TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Bungkak Nyuh Gading, Rahasia Penyucian Suci yang Selalu Hadir dalam Ritual Bali

Redaksi InfoDewataNews |    ðŸ•’ Selasa, Desember 16, 2025
Gambar Utama

Bungkak nyuh gading dengan tulisan aksara Bali sebagai simbol sakral yang digunakan dalam rangkaian upacara dan persembahyangan Hindu Bali. Kelapa gading ini menjadi bagian penting sarana yadnya, mencerminkan nilai spiritual, kesucian, dan kearifan tradisi Bali.F oto: Ist/ InfoDewataNews


INFODEWATANEWS.COM – Dalam tradisi Hindu Bali, setiap sarana upacara bukan sekadar pelengkap ritual, melainkan mengandung makna filosofis yang mendalam. Salah satu sarana suci yang hingga kini tetap digunakan secara konsisten adalah Bungkak Nyuh Gading, kelapa muda berwarna kuning keemasan yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual tinggi. Kehadirannya menjadi simbol penyucian, keseimbangan, dan penghubung antara manusia dengan kekuatan suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Bagi umat Hindu Bali, kelapa merupakan unsur yang hampir selalu hadir dalam setiap banten atau upakara. Bahkan, kelapa dapat dikatakan sebagai bagian utama dalam berbagai yadnya karena fungsinya yang sangat luas, mulai dari daksina, sarana penglukatan, prayascita, hingga simbolisasi Dewa-Dewa dan unsur bumi. Di antara berbagai jenis kelapa, bungkak nyuh gading menempati posisi istimewa karena nilai kesucian dan filosofinya yang luhur.

Makna Filosofis Bungkak Nyuh Gading dalam Hindu Bali

Secara filosofis, bungkak nyuh gading dimaknai sebagai simbol kekuatan suci yang mampu menyomya atau menetralisir Sad Ripu, yakni enam sifat keraksasaan dalam diri manusia seperti nafsu, amarah, keserakahan, dan kebingungan batin. Oleh karena itu, kelapa ini kerap digunakan dalam ritual penyucian diri, baik secara sekala maupun niskala.

Bungkak nyuh gading juga melambangkan kekuatan toya sukla, yaitu air suci yang membawa kemurnian dan kehidupan. Air kelapa gading dipercaya memiliki daya pembersih spiritual yang kuat, sehingga sering digunakan sebagai sarana penglukatan. Dalam makna yang lebih dalam, air tersebut disetarakan dengan Tirtha Mahamerta, tirta kehidupan yang diasosiasikan dengan kekuatan Dewa Siwa sebagai pelebur dan pemurni.

Di sisi lain, bungkak nyuh gading juga menjadi simbol atau niasa kekuatan Dewa Wisnu, yang dikenal sebagai pemelihara dan penjaga keseimbangan alam semesta. Hal inilah yang membuat bungkak nyuh gading kerap digunakan dalam ritual yang berkaitan dengan pemeliharaan keharmonisan hidup dan alam.

Peran Bungkak Nyuh Gading dalam Berbagai Upacara Yadnya

Dalam tradisi Hindu Bali, bungkak nyuh gading tidak hanya digunakan dalam satu jenis ritual, melainkan hadir dalam berbagai rangkaian Panca Yadnya sebagai sarana suci yang memiliki fungsi penyucian, penyeimbang, serta penghubung kekuatan spiritual. Keberadaannya diyakini sebagai simbol kekuatan tirtha suci sekaligus niasa kekuatan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam setiap upacara.

Pada Manusa Yadnya, bungkak nyuh gading banyak digunakan, terutama dalam banten Durmanggala pada upacara potong gigi (metatah atau mepandes). Dalam prosesi ini, bungkak nyuh gading berfungsi sebagai tempat potongan gigi sekaligus sarana melukat. Penggunaannya dimaknai sebagai upaya penyucian diri dan penetralisir sifat Sad Ripu dalam diri manusia. Secara spiritual, bungkak nyuh gading dipercaya sebagai simbol kekuatan suci Ida Bhatara Wisnu serta diyakini mengandung energi Tirtha Mahamerta atau Siwa Tirtha yang berfungsi sebagai pemurni kehidupan.

Dalam Rsi Yadnya, bungkak nyuh gading digunakan terutama pada banten prayascita. Fungsinya adalah sebagai sarana pembersihan dan penyucian sebelum atau sesudah pelaksanaan upacara yang berkaitan dengan penyucian rohani dan pelantikan sulinggih. Pada tahap ini, bungkak nyuh gading dimaknai sebagai media penetralisir kekotoran niskala agar prosesi yadnya berjalan suci dan sempurna.

Sementara itu, dalam Pitra Yadnya, khususnya pada rangkaian upacara Ngaben, bungkak nyuh gading digunakan pada banten seperti Diyus Kamaligi. Pada prosesi ini, bungkak nyuh gading berperan sebagai perantara (jalaran) untuk mengembalikan unsur Panca Mahabhuta ke asalnya. Air kelapa gading digunakan dalam adegan nganyud atau penghanyutan sarana upacara ke sungai atau laut sebagai simbol pelepasan unsur duniawi dan pemurnian roh leluhur.

Adapun dalam Dewa Yadnya, bungkak nyuh gading digunakan dalam berbagai upakara, di antaranya banten prayascita, mulang dasar bale, serta mulang dasar bangunan suci dan merajan. Pada konteks ini, bungkak nyuh gading dimaknai sebagai linggih kekuatan suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang diharapkan memberikan keharmonisan, keselamatan, dan keseimbangan spiritual pada tempat yang disucikan.

Melalui perannya dalam berbagai yadnya tersebut, bungkak nyuh gading tidak hanya menjadi sarana ritual, tetapi juga mencerminkan filosofi Hindu Bali yang menempatkan alam sebagai sumber kesucian, pemurnian, dan keseimbangan hidup.

Simbol Kosmologi, Penyembuhan, dan Pengurip Diri

Bungkak nyuh gading juga melambangkan Tri Loka, yakni Bhur Loka (alam bawah), Bwah Loka (alam tengah), dan Swah Loka (alam atas). Simbol ini menegaskan bahwa kelapa merupakan representasi kosmos yang utuh dan selaras. Dalam konteks Rsi Yadnya dan Dewa Yadnya, bungkak nyuh gading digunakan dalam banten prayascita serta ritual mulang dasar rumah, merajan, dan bangunan suci sebagai linggih kekuatan suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Selain fungsi ritual, bungkak nyuh gading juga dikenal dalam tradisi usadha Bali sebagai sarana penyembuhan spiritual. Airnya dipercaya mampu menenangkan pikiran, membantu pemulihan penyakit non-medis, serta membangkitkan pengurip diri, yakni energi kehidupan yang mengalir dalam tubuh manusia.

Melalui bungkak nyuh gading, masyarakat Bali mewariskan ajaran tentang pentingnya keseimbangan antara raga, jiwa, dan alam semesta. Di tengah arus modernisasi, keberadaan sarana suci ini tetap lestari sebagai penanda bahwa nilai spiritual dan kearifan lokal Bali masih hidup dan dijaga dengan penuh kesadaran.

Penulis: Ngurah Ambara
Editor: Redaksi InfoDewataNews

0Komentar

Copyright © 2025 - INFODEWATANEWS.COM . All Rights Reserved. Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami