TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Ogoh-ogoh “Ketug Lindu” ST Sentana Luhur Gianyar Hipnotis Warga di Pengerupukan 2026

Redaksi InfoDewataNews |    🕒 Minggu, Maret 22, 2026
Gambar Utama

Ogoh-ogoh “Ketug Lindu” karya Sekaa Teruna Sentana Luhur saat diarak pada malam Pengerupukan, Rabu (18/3/2026), di Kabupaten Gianyar. Karya ini menyita perhatian warga karena bentuknya yang unik dengan sosok raksasa duduk di atas gong serta ekspresi wajah yang dramatis. (Ist)


INFODEWATANEWS.COM, GIANYAR — Perayaan malam Pengerupukan 2026 di Kabupaten Gianyar kembali dipenuhi kemeriahan parade ogoh-ogoh yang memukau. Di antara puluhan karya yang ditampilkan, ogoh-ogoh bertajuk “Ketug Lindu” karya Sekaa Teruna (ST) Sentana Luhur sukses menjadi salah satu pusat perhatian masyarakat.

Setelah meraih apresiasi besar melalui karya “Tulak Tunggul” pada tahun sebelumnya, ST Sentana Luhur kembali menunjukkan konsistensinya dalam menghadirkan ogoh-ogoh spektakuler. Tahun ini, mereka kembali sukses “menghipnotis” penonton dengan konsep visual yang kuat sekaligus sarat makna.

Ogoh-ogoh “Ketug Lindu” ditampilkan dalam wujud sosok raksasa menyerupai manusia yang duduk bersila dengan kaki saling menyilang di atas sebuah gong raksasa. Pose tersebut menghadirkan kesan tenang sekaligus mengancam, seolah menyimpan kekuatan besar yang sedang ditahan.

Ekspresi wajahnya menjadi daya tarik utama. Senyum lebar yang menyeringai menghiasi bibir sosok tersebut, menciptakan kesan sinis dan misterius. Sementara itu, kedua matanya dibuat melotot tajam hingga tampak hampir keluar, menambah aura menyeramkan sekaligus dramatis. Perpaduan ekspresi tersebut membuat banyak penonton merasakan sensasi seolah sedang diawasi oleh makhluk hidup.

Detail anatomi tubuhnya juga digarap dengan sangat teliti. Otot-otot yang menonjol, struktur tulang, hingga tekstur kulit yang kasar memberikan kesan realistis dan hidup, terutama ketika terkena sorot lampu di malam hari. Tidak sedikit warga yang berhenti lama hanya untuk mengamati setiap detail karya tersebut.

Keunikan lainnya terletak pada penggunaan elemen gong sebagai tempat duduk sosok raksasa. Gong yang identik dengan suara bergema dipilih sebagai simbol kekuatan getaran atau gemuruh yang menjadi inti makna “Ketug Lindu”.

Dalam tradisi Bali, istilah “ketug lindu” merujuk pada bunyi gemuruh atau getaran yang sering dimaknai sebagai pertanda akan datangnya peristiwa besar, seperti gempa bumi atau perubahan alam. Konsep ini menggambarkan bahwa alam seolah memberikan peringatan ketika keseimbangan mulai terganggu.

Melalui visual raksasa yang duduk di atas gong, ogoh-ogoh ini menyiratkan pesan tentang pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan nilai spiritual. Ketika hubungan tersebut tidak selaras, diyakini akan muncul teguran alam sebagai pengingat bagi manusia.

Antusiasme masyarakat saat malam Pengerupukan, Rabu (18/3/2026), tampak sangat besar. Sepanjang rute pengarakan, warga berjubel memadati sisi jalan untuk menyaksikan langsung kemunculan ogoh-ogoh tersebut. Sorotan kamera dan ponsel terlihat hampir di setiap sudut, saling berebut mengabadikan penampilan “Ketug Lindu” yang dinilai unik dan memukau. Banyak penonton bahkan rela berdesakan demi mendapatkan sudut terbaik untuk merekam momen langka tersebut.

Kepopulerannya juga merambah dunia maya. Foto dan video ogoh-ogoh ini cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan menuai beragam pujian. Warganet menilai karya ST Sentana Luhur tidak hanya unggul secara visual, tetapi juga memiliki konsep yang kuat dan berbeda.

Keberhasilan ini semakin mempertegas posisi ST Sentana Luhur sebagai sekaa teruna kreatif yang konsisten menghasilkan ogoh-ogoh berkualitas dari tahun ke tahun. Dari “Tulak Tunggul” hingga “Ketug Lindu”, mereka menunjukkan bahwa tradisi dapat terus berkembang melalui inovasi tanpa kehilangan nilai filosofisnya.

Bagi masyarakat Bali, ogoh-ogoh bukan sekadar tontonan menjelang Nyepi, melainkan simbol pembersihan diri dari energi negatif serta refleksi hubungan manusia dengan alam semesta. Karena itu, karya yang memiliki pesan mendalam seperti “Ketug Lindu” kerap meninggalkan kesan kuat bagi penontonnya.

Dengan konsep unik, ekspresi visual yang kuat, serta filosofi yang relevan dengan kehidupan modern, “Ketug Lindu” menjadi bukti bahwa kreativitas generasi muda Bali tetap mampu menjaga tradisi sekaligus menghadirkan perspektif baru. Sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak masyarakat untuk merenung di balik gemuruh perayaan Pengerupukan. (Abr /IDN). 


0Komentar

Copyright © 2025 - INFODEWATANEWS.COM . All Rights Reserved. Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami