TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Ogoh-Ogoh “Tugu Mayang” Karya ST Pandawa Ubud Viral, Terinspirasi Filosofi Catus Pata

Redaksi InfoDewataNews |    🕒 Sabtu, Maret 21, 2026
Gambar Utama

Ogoh-ogoh “Tugu Mayang” karya ST Pandawa, Banjar Tarukan Mas, Ubud, Gianyar. Karya monumental ini menampilkan empat figur bertumpuk yang saling menopang dengan filosofi catus pata, melambangkan keseimbangan, kebersamaan, serta harmoni kehidupan. (Ist/IDN)

INFODEWATANEWS, Gianyar - Media sosial tengah diramaikan oleh kemunculan ogoh-ogoh bertajuk “Tugu Mayang”, karya Sekaa Teruna (ST) Pandawa, Banjar Tarukan Mas, Ubud, Gianyar. Karya inovatif ini langsung mencuri perhatian publik karena konsepnya yang unik, monumental, sekaligus sarat makna filosofis yang mendalam.

“Tugu Mayang” mengusung konsep tugu persimpangan atau catus pata, yakni titik pertemuan empat arah mata angin yang dalam kosmologi Bali melambangkan pusat keseimbangan energi alam semesta. Konsep ini diwujudkan dalam bentuk ogoh-ogoh menyerupai monumen vertikal yang kokoh dan menjulang tinggi, seolah menjadi penyangga harmoni dunia.

Keunikan utama karya ini terletak pada komposisinya yang menghadirkan empat karakter yang saling bertumpuk dan saling menopang. Masing-masing figur memiliki keterbatasan berbeda, namun justru membentuk kesatuan yang utuh ketika bersatu.

Pada bagian paling bawah terdapat karakter berbentuk batu, melambangkan fondasi atau tugu itu sendiri—simbol kekuatan, keteguhan, dan stabilitas. Di atasnya berdiri figur yang mampu berjalan namun tidak dapat melihat. Karakter buta ini kemudian memikul figur besar di bagian tengah yang memiliki kemampuan melihat, tetapi tidak dapat berjalan. Sementara figur paling atas digambarkan tidak dapat melihat dan tidak mampu berjalan, namun memiliki kemampuan mendengar.

Susunan tersebut menciptakan metafora yang kuat tentang ketergantungan dan kebersamaan. Keempat figur dengan keterbatasan masing-masing saling melengkapi, sehingga secara kolektif mampu bergerak, melihat, dan mendengar sebagai satu kesatuan. Filosofi ini menyiratkan pesan bahwa keseimbangan hidup hanya dapat tercapai melalui kerja sama dan saling menopang antar unsur yang berbeda.

Saat diarak pada malam Pengerupukan, bentuknya yang menjulang tinggi menghadirkan visual dramatis sekaligus aura mistis yang kuat. Paduan pencahayaan, gerakan dinamis para pengusung, serta iringan gamelan Bali menciptakan suasana teatrikal yang memukau ribuan penonton.

Keunikan visual “Tugu Mayang” juga membuat banyak warganet menilai karya ini memiliki kemiripan filosofis dengan ogoh-ogoh legendaris “Tulak Tunggul”, sehingga membangkitkan nostalgia di kalangan pecinta ogoh-ogoh. Namun, ST Pandawa berhasil menghadirkan interpretasi baru yang lebih kontemporer tanpa meninggalkan akar tradisi.

Dari sisi teknis, ogoh-ogoh ini menampilkan detail anatomi yang realistis dengan proporsi tubuh yang presisi. Ekspresi karakter yang kuat, tekstur yang hidup, serta komposisi artistik yang matang menghadirkan kesan seolah figur-figur tersebut benar-benar bernapas. Banyak penonton merasakan aura metaksu yang kuat, mencerminkan kesungguhan dan ketulusan proses kreatif para pembuatnya.

Prestasi gemilang pun diraih karya ini dengan menyabet Juara I lomba ogoh-ogoh tingkat Kecamatan Ubud, sebuah pencapaian yang menegaskan kualitas konsep maupun pengerjaannya. Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa generasi muda Bali mampu mengolah nilai filosofis, ruang sakral, dan seni rupa tradisional menjadi karya monumental yang relevan dengan zaman.

Lebih dari sekadar tontonan, “Tugu Mayang” menjadi simbol penting tentang makna kebersamaan dalam kehidupan masyarakat. Filosofi empat figur yang saling menopang mengingatkan bahwa tidak ada individu yang sepenuhnya sempurna—namun melalui persatuan, keterbatasan dapat berubah menjadi kekuatan.

Antusiasme masyarakat yang tinggi, baik saat pawai maupun di media sosial, menunjukkan bahwa karya ini telah melampaui fungsi hiburan semata. “Tugu Mayang” hadir sebagai ruang refleksi sekaligus kebanggaan budaya, memperkuat posisi malam Pengerupukan sebagai ajang ekspresi seni, spiritualitas, dan identitas Bali.

Dengan konsep monumental, makna filosofis yang kuat, serta eksekusi artistik yang matang, ogoh-ogoh “Tugu Mayang” karya ST Pandawa Banjar Tarukan Mas dipastikan akan dikenang sebagai salah satu karya paling ikonik dalam perayaan Pengerupukan di Ubud tahun ini — tidak hanya spektakuler secara visual, tetapi juga mendalam secara makna. (Abr /IDN). 


0Komentar

Copyright © 2025 - INFODEWATANEWS.COM . All Rights Reserved. Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami