dan merendahkannya.
Anugerah Ida Bhatara dan Ujian bagi Masyarakat Sanur
Keteguhan hati dan kesungguhan tapa Rangdaning Jro Agung membuat Ida Bhatara di Pura Dalem Blanjong berkenan memberinya anugerah. Namun, anugerah tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk kepentingan pribadi, melainkan juga sebagai sarana menguji masyarakat Sanur. Pada masa itu, Pura Dalem Blanjong diceritakan berada dalam kondisi kurang terurus, mencerminkan kelalaian manusia dalam menjaga hubungan spiritual dengan Ida Bhatara.
Sebagai bagian dari ujian tersebut, Ida Bhatara mengutus Ratu Niang Lingsir Sakti Legu Gondong untuk mengerahkan seluruh pengikutnya. Dengan kekuatan niskala yang dimilikinya, Legu Gondong memimpin ribuan nyamuk beracun mematikan untuk menyerang wilayah Sanur. Serangan tersebut berlangsung dahsyat dan menimbulkan wabah yang merenggut banyak korban jiwa. Warga Sanur diliputi ketakutan dan penderitaan akibat serangan nyamuk yang tak mampu mereka lawan dengan cara biasa.
Berakhirnya Wabah dan Kesadaran Batin
Dalam situasi genting tersebut, Raja Kesiman, I Gusti Ngurah Kusiman, turun tangan. Dengan kebijaksanaan dan kewibawaannya, ia berhasil menyadarkan Rangdaning Jro Agung akan akibat dari amarah dan dendam yang berlarut-larut. Kesadaran batin tersebut menjadi titik balik berakhirnya wabah. Setelah Rangdaning Jro Agung tersadarkan, kekuatan niskala yang dilepaskan pun mereda, dan serangan nyamuk beracun dapat dihentikan.
Kisah Legu Gondong ini hingga kini tetap hidup dalam ingatan masyarakat Sanur sebagai cerita sakral yang sarat makna. Ia menjadi pengingat tentang bahaya fitnah, pentingnya keadilan sosial, serta kewajiban manusia menjaga keharmonisan antara sekala dan niskala, antara manusia, alam, dan Ida Bhatara yang berstana di Pura Dalem Blanjong.
Penulis : Ngurah Ambara
Editor : Redaksi InfoDewataNews

0Komentar