![]() |
| Menolak bukan berarti menyakiti. Keberanian berkata jujur adalah bentuk menghargai diri sendiri dan perasaan orang lain. Ilustrasi Foto : Ambara /InfoDewataNews |
INFODEWATANEWS.COM - Perhatian dari seseorang memang bisa terasa menyenangkan. Namun, bagaimana jika perhatian itu berubah menjadi sesuatu yang membuat tidak nyaman? Chat terus-menerus, ajakan bertemu yang sulit ditolak, hingga sikap posesif padahal belum ada hubungan apa pun. Situasi seperti ini sering dialami remaja, tetapi banyak yang bingung bagaimana cara menolak tanpa memicu konflik.
Menolak bukan berarti jahat. Justru, menolak dengan cara yang tepat adalah bentuk menghargai diri sendiri sekaligus menghargai perasaan orang lain. Berikut lima cara yang bisa dilakukan agar tetap tegas tanpa harus menimbulkan drama.
1. Tegas Sejak Awal
Kesalahan yang sering terjadi adalah memberi respons setengah-setengah karena tidak enak hati. Padahal, sikap yang tidak tegas bisa dianggap sebagai “kode” bahwa masih ada harapan. Jika memang tidak tertarik, sampaikan dengan jelas namun tetap sopan. Kalimat sederhana seperti, “Terima kasih sudah perhatian, tapi aku belum ingin menjalin hubungan,” sudah cukup untuk menunjukkan batas.
2. Jangan Memberi Harapan Palsu
Balasan yang terlalu intens, emoji berlebihan, atau tetap menerima semua ajakan bisa membuat orang lain salah paham. Jika ingin menjaga jarak, konsistenlah. Kurangi frekuensi komunikasi dan hindari sikap yang bisa diartikan sebagai sinyal positif. Bersikap baik boleh, tetapi jangan sampai menimbulkan harapan yang tidak sesuai kenyataan.
3. Gunakan Alasan yang Jujur dan Realistis
Tidak perlu membuat cerita panjang atau alasan berlebihan. Kejujuran yang sederhana justru lebih dihargai. Misalnya, ingin fokus sekolah, belum siap berpacaran, atau memang tidak merasa cocok. Alasan yang realistis membantu lawan bicara memahami situasi tanpa merasa dipermainkan.
4. Batasi Akses Jika Perlu
Jika setelah ditolak orang tersebut tetap mengejar dan mulai mengganggu, jangan ragu untuk membatasi akses. Bisa dengan mengurangi interaksi, membatasi media sosial, bahkan memblokir jika sudah melewati batas. Kenyamanan dan rasa aman adalah prioritas. Tidak ada kewajiban untuk terus meladeni seseorang yang tidak menghargai keputusan kita.
5. Jangan Takut Dibilang “Jutek”
Banyak remaja, terutama perempuan, merasa takut dicap jutek atau sombong saat menolak. Padahal, menjaga batas bukanlah sikap buruk. Kita berhak menentukan siapa yang boleh dekat dan sejauh mana. Lebih baik dianggap tegas daripada terus berada dalam situasi yang membuat tertekan.
Menolak dengan halus bukan berarti harus mengorbankan kenyamanan sendiri. Hubungan yang sehat selalu dimulai dari rasa saling menghargai, termasuk menghargai keputusan untuk berkata tidak. Jika seseorang benar-benar dewasa, ia akan memahami penolakan tanpa perlu memaksa atau menyalahkan.
Yang terpenting, dengarkan perasaan diri sendiri. Jika sejak awal sudah merasa tidak nyaman, itu tanda bahwa ada batas yang perlu dijaga. Ingat, kamu tidak bertanggung jawab atas perasaan orang lain, tetapi kamu bertanggung jawab atas keselamatan dan kebahagiaan dirimu sendiri.
Karena pada akhirnya, perhatian yang tulus tidak akan memaksa. Dan cinta yang sehat selalu dimulai dari rasa hormat. (Abr /IDN).
🖋️ Penulis: Ngurah Ambara | InfoDewataNews
☕ Pecinta kopi dan senja, yang percaya bahwa hubungan remaja bukan soal siapa yang paling gigih mengejar atau paling romantis di media sosial, melainkan tentang keberanian menjaga batas, menghargai perasaan, dan berani berkata jujur demi kenyamanan diri sendiri.

0Komentar