TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Makna Filosofis Benang Tridatu dalam Kehidupan Spiritual Masyarakat Bali

Redaksi InfoDewataNews |    ðŸ•’ Kamis, Januari 08, 2026
Gambar Utama

Gelang benang tridatu dengan warna merah, hitam, dan putih sebagai simbol Tri Murthi Brahma, Wisnu, dan  Siwa yang dimaknai masyarakat Hindu Bali sebagai lambang keseimbangan hidup, perlindungan spiritual, serta pengingat akan bhakti kepada Hyang Widhi Wasa dan leluhur. Ist/InfoDewataNews 


INFODEWATANEWS.COM – Dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali, simbol-simbol keagamaan bukan sekadar pelengkap ritual, melainkan sarana penting untuk menjaga kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Setiap simbol memiliki makna filosofis yang dalam dan berfungsi sebagai pengingat akan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Salah satu simbol yang paling mudah dijumpai namun menyimpan makna mendalam adalah benang tridatu. Benang dengan tiga warna—merah, hitam, dan putih—ini kerap dikenakan sebagai gelang, diikatkan pada bangunan, atau digunakan dalam berbagai upacara adat dan keagamaan di Bali.

Secara etimologis, kata tri berarti tiga dan datu berarti unsur atau warna. Dengan demikian, tridatu dimaknai sebagai tiga unsur utama yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam ajaran Hindu Bali, tiga warna tersebut melambangkan manifestasi Tuhan dalam konsep Tri Murthi, yaitu Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara, dan Iswara atau Siwa sebagai pelebur. Ketiga manifestasi ini diyakini sebagai perwujudan Hyang Widhi Wasa yang berperan menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam semesta.

Selain merepresentasikan Tri Murthi, tridatu juga mencerminkan konsep Tri Kona, yakni tiga tahapan kehidupan manusia: kelahiran (utpati), kehidupan (sthiti), dan kematian (pralina). Ketika seseorang mengenakan benang tridatu, ia diingatkan bahwa hidup berjalan dalam sebuah siklus yang tidak terlepas dari hukum alam dan kehendak Tuhan. Kesadaran akan siklus tersebut menjadi landasan moral agar manusia menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab, kesabaran, dan rasa syukur.

Dalam praktik keagamaan Hindu Bali, penggunaan benang tridatu tidak hanya terbatas pada manusia. Benang ini juga digunakan dalam upacara pemlaspas, yaitu upacara penyucian dan peresmian bangunan, baik rumah tinggal, tempat usaha, maupun bangunan suci. Pada prosesi pemlaspas, tridatu biasanya diikatkan atau digoreskan pada bagian bangunan seperti tiang, pintu, atau pelinggih. Tujuannya adalah untuk menetralisir energi negatif serta memberikan perlindungan simbolis agar bangunan tersebut membawa kerahayuan, keselamatan, dan keharmonisan bagi penghuninya.

Pemakaian gelang tridatu pada lengan manusia juga memiliki makna khusus. Pengikatan benang tersebut dimaknai sebagai simbol pengikatan dan perlindungan terhadap urip atau kehidupan seseorang. Tridatu melambangkan kemanunggalan Brahma, Wisnu, dan Iswara, sekaligus menyimbolkan kesatuan bayu (tenaga atau perbuatan), sabda (ucapan), dan idep (pikiran). Ketiga unsur ini diyakini sebagai fondasi utama pembentuk kesempurnaan hidup manusia.

Dari sisi spiritual, warna merah, hitam, dan putih dalam tridatu juga dikaitkan dengan aksara suci Ang, Ung, dan Mang. Ketiga aksara ini menyatu menjadi aksara Om, yang dalam ajaran Hindu dikenal sebagai suara suci dan sumber dari seluruh kehidupan. Oleh karena itu, benang tridatu dipahami sebagai pengingat agar manusia senantiasa menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam menjalani kehidupan.

Di tengah perkembangan zaman modern, benang tridatu tetap relevan sebagai simbol identitas budaya dan spiritual masyarakat Bali. Ia tidak hanya menjadi penanda religius, tetapi juga pengingat nilai-nilai keseimbangan, kesadaran diri, serta penghormatan kepada Tuhan, alam, dan leluhur. Dalam kesederhanaannya, benang tridatu mengajarkan bahwa makna hidup yang luhur dapat ditemukan melalui simbol-simbol kecil yang sarat nilai filosofi dan spiritual. (Abr/IDN)


Penulis: Ngurah Ambara
Editor: Redaksi InfoDewataNews

0Komentar

Copyright © 2025 - INFODEWATANEWS.COM . All Rights Reserved. Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami