![]() |
| Momen perayaan Hari Valentine yang identik dengan bunga dan cokelat sebagai simbol kasih sayang. Ilustrasi Foto : AI Ambara /InfoDewataNews |
INFODEWATANEWS.COM - Hari Valentine selalu identik dengan bunga, cokelat, dan unggahan romantis di media sosial. Setiap 14 Februari, linimasa Instagram dan TikTok langsung berubah jadi lautan kata-kata manis. Tapi di balik semua itu, muncul satu pertanyaan yang cukup menarik: cinta remaja di Hari Valentine itu benar-benar tulus atau cuma ikut tren?
Buat sebagian remaja, Valentine adalah momen spesial untuk mengungkapkan perasaan. Namun, tidak sedikit juga yang merasa “harus” punya pasangan supaya nggak kelihatan ketinggalan zaman. Di sinilah batas antara perasaan tulus dan tekanan sosial mulai terasa tipis.
Antara Perasaan Asli dan Tekanan Sosial
Remaja adalah fase di mana pencarian jati diri sedang kuat-kuatnya. Lingkungan pertemanan punya pengaruh besar, termasuk dalam urusan percintaan. Ketika teman-teman sibuk memamerkan kejutan Valentine dari pasangan, wajar kalau ada rasa iri atau takut dianggap kurang “laku”.
Tekanan sosial ini sering kali bikin seseorang menjalin hubungan bukan karena siap, tapi karena nggak mau sendirian saat Valentine. Akhirnya, hubungan dibangun di atas rasa gengsi atau sekadar status, bukan karena kesiapan emosional.
Padahal, cinta yang sehat nggak datang dari rasa takut ketinggalan. Cinta seharusnya tumbuh dari rasa nyaman, saling menghargai, dan komunikasi yang baik. Kalau motivasinya cuma biar bisa upload foto bareng dengan caption romantis, hubungan itu biasanya nggak bertahan lama.
Budaya Flexing Hadiah dan Validasi Media Sosial
Nggak bisa dipungkiri, media sosial punya peran besar dalam membentuk cara remaja memaknai Valentine. Sekarang, ukuran romantis sering kali diukur dari seberapa besar buket bunga, seberapa mahal hadiah, atau seberapa aesthetic fotonya.
Fenomena “flexing” hadiah Valentine ini tanpa sadar menciptakan standar baru. Ada yang merasa kurang dihargai kalau cuma dikasih cokelat sederhana. Ada juga yang merasa harus memberi sesuatu yang wah demi terlihat totalitas.
Padahal, makna Valentine sebenarnya bukan soal nominal hadiah. Justru perhatian kecil yang tulus sering kali lebih bermakna daripada hadiah mahal tanpa perasaan. Sayangnya, validasi dari likes dan komentar kadang lebih dicari daripada kedalaman hubungan itu sendiri.
Kalau cinta hanya dijadikan konten, lama-lama yang dikejar bukan lagi kebersamaan, tapi engagement.
Memahami Makna Cinta yang Lebih Dewasa
Valentine bisa jadi momen refleksi, bukan cuma perayaan. Remaja perlu mulai belajar bahwa cinta bukan sekadar status “in relationship”. Cinta juga bukan ajang pembuktian di depan publik.
Hubungan yang sehat butuh waktu, komitmen, dan kesiapan mental. Bukan cuma momen manis satu hari dalam setahun. Justru yang lebih penting adalah bagaimana dua orang bisa saling mendukung, tumbuh bersama, dan menghargai batasan masing-masing.
Buat yang masih single, Valentine juga bukan hari yang harus ditakuti. Nggak punya pasangan bukan berarti nggak berharga. Self-love, pertemanan, dan fokus pada pengembangan diri juga bagian dari perjalanan cinta yang nggak kalah penting.
Karena pada akhirnya, cinta yang tulus nggak butuh panggung besar untuk terlihat berarti.
Valentine memang penuh warna, tapi maknanya kembali lagi ke masing-masing individu. Apakah dirayakan dengan pasangan, teman, atau bahkan sendirian, yang terpenting adalah kejujuran dalam perasaan.
Cinta remaja seharusnya jadi proses belajar, bukan kompetisi. Nggak perlu terburu-buru hanya demi terlihat romantis di satu hari tertentu. Yang lebih penting adalah hubungan yang sehat, nyaman, dan tumbuh secara alami.
Jadi, di Hari Valentine ini, mungkin pertanyaannya bukan lagi “kamu dapet apa?”, tapi “kamu merasa apa?”. Karena cinta yang tulus selalu terasa, bahkan tanpa perlu diumbar ke mana-mana.
☕ Pecinta kopi dan senja, yang percaya bahwa cinta remaja bukan tentang seberapa romantis terlihat di media sosial, tetapi tentang ketulusan, kesiapan, dan keberanian untuk jujur pada perasaan sendiri—bahkan saat dunia sedang sibuk ikut tren.

0Komentar