INFODEWATANEWS.COM - Benang tridatu yang kini dikenal luas sebagai simbol spiritual masyarakat Bali memiliki akar sejarah yang panjang dan berkaitan erat dengan dinamika politik serta kepercayaan religius pada masa lampau. Berdasarkan berbagai catatan dalam babad Bali, penggunaan gelang tridatu mulai dikenal sekitar abad ke-14 hingga ke-15, ketika Bali berada di bawah pengaruh Kerajaan Majapahit.
Pada masa tersebut, Bali diperintah oleh Dalem Waturenggong, raja Kerajaan Gelgel yang berpusat di Klungkung. Pemerintahan Dalem Waturenggong dikenal sebagai masa keemasan Bali, di mana tatanan adat, agama Hindu, dan struktur sosial mengalami penguatan yang signifikan. Dalam konteks inilah, kisah awal penggunaan gelang tridatu berkembang.
Dikisahkan dalam Babad Bali bahwa Dalem Waturenggong melakukan ekspedisi militer ke Nusa Penida sebagai upaya meneguhkan kekuasaan Kerajaan Gelgel. Untuk misi tersebut, Dalem Waturenggong mengutus Ki Patih Jelantik sebagai pemimpin pasukan. Saat itu, Nusa Penida berada di bawah kekuasaan Ki Dalem Bungkut, yang juga dikenal sebagai Dalem Nusa.
Setelah melalui pertempuran, Ki Patih Jelantik berhasil menaklukkan Dalem Nusa. Kekalahan tersebut tidak berujung pada kehancuran total, melainkan melahirkan sebuah kesepakatan antara Dalem Nusa dan Raja Gelgel. Dalam kesepakatan itu, Dalem Nusa menyerahkan seluruh wilayah kekuasaannya kepada Kerajaan Gelgel.
Namun, perjanjian tersebut tidak hanya bersifat politis. Terdapat pula kesepakatan spiritual yang berkaitan dengan peran Ratu Gede Mecaling, sosok yang dalam kepercayaan masyarakat Bali dikenal sebagai penguasa niskala di Nusa Penida. Disepakati bahwa ancangan dan rencang Ratu Gede Mecaling akan melindungi masyarakat Bali yang taat dan bhakti kepada Hyang Widhi Wasa serta menghormati leluhur. Sebaliknya, mereka yang lalai dalam kewajiban spiritual diyakini akan mendapat peringatan atau hukuman secara niskala.
Untuk membedakan masyarakat yang taat dan bhakti tersebut, ditetapkanlah penggunaan gelang benang tridatu sebagai penanda simbolis. Gelang tridatu menjadi identitas spiritual yang menunjukkan kesetiaan seseorang kepada Tuhan dan leluhur. Masyarakat yang mengenakannya diyakini berada dalam lindungan kekuatan niskala yang bersifat positif.
Sejak peristiwa itulah, penggunaan gelang tridatu menyebar luas di Bali dan diwariskan secara turun-temurun. Seiring berjalannya waktu, makna gelang tridatu tidak hanya dipahami dalam konteks sejarah, tetapi juga sebagai simbol perlindungan, anugerah, dan pengingat moral bagi kehidupan sehari-hari.
Hingga kini, benang tridatu tetap lestari dan digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat Bali. Ia menjadi penghubung antara sejarah, kepercayaan, dan praktik spiritual yang terus hidup dalam budaya Bali. Sebagai warisan leluhur, tridatu tidak hanya menyimpan nilai historis, tetapi juga menjadi cerminan kearifan lokal yang menekankan keseimbangan, bhakti, dan keharmonisan hidup. (Abr /IDN)
Editor: Redaksi InfoDewataNews

0Komentar